Covid-19 & Kelelahan Sang Presiden

  • Bagikan

Oleh: Burhanuddin Saputu (Eks Staf Deputi Bidang Komunikasi Politik & Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden RI)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA – Pandemi Corona (Covid-19) yang sudah cukup lama melanda Indonesia sangat melelahkan. Terhitung sejak diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tanggal 2 Maret 2020 bahkan saat ini semakin mengkhawatirkan karena adanya varian baru virus Corona. Beberapa kali Presiden Jokowi muncul di layar kaca, terlihat dari raut wajahnya lelah berkaitan dengan upaya penanggulangan pandemi Covid-19; upaya menghentikan laju virus Corona yang telah menyebar dihampir seluruh wilayah Indonesia, terutama wilayah Jawa dan Bali; Pengadaan Rumah Sakit Darurat Covid-19 berikut fasilitas pendukungnya serta tenaga medis; penanganan korban Covid-19 berikut keluarga yang ditinggalkan; penanganan warga yang terpapar dan terdampak Covid-19; dan lain sebagainya.

Varian baru Covid-19 dikenal ganas yang disebut varian Delta telah menginfeksi Indonesia hingga membuat semua pihak kewalahan menghadapi makhluk renik ini. Belum usai soal varian baru virus Corona yang telah menginfeksi Indonesia, Presiden Jokowi menyampaikan ada lagi virus baru sebagaimana informasi yang didapat dari Word Health Organization (WHO) sembari mengatakan pandemi Covid-19 ini belum bisa diprediksi kapan akan berakhir (19/7/2021). Maka semakin tampak raut wajah sang Presiden lelah walau masih terpancar semangat di wajahnya sebagai seorang pejuang yang ingin menyelamatkan rakyat Indonesia dari gempuran virus Corona.

Kelelahan seorang Presiden Jokowi sesungguhnya bukan hanya bertumpu pada melawan Covid-19 tetapi juga soal pemulihan ekonomi nasional serta sinergitas antar kementerian /lembaga serta pemerintah daerah, elit-elit politik, elit-elit masyarakat, serta warga masyarakat yang belum satu frekwensi supaya bisa terdengar suara tunggal bagai sebuah orkesta dalam melawan Covid-19. Hal itu dapat ditandai banyaknya suara-suara sumbang dan bahkan perilaku aneh yang datangnya dari berbagai kalangan termasuk kalangan pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam merespon wabah Corona di Indonesia ini. Inilah sesungguhnya sederet ketidaksamaan presepsi maupun pandangan sehingga Covid-19 berikut varian barunya semakin menggila di Indonesia, khususnya di perkotaan terutama di wilayah Jawa dan Bali.

Sebetulnya apa yang sukar bagi pemerintah dalam melawan Covid-19 ini? Padahal instrumen ada, anggaran juga disediakan. Adalah lemahnya presepsi, lambatnya koordinasi, serta rasa tanggung jawab, baik itu di pusat maupun di daerah serta kesadaran warga masyarakat setidaknya dalam lingkup keluarga yang tampak masih lemah dalam upaya menghalau menyebarnya Covid-19. Kita tidak tampak seperti tim kesebelasan yang menggiring bola ke lini depan guna memasukan bola ke kandang lawan. Hemat saya inilah antara lain yang membuat sang Presiden Jokowi tampak lelah menghadapi Covid-19 di Indonesia.

Namun belakangan ini Presiden Jokowi memaksimalkan keikutsertaan TNI-Polri dalam percepatan vaksinasi di masyarakat dengan pola door to door disertai dengan penerapan PPKM Darurat, sehingga kedua hal itu berdampak pada kecepatan virus Corona menginfeksi manusia menjadi berkurang atau melandai.

Bahwa wabah Covid-19 ini secara teologi musti dilihat sebagai cobaan atau ujian dari Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia, dan secara sosial musti dilihat sebagai bencana yang melanda Indonesia. Cara pandang secara teologi dan sosial seperti itu akan dapat menghadirkan seluruh elemen bangsa, baik yang ada di struktur kekuasaaan maupun di luar struktur kekuasaan menjadi semacam orkesta atau tim sepak bola dalam melawan Covid-19 di tanah air kita ini.(*)

  • Bagikan