Republiknews.co.id

2025, Program High Impact OJK Sulselbar Fokus Budidaya Pisang Cavendish dan Kakao

Kepala OJK Sulselbar Darwisman. (Dok: Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) di 2025 mendatang akan memfokuskan budidaya pisang cavendish dan pengembangan ekosistem kakao.

Pengembangan ini akan menjadi fokus utama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dalam program High Impact.

“Budidaya pisang cavendish akan terus dilanjutkan, termasuk juga program pengembangan ekosistem kakao yang akan terus kita lanjutkan di tahun depan. Kami akan terus mendorong program-program high impact yang dinilai dapat meningkatkan perekonomian di Sulawesi Selatan,” terang Kepala OJK Sulselbar Darwisman, dalam keterangannya, Jumat, (27/12/2024).

Apalagi program yang digagas melalui TPAKD ini tujuannya untuk memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Darwisman, pengembangan ekosistem budidaya pisang cavendish terus dilanjutkan di tahun mendatang sebab terjadi peningkatan skala. Baik dari segi penambahan off-taker, sebaran lokasi atau daerah budidaya, jumlah industri jasa keuangan (IJK), jumlah petani, hingga luas lahannya.

“Bahkan sejak dicanangkan pada 2023 kita terus melakukan scale-up mulai dari penambahan off-taker, sebaran lokasi budidaya juga bertambah, termasuk lahannya,” katanya.

Ia menyebutkan, di periode 2025 luas lahan yang akan dimanfaatkan dalam budidaya pisang cavendish ini seluas 2.433 hektare (Ha) dari 49,5 Ha di 2024. Makin luasnya lahan budidaya pisang cavendish tersebut tentunya turut mempengaruhi peningkatan petani pada komoditas tersebut.

“Harapannya dengan luas lahan yang bertambah maka jumlah petaninya juga meningkat dari 25 petani saat ini (2024) menjadi 2.433 petani di 2025,” lanjutnya.

Peningkatan skala ekosistem budidaya pisang cavendish ini juga tentunya hingga ke daerah. Dimana, pada 2024 ada 5 kabupaten dan kota yang mengembangkan budidaya pisang cavendish, sementara di 2025 akan menyentuh 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Antara lain, Kabupaten Pinrang, Luwu Utara, Soppeng, Maros, Pangkep, Takalar, dan Luwu Utara. Kemudian, Kabupaten Luwu, Enrekang, Sidrap, Wajo, Bone, Gowo, Jeneponto, dan Kota Parepare.

“Peningkatan juga terjadi pada off-taker nya yang awalnya hanya PT CAP, sekarang juga ada ke PT NSA. Begitu juga jumlah IJK-nya yang terus bertambah,” ungkap Darwisman.

Lanjutnya, secara besaran (potensi) luas lahan budidaya pisang cavendish ini ada di Luwu Utara dengan luas 460 Ha, Kabupaten Maros dengan 299 Ha luas lahan, kemudian 278 Ha lahan potensial di Kabupaten Bone, serta 261 Ha di Kabupaten Gowa.

“Kemudian ada 200 Ha lahan potensial di Kabupaten Pinrang dan Takalar, serta 100 Ha lahan di Luwu Timur,” jelasnya.

Menurutnya, terjadinya pengembangan ekosistem pada budidaya pisang cavendish ini juga tentunya akan berdampak pada peningkatan jumlah kreditnya. Seperti di periode 2024 kreditnya mencapai Rp4,95 miliar, maka di 2025 tembus Rp237,28 miliar.

Sementara, untuk potensi pengembangan kakao dengan melihat luas lahan perkebunan kakao di Sulawesi yang cukup besar. Secara data produksi kakao nasional sebesar 642 ribu ton. Dengan kontribusi dari wilayah Sulampua 64,86 persen, Sumatera 25,77 persen, Bali 4,43 persen, Jawa 4,07 persen, dan Kalimantan sebesar 0,87 persen.

Kemudian, jika dilihat dalam luas lahan terbesar ada di Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan 274 hektare (Ha), mengikuti Sulawesi Utara (Sultra) sebesar 225 Ha, Sulawesi Selatan (Sulsel) 176 Ha, dan Sulawesi Barat (Sulbar) 142 Ha. Sedangkan, pada produksi kakao terbesar secara wilayah berada di Sulawesi. Meliputi, Sulteng dengan produksi 130,80 ton atau 31,42 persen, Sultra 107,80 ton atau 25,89 persen, Sulsel dengan produksi 82,50 ton atau 19,82 persen, dan Sulbar 66,20 ribu ton atau 15,90 persen.

Adapun untuk jumlah petani kakao di Sulampua sebanyak 780.662 orang atau 44,02 persen kontribusinya terhadap petani kakao secara nasional. Kemudian, untuk jumlah debitur baru mencapai 76.636 ribu atau 9,82 persen terhadap petani di Sulampua.

“Nilainya belum 10 persen, sehingga dengan klasifikasi sekitar 780 ribu petani kakao ini ternyata baru 63 persen mature, 24 persen damage, dan 13 persen imature dari klasifikasi lahan kakao,” terang Darwisman.

Exit mobile version