Republiknews.co.id

Ininnawa, Film Dokumenter Panjang Karya Anak Makassar Menangkan Piala Citra FFI 2022

Sutradara film dokumenter berjudul 'Ininnawa: An Island Calling', Arfan Sabran usai meraih penghargaan bergengsi Piala Citra Festival Film Indonesi (FFI) 2022. (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Film dokumenter berjudul ‘Ininnawa: An Island Calling‘ karya sutradara Arfan Sabran sukses meraih penghargaan bergengsi Piala Citra Festival Film Indonesi (FFI) 2022.

Film dokumenter tersebut masuk kategori atau nominasi Film Dokumenter Terpanjang. Film ini berhasil mengungguli empat pesaingnya, diantaranya Film Atas Nama Daun karya Mahatma Putra, Mencari Ibu karya Dwiki Marta dan Ayomi Amindoni, Roda-roda Nada karya Yuda Kurniawan, serta Segudang Wajah Para Penantang Masa Depan karya I Gde Mika dan Yuki Aditya.

Sutradara Film Ininnawa: An Island Calling, Arfan Sabran mengatakan bahwa film tersebut digarap selama 12 tahun dan merupakan lanjutan dari film Suster Apung.

“Lokasinya di Pangkep, di Segeri sama di Kepulauan Liukang Tangaya, dekat Flores tapi masih masuk Pangkep, Pulau Sarane sama Sabalana,” kata Arfan, Rabu (23/11/2022).

Arfan menuturkan bahwa pesan yang ingin disampaikan lewat film ini adalah bagaimana hubungan para pekerja-pekerja kesehatan di pulau-pulau terpencil.

“Jadi bagaimana petugas-petugas kesehatan bekerja di pulau-pulau terpencil yang harus menyeimbangkan antara tugas dan keluarga,” tutur Arfan.

Menurutnya, film ini baru akan dirilis dan diperkenalkan ke masyarakat untuk mengampanyekan mengenai petugas-petugas kesehatan yang bekerja di kepulauan terpencil.

Menurut Arfan, film Ininnawa ini merupakan lanjutan dari film Suster Apung. Dimana film Suster Apung menceritakan soal Ibu Rabiah yang sekarang anaknya juga ikut bertugas di pulau terpencil sebagai bidan.

“(Film Ininnawa) lanjutan (film Suster Apung) kalau dulu tentang ibunya saja, sekarang ibu, anak dan cucunya juga ikut,” bebernya.

Menurut Arfan, film Suster Apung ini merupakan film pendek pertama yang tayang pada 2006. Sesuai dengan novelnya yang juga berjudul Suster Apung.

“Diterbitkan sama Kompas, terus sudah itu dibuatkan film versi pendeknya yang berjudul Rabiah dan Mimi diputar di Tokyo di NHK Stasiun Jepang. Setelah itu, barulah dibuatkan film panjangnya berjudul Ininnawa ini,” demikian Arfan. (*)

Exit mobile version