REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Akhir tahun ini uang muka atau down payment (DP) kendaraan dan properti diprediksi akan turun yakni kisaran 10 persen.
Ini menyusul kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia hingga tiga kali, sebesar 75 bps. Kini berada di level 5,25 persen.
Tentu saja kondisi ini dipastikan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Namun disisi lain, juga dapat memicu tingginya kredit macet atau noan performing loan (NPL).
Kepala Astra International-Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Cabang Makassar, Dodik Priambodo mengatakan, penurunan uang muka yang rencananya akan turun pada akhir tahun ini dapat dilihat dari dua sisi.
“Disatu sisi uang muka itu nilai investasi dari costumer yang harus costumer keluarkan itu berkurang, namun disisi lain pembayaran angsuran perbulannya juga sudah pasti akan bertambah,” ujar Dodik kemarin.
Apalagi, kata dia, disamping penurunan suku bunga, ada juga wacana kenaikan suku bunga kredit. Dua hal yang sifatnya kontradiktif.
“Kalau saya lebih pilih DP nya ngga usah turun tapi gimana caranya kita formulasikan seolah-olah DP nya terjangkau angsurannya pun juga terjangkau,” katanya.
Menurutnya, DP rendah sifatnya tidak long term. Ada batas maksimum perusahaan pembiayaan yang bisa di cover terhadap DP rendah.
Sementara itu, pakar ekonomi Madjid Sallatu mengatakan, kedua sektor ini memiliki sifat dasar yang berbeda dalam memutar roda perekonomian. Kredit kendaraan bermotor sepenuhnya konsumtif.
Sejauh ini, kata Madjid, kendaraan bermotor (baik roda dua maupun empat) memiliki peminat yang tinggi. Karena kata dia, juga telah menjadi lahan usaha layanan angkutan online, bahkan cenderung over demand.
Lanjut dia, jika suku bunga acuan yang turun menyentuh juga komoditas ini dalam skim kredit, permintaan akan terdorong meningkat. Maka katanya, ia khawatir, meski murah namun akan membuat pembayaran menjadi macet.
“Semoga tidak, tapi bisa diduga kuat akan terjadi seperti itu. Bila terjadi, maka permintaan yang berlebih itu akan kontra produktif akibatnya pada perekonomian. Kendaraan bermotor bekas akan membanjiri pasar dengan harga yang lebih murah lagi,” terangnya.
Tetapi itu berarti, terjadi economic lost dalam artian nilai. Hal ini akan ditanggung bersama baik oleh penjual maupun oleh pembeli.
“Saya kira perbankan akan sangat hati-hati menghadapi perputaran ekonomi dari kendaraan bermotor,” kuncinya. (Asm)
