Lusia Palulungan, SH., M. Hum : Pejuang Perempuan , Yang Tetap Keibuan

0
Lusia Palulungan, SH., M. Hum


REPUBLIKNEWS.CO.ID,MAKASSAR, Menjadi seorang perempuan yang berkarier sekaligus seorang ibu bagi anak-anak dan istri bagi suami tidaklah mudah. Banyak tantangan dan cobaan yang harus dihadapi, sehingga tidak banyak perempuan yang kemudian harus memilih, berkarier atau menjadi ibu rumah tangga.

Tidak mudah memang menjalan dua peran ganda ini, namun bukan berarti tidak ada yang sukses menjalaninya. Karena banyak juga kaum perempuan yang bersinar dalam karier dan sukses menjadi ibu idaman dalam keluarganya.
Sosok Lusia Palulungan, SH., M. Hum,adalah diantaranya,yang sukses menapak karier sekaligus seorang ibu. Perempuan yang lahir 30 November 1971, silam ini adalah salah satu aktivis perempuan yang sepak terjangnya dalam membela hak-hak perempuan,anak dan mau marginal tidak diragukan lagi.


Sebagai Advokat dan Konsultan Kebijakan Publik tidaklah mudah untuk membagi waktu,antara pekerjaan dengan keluarga. Menurutnya berbagi peran dan tugas dalam keluarga adalah salah satu kunci dalam membina keluarga harmonis.
” selain pembagian peran dalam keluarga oleh semua anggota keluarga, saya sendiri juga mengatur berbagai agenda setiap hari,” ujarnya Selasa (22/12/2020)
Alumni Fakultas Hukum Unhas ini, bercerita jika setiap malam, sebelum tidur dan setelah semua urusan domestik selesai, dia sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dan yang kan dibawa pada keesokan harinya.


“Misalnya, pakaian dan sepatu yang akan dipakai, berkat atau laptop yang akan dibawa, dst. Begitu pula dengan anak-anak, saya membiasakan mereka juga melakukan hal yang sama dengan mempersiapkan buku, tas, pakaian dll yang akan dibawa dan digunakan besoknya,”tuturnya.
Mantan pengurus KNPI sulsel ini, mengakui tidak mudah menjalani kedua peran tersebut, karena memiliki beban tanggungjawab moral yang sama. Meski demikian dia tetap menjalaninya dengan sepenuh hati,sehingga bisa dinikmati baik sebagai seorang ibu maupun sebagai wanita karier.


“Memaknai Hari Ibu, secara pribadi, tidak ada yang terlalu istimewa. Namun cukup menikmatinya dengan melihat banyak ucapan dan apresiasi terhadap perempuan perempuan sebagai ibu. Secara serentak seluruh Indonesia, semua orang mengingat dan mengapresiasi peran perempuan sebagai ibu. Setelah itu selesai dan kembali seperti biasa” jelasnya terkait dengan makna hari ibu yang selalu diperingati setiap tanggal 22 Desember.


Ibu yang tetap cantik ini mengungkapkan
perayaan-perayaan pada hari ibu, umumnya bertemakan peran perempuan sebagai ibu misalnya mengenakan kebaya, kontes kecantikan dan sebagainya.
Tapi menurut mantan pengurus GMKI sulsel menegaskan tidak banyak orang bahkan perempuan yang tahu dan memahami, esensi ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai hari ini.
“Dimana sebenarnya, tanggal tersebut adalah awal dimulainya tonggak sejarah perjuangan perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender, pencegahan perkawinan anak dan kawin paksa, poligami, kekerasan terhadap perempuan dan perjuangan perlindungan hak-hak Perempuan lainnya,”tegasnya. Karenanya dia berharap hari ibu tidak sebatas seremonial tanpa ada aksi nyata dalam memperjuangkan kesetaraan gender itu sendiri.
Dia menegaskan jika saat ini masih kaum perempuan yang tertindas dan tertekan karena berbagai faktor. Termasuk intimidasi atau kekerasan lainnya.


Lusi mencontohkan sebagai perempuan yang aktif dalam melakukan advokasi terhadap masyarakat termarjinalkan sering mendapat ancaman,teror bahkan intimidasi.
“Sudah sering mendapatkan ancaman dan intimidasi dari pelaku (suami) dari korban yang melapor saat di LBH P2i maupun LBH APIK Makassar. Dan yang mengharukan adalah ketika kasus selesai, korban datang menyampaikan rasa terimakasih,” ujarnya.


Sedang pengalaman yang sangat berkesan selama aktif dalam memberikan bantuan hukum kepada perempuan, anak dan masyarakat miskin adalah pernah diperiksa dan ditahan pihak kepolisian karena melakukan evakuasi terhadap salah seorang petani yang tertembak dalam kasus Petani melawan salah satu perusahaan perkebunan di Sulsel.

Tinggalkan Balasan