Dokter Ini Mewakafkan Diri Untuk Menangani Covid 19

  • Bagikan


REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR– Pantang menyerah dan gigih dalam menjalankan misi kemanusiannya. Ini terlihat dari jejak rekamnya dalam menjalani sebagai relawan covid 19.

Bersama mahasiswanya di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, dia membentuk Kawasan Karantina Terpadu di gedung Diklat Departemen Kesehatan setempat yang memiliki kapasitas 80 tempat tidur.
“Bersyukur saat ini banyak dermawan yang menjadi donatur,selain itu pemrov juga sudah merespon baik apa yang kita lakukan,” ujarnya Jumat (9/9/21).

Dimulai sejak 23 Juli lalu, kawasan karantina ini bertujuan menampung orang yang terinfeksi COVID namun tanpa menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. 

Dr Hisbullah mengakui hati nuraninya terpanggil untuk turut mengatasi situasi.

“Karena kasus terus meningkat sangat cepat di Sulsel sementara ruang isolasi yang dikelola pemerintah saat itu belum ada,” ujar Dr Hisbullah.

Ia menjelaskan, pasien yang sedang dalam perawatan berjumlah 54 orang, sedangkan sekitar 60 pasien lainnya difasilitasi untuk mendapatkan perawatan di luar rumah sakit.

Selama menjalani isolasi, para pasien tersebut terus dimonitor dengan pemeriksaan kesehatan tiap hari mencakup pengecekan tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu dan saturasi.

Mereka juga diberikan vitamin dan obat-obatan sesuai keluhan, disediakan makanan dan snack harian, disiapkan laundry, serta melakukan kegiatan senam dan berjemur.

“Bantuan diantar langsung oleh masyarakat. Kami juga menerima donasi yang per hari ini sudah mencapai Rp100 juta lebih,” jelas Dr Hisbullah.

Dengan berbagai fasilitas dan layanan yang diberikan secara gratis, kawasan karantina ini tak ayal lagi menerima banyak permintaan. 

Menurut Dr Hisbullah, sebanyak 521 orang yang positif dari berbagai tempat di Sulsel telah mendaftarkan diri, namun karena kapasitas yang terbatas mereka harus menunggu.

Karena itu tim relawan COVID telah meminta kepada puluhan instansi pemerintah untuk peminjaman gedung-gedung diklat yang kosong.

“Kami mengirim surat kepada 16 lembaga diklat tapi sudah satu minggu belum ada tanggapan,” ujarnya.

Bukan baru kali ini saja Dr. Hisbullah Amin bersama tim medis dan relawan lainnya sukarela melakukan pemeriksaan dan perawatan terhadap pasien Covid-19 tanpa bantuan pemerintah dan hanya mengandalkan bantuan dari dermawan.
Sejak awal merebaknya covid 19 di Makassar dirinya bersama beberapa relawan dari mahasiswanya langsung melakukan pemeriksaan terhadap warga yang diduga terinfeksi virus.

Dengan bantuan dari dermawan, Hisbullah yang merupakan dokter RSUP Wahidin Sudirohusodo ini pun mendapat tempat pemeriksaan terhadap warga yang diduga terinfeksi virus di RS Ibu dan Anak Sayang Bunda.

Selama beberapa pekan, dirinya bersama relawan-relawan yang merupakan mahasiswanya pun melakukan pemeriksaan sekitar 1.300-an warga Makassar secara gratis.

Tak lama kemudian, Hisbullah pun ditawari oleh dermawan lainnya untuk menempati RS Universitas Indonesia Timur (UIT) untuk dijadikan Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Makassar.

Dengan menempati beberapa lantai di gedung berlantai 8 itu, Hisbullah bersama relawan lainnya pun merawat 40 orang pasien positif Covid tanpa gejala secara gratis.

“Saya selama beberapa bulan mewakafkan diriku, hanya mengandalkan bantuan dari dermawan di Makassar maupun bantuan dari warga melalui media sosial. Di RS Sayang Bunda dan RS UIT, kami tidak dipungut biaya untuk menempati rumah sakit tersebut dan merawat pasien Covid-19. Cukup hanya bayar listrik saja, sudah bisa menggunakan semua fasilitas yang ada,” kata Hisbullah.

Saat ditanya soal biaya operasional selama menangani pasien Covid-19, Hisbullah mengaku menggalang dana melalui media sosial.

Alhasil, banyak warga yang peduli dan menyumbang dalam penggalangan dana tersebut.

“Dana operasional kami, hanya mengandalkan bantuan dari masyarakat melalui media sosial. Ada banyak warga yang peduli, bahkan banyak juga yang datang membawa makanan untuk pasien-pasien yang dirawat di RS UIT,” ungkapnya.

Hisbullah pun mengaku, jika mendapatkan bantuan dana dari masyarakat kemudian dibelikan untuk membeli obat untuk pasien dan Alat Pelindung Diri (APD) seadanya seperti jas hujan dan masker serta kaos tangan.
Dia juga aktif melakukan edukasi dan kampanye terkait dengan protokol kesehatan pada masyarakat. Pihaknya membentuk relawan berbasis komunitas pada tingkat RT/RW. Relawan ini diajak untuk ikut terlibat secara aktif dalam menangani covid 19 di  wilayah masing-masing.

  • Bagikan