Republiknews.co.id

Aset Perbankan di Sulampua Tumbuh 4,26 Persen, Bukukan Rp572,44 Triliun

Kepala OJK Sulselbar Moch Muchlasin saat diwawancarai awak media, di Kantor OJK Sulselbar. (Dok. Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kinerja industri jasa keuangan pada sektor perbankan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) masih menunjukkan kondisi yang stabil hingga November 2025.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, Moch Muchlasin menyebutkan, pihaknya mencatat pertumbuhan aset, penghimpunan dana, serta penyaluran kredit tetap terjaga di tengah tantangan perlambatan pada beberapa segmen pembiayaan.

Secara data yang ada total aset perbankan di Sulampua pada posisi November 2025 tercatat tumbuh sebesar 4,26 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp572,44 triliun. Sementara, di periode yang sama 2024 mencapai Rp549,03 triliun dengan pertumbuhan tahunan 4,60 persen.

“Secara umum, kinerja perbankan di Sulampua masih berada pada kondisi stabil dengan pertumbuhan yang positif. Baik dari sisi aset, dana pihak ketiga, maupun penyaluran kredit,” ujarnya, dalam keterangannya resminya, Jumat, (16/01/2026).

Dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan mencatat pertumbuhan sebesar 5,86 persen yoy menjadi Rp362,46 triliun. Dimana di tahun sebelumnya pertumbuhannya 2,59 persen dengan capaian Rp342,41 triliun.

“Struktur DPK masih didominasi oleh dana tabungan dengan porsi 58,83 persen, diikuti giro sebesar 22,16 persen, dan deposito sebesar 19,02 persen,” terangnya.

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tumbuh 4,05 persen yoy dengan total outstanding mencapai Rp449,98 triliun. Jika dilihat pada kinerja kredit perbankan di tahun sebelumnya sebesar Rp432,47 triliun dengan pertumbuhan tahunan 7,90 persen.

“Pada portofolio kredit masih didominasi oleh kredit konsumtif dengan porsi 52,06 persen, sedangkan kredit produktif tercatat sebesar 47,94 persen,” jelasnya.

Muchlasin menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit relatif tertahan seiring terjadinya kontraksi pada segmen kredit modal kerja. Meski demikian, kualitas aset perbankan tetap terjaga dengan baik.

“Kondisi ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang masih berada pada level 2,99 persen, atau di bawah ambang batas yang ditetapkan,” jelasnya.

Selain itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di Sulampua tercatat cukup tinggi, yakni 124,14 persen. Hal tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan optimal dengan penyaluran kredit yang aktif kepada masyarakat dan sektor usaha.

“Kami terus berkomitmen dalam menciptakan stabilitas sektor perbankan guna mendukung pertumbuhan ekonomi regional di wilayah Sulampua,” tegasnya.

Exit mobile version