Republiknews.co.id

Bupati Gowa akan Dorong Pengelolaan RPH Modern Berbasis Pengembangan Peternakan

Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan saat mempresentasikan sistem kolaborasi peternakan yang siap dikembangkan di Kabupaten Gowa di sela-sela Peresmian RPH Modern Tamarunang, kemarin. (Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan berencana akan mendorong model pengembangan peternakan berkelanjutan dengan mendorong kolaborasi dari hulu ke hilir atau melalui kerjasama seluruh pihak. Apalagi setelah dilakukannya sistem modernisasi pada Rumah Potong Hewan (RPH) Ruminansia Kabupaten Gowa.

Adnan mengatakan, model pengembangan peternakan ini akan melibatkan peran pemerintah daerah, perbankan, BUMN, akademisi, peternak, hingga masyarakat sebagai konsumen.

“Kami menyebut ini sebagai kolaborasi peternakan yang memang ada dalam teori pembangunan Pentahelix. Sehingga dalam hal ini pemerintah daerah melakukan kolaborasi dengan peternak yang dikelola Bumdes, kemudian didukung perbankan dan BUMN, serta perusahaan swasta sebagai distributor penjamin pasar,” katanya, kemarin.

Menurutnya, dengan kondisi wilayah Kabupaten Gowa yang memiliki dataran rendah dan dataran tinggi sangat memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor peternakan. Dimana saat ini untuk di wilayah dataran tinggi Pemerintah Kabupaten Gowa bekerjasama PT Cimory melakukan pengembangan sapi perah di Kecamatan Tombolo Pao melalui perantaraan Kementrian Pertanian (Kementan) RI.

“Dari pengembangan sapi perah ini, pihak PT Cimory juga berencana akan membangun industri pengolahan susu dengan merek lokal Malino Milk. Ini semua bisa terealisasi karena dukungan dari Kementan RI melalui tangan dingin Bapak Mentan Syahrul Yasin Limpo,” ujarnya.

Selanjutnya, di wilayah dataran rendah, Pemerintah Kabupaten Gowa sementara mengembangkan sapi potong dan daging wagyu sehingga dianggap perlu adanya dukungan sarana prasarana yang memadai. Sehingga keberadaan RPH Modern ini mampu menjawab hal tersebut.

“Hanya saja ini semua bisa kita laksanakan sesuai harapan dengan hadirnya kolaborasi Pentahelix. Melalui kehadiran pemerintah daerah, perbankan, BUMN, akademisi, hingga peternak,” terangnya.

Keberadaan RPH Tamarunang telah dibangun sejak dimasa kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo, hanya saja pengoperasiannya tidak berjalan maksimal. Sehingga disaat Syahrul Yasin Limpo menjabat sebagai Menteri Pertanian kemudian dilakukan kerjasama untuk merenovasi keberadaan RPH tersebut dengan mekanisme yang lebih modern.

Adnan mengaku, keberadaan RPH Tamarunang yang tidak maksimal dalam hal bisnis disebabkan karena tidak terbentuknya suplay chain atau rantai pasok yang sulit dan juga kompetitif, serta pasokan bahan baku. Pasokan bahan baku tersebut dipengaruhi karena meskipun sapi potong banyak, tetapi belum tentu siap dipotong.

“Makanya perlu melakukan kolaborasi peternakan untuk menyelesaikan seluruh permasalahan terkait RPH dari hulu hingga hilir. Sehingga melalui kolaborasi ini nantinya akan menghasilkan masing-masing tugas dan tanggung jawab untuk pengembangan RPH Modern ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam kolaborasi tersebut nantinya pihak peternak melalui Bumdes akan didukung pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) yang bertanggungjawab melakukan pinjaman dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Sulselbar untuk pembiyaannya. Selanjutnya, Bank Sulselbar bertanggungjawab memberikan pendanaan ke bumdes untuk kemudian digunakan bekerjasama BUMN yaitu PT Berdikari United Livestock (BULS). Sementara PT BULS bekerjasama dengan Bumdes melakukan penggemukan sapi dibantu dengan Dinas Peternakan dan Perkebunan secara teknisi dan juga tenaga medisnya.

“Perlunya ada pendampingan seperti ini untuk menjamin sapi yang siap dipotong pada RPH ini memiliki kualitas tinggi. Termasuk membina bumdes sebagai pemasaran sebagai off teaker,” terangnya.

Kemudian pihak konsumen yang dilibatkan untuk melakukan pembelian produk berupa daging potong di RPH Modern Tamarunang ini yaitu dengan melakukan kerjasama antara pemerintah daerah dengan sejumlah perusahaan. Antara lain, PT. Indoguna Utama, PT. Agro Boga Utama, PT. Dua Putra Perkasa Pratama, dan PD Dharma Jaya DKI.

“Semoga lewat kolaborasi ini kita juga bisa menghasilkan PAD yang meningkat dan bermanfaat bagi masyarakat,” harap Adnan.

Lanjut Bupati Gowa, bahwa RPH Modern Tamarunang ini telah menggunakan proses pemotongan yang telah memakai sistem elektronik atau tidak menyentuh tanah. Dengan sistem yang digunakan maka kualitas daging yang dihasilkan dipastikan sangat baik dan aman.

“Seluruh alat yang digunakan memakai elektronik dan tidak menyentuh tanah. Makanya mengajak seluruh masyarakat jika ingin mendapatkan daging yang bersih, sehat, halal agar bisa datang ke RPH Modern ini,” katanya.

Dalam RPH tersebut jumlah daging yang dipotong sekitar lima ekor. Dimana sapi-sapi yang ada di RPH Modern ini dipastikan aman dari penyakit hewan sebelum dipotong sebab terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan secara detail.

Selain itu, melalui dukungan Pemkab Gowa pihaknya menganggarkan Rp1 miliar melalui APBD untuk pembelian alat railing.

“Jadi setelah dilakukan renovasi ini, ada beberapa alatnya yang belum lengkap sehingga agar segera dilakukan peresmian, maka kami anggarkan di APBD Kabupaten Gowa sehingga ketika pembeliannya semua sudah selesai, sekarang sudah bisa diresmikan,” ungkapnya.

Sementara, Direktur PT BULS Imran Yasin Limpo mengatakan, dalam hal ini pihaknya memberdayakan peternak melalui Bumdes agar sapi yang dipotong dalam RPH Modern Tamarunang pada standar aman, sehat, dan halal. Kemudian hasil sapi yang dipotong itu langsung didistribusikan ke industri (ritel modern), sehingga dipastikan kondisi dagingnya betul-betul higenis.

“Kita harapkan dengan kualitas yang ditawarkan RPH Modern Tamarunang ini akan menjadi pilihan semua orang untuk memotong sapinya disini,” harap Imran.

Selain itu, PT BULS juga telah mengembangkan 11 hektare di Kabupaten Sidrap dalam hal penyediaan sapi. Kemudian dalam proses peternakannya telah disiapkan standar yang baik untuk menghasilkan kualitas sapi yang baik pula.

“Jadi kita kembangbiakkan kemudian kita titip di Bumdes untuk dipelihara sesuai standar baik pakan maupun manajemen. Jadi sedari awal dia (sapi) kecil itu kita sudah standarisasi sampai beratnya, nilai konversi dari bobot hidup ke daging supaya kita bisa estimasi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI),” ujarnya.

Exit mobile version