REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Penyelenggaran Anging Mammiri Business Fair (AMBF) X South Sulawesi Investment Forum (SSIF) 2025 berhasil meningkatkan nilai ekspor produk unggulan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal hingga memperluas potensi investasi daerah.
Hal ini sejalan dengan tujuan utama pertemuan tahunan yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Dimana menjadi ruang dalam memfasilitasi pelaku UMKM lokal dengan para buyer dari berbagai negara agar tembus ke pasar global, serta menjembatani daerah yang memiliki potensi sebagai wilayah investasi baru.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Wahyu Purnama A mengatakan, pelaksanaan AMBF dan SSIF tahun ini mengalami peningkatan antusiasme dari UMKM di Sulawesi Selatan untuk berkonsultasi dengan para buyer. Dari sisi perdagangan, forum ini berhasil membukukan komitmen ekspor senilai USD 12 juta atau sekitar Rp228 miliar.
“Nilai komitmen ekspor dari pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini mengalami peningkatan 110 persen jika dibandingkan capaian tahun lalu yang tercatat sebesar Rp98,78 miliar,” katanya, di sela-sela Penutupan AMBF-SSIF 2025, di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, kemarin.
Lanjutnya, dalam forum tersebut sebanyak 18 UMKM unggulan berhasil menjalin kerjasama dengan 30 bayar dari 17 negara. Antara lain, Indonesia, Malaysia, China, Jepang, India, Nepal, Thailand, Azerbaijan, Maldives, Uni Emirat Arab, Iran, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, Australia, Rusia, dan Belanda.
“Jumlah buyer juga meningkat, tahun lalu melibatkan 12 buyer dari 10 negara, sementara di tahun ini ada 30 buyer dari 17 negara dan. Inii menjadi bukti meningkatnya kepercayaan global terhadap produk-produk lokal kita di Sulawesi Selatan,” terangnya.
Selanjutnya, di sisi investasi, South Sulawesi Investment Forum (SSIF) 2025 berhasil menghimpun 24 Letter of Intent (LoI) atau kesepakatan awal melalui 64 pertemuan meeting dari 23 Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan potensi nilai investasi sebesar Rp8,55 triliun.
“Di forum ini peningkatan jumlah investor yang terlibat sebanyak 27 calon investor, sementara di tahun lalu kami hanya menjembatani 9 calon investor ke daerah potensial,” terangnya.
Menurut Wahyu, AMBF dan SSIF ini bertujuan untuk menggeliatkan investasi dan juga perkembangan ekspor di Sulawesi Selatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang tentunya menjadi bagian dari semangat menuju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2030 nanti.
“Penyelenggaran AMBF dan SSIF 2025 ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor itu telah mampu memperkuat upaya pengembangan perdagangan dan investasi di Sulawesi Selatan,” ungkapnya.
Lanjutnya, terkait dengan upaya mendorong investasi, BI Sulsel bersama Forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (Phinisi Sultan) telah melakukan kurasi berbagai proyek investasi strategis di seluruh kabupaten dan kota. Kegiatan ini dilaksanakan melalui program Sulawesi Investment Challenge yang sudah berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2025 lalu.
Sementara, untuk mendorong perdagangan dan ekspor, BI Sulsel juga telah mengagas program pengembangan UMKM melalui program UMKM Rewako (Resilient, Worldwide, Agile, and Knowledgeable).
“Saat ini kami memiliki 152 UMKM Rewako san 70 diantaranya merupakan berhasil mengekspor produk unggulannya. Selain itu telah dilakukan fasilitasi promosi perdagangan pada 12 atasi dagang pada Indonesia Trade Promotion Center dan juga melalui Kadin di Kawasan Timur Indonesia (KTI),” jelasnya.
Ia menerangkan, keberhasilan implementasi program Phinisi Sultan ini tentunya karena adanya sinergi yang kuat dan kolaborasi lintas sektor. Baik dari sisi pelaku usaha, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga.
“Ini menjadi kekuatan membangun persepsi positif bagi investor dan juga para buyer dari luar negeri untuk mempromosikan proyek-proyek investasi yang tentunya ready to offer, serta memperluas pasar ekspor produk UMKM potensial untuk investasi dan perdagangan di Sulawesi Selatan,” terang Wahyu.
Kemudian, pada tema yang diangkat dalam AMBF-SSIF 2025 yakni “Empowering Green Economic Investment – From Local Champions To Global Vision” menegaskan bahwa arah pembangunan Sulawesi Selatan menuju ekonomi hijau yang kompetitif dan inklusif.
AMBF dan SSIF 2025 menampilkan berbagai kegiatan, antara lain, consultation booth yang menghadirkan 30 buyer dari luar negeri yang menjadi ajang bagi UMKM untuk memperluas pemasaran di pasar global, dan pelaksanaan talk show tematik yang menghadirkan para narasumber dari Bank Indonesia, Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bapennas, pelaku UMKM dan juga dari eksportir-eksportir nasional.
Kemudian pelaksanaan mini expo yang menampilkan produk-produk UMKM unggulan, serta demonstrasi langsung dari produk-produk kreatif UMKM binaan Bank Indonesia. Selain itu juga dilaksanakan site visit ke salah satu proyek investasi potensial di Sulawesi Selatan yaitu Kawasan Industri Makassar (KIMA). Kegiatan ini bertujuan agar investor dapat melihat secara langsung potensi investasi yang menjanjikan di Sulawesi Selatan.
“Kami berharap forum ini menjadi langkah maju bagi terwujudnya perekonomian Sulawesi Selatan yang semakin kuat dan berdaya saing melalui penguatan ekspor dan akselerasi investasi. Apalagi ini sangat diperlukan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menjaga keberlangsung pertumbuhan ekonomi daerah yang juga seirama dengan semangat nasional menuju pertumbuhan ekonomi nasional di 2030 nanti,” tegas Wahyu.
Sementara, Staf Ahli Gubernur Sulawesi Selatan, Bidang Kerakyatan Since Erna Lamba mengungkapkan, di 2025 ini Sulawesi Selatan menargetkan realisasi investasi sebesar Rp16,61 triliun. Sementara, hingga periode triwulan ketiga tahun ini telah mencapai sekitar Rp13,76 triliun.
“Kami dari pemerintah memberikan apresiasi, sebab dari forum ini UMKM kita didorong untuk bisa ekspor, dan kepada para buyer dan investor jangan ragu-ragu datang ke Sulawesi Selatan. Karena kita akan memberikan kemudahan untuk berinvestasi,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, saat ini Sulawesi Selatan lima kabupaten dan kota dengan wilayah potensial untuk berinvestasi. Diantaranya, Kota Makassar, Maros, dan Luwu Timur. Sementara, untuk produk unggulan di Sulawesi Selatan yang berpotensi ekspor yakni di sektor pertanian yaitu padi dan jagung, di sektor perkebunan yaitu kopi dan kakao.
Sementara di sektor perikanan dan kelautan yaitu rumput laut dan juga berbagai macam ikan. Selain itu, juga terdapat potensi pertambangan yang cukup berkontribusi dengan baik.
