Republiknews.co.id

Makassar Jadi Kota Penggerak Program PARARA, Fokuskan Isu Pangan Lokal

Konsultan Strategi Pengembangan Regional PARARA Salmia Ariyana saat memberikan keterangan terkait konsep kerja PARARA. (Dok. Istimewa)  

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Kota Makassar sebagai kota pintu masuk pengembangan ekonomi menjadi alasan utama dipilihnya program Panen Raya Nusantara atau PARARA dilaksanakan.

Program ini pun lahir dari sebuah inisiatif Festival Sustainable Livelihood Initiative and Models (SLIMs), yang kemudian menjadi sebuah konsorsium pecinta pangan lokal yang sehat, adil dan lestari atau berkelanjutan.

Konsultan Strategi Pengembangan Regional PARARA Salmia Ariyana mengaku, pengembangan di Kota Makassar perlu dilakukan dengan melibatkan seluruh stakeholder yang bergerak di isu pangan lokal. Apalagi di Sulawesi Selatan banyak anggota konsorsium PARARA yang bekerja di mitra lingkungan. Mulai dari Walhi, dan beberapa lembaga masyarakat, maupun komunitas anak muda.

“Kita perlu ide-ide yang jenius dari Kota Makassar, dengan melibatkan komunitas-komunitas pemuda, juga melibatkan media. Harapan kami, Makassar bisa sebagai motor penggerak kalau ini berhasil akan jadi cerminan ke beberapa wilayah lainnya, sepeti Papua, dan NTT,” katanya dalam keterangannya, Jumat (09/06/2023).

Mia menambahkan, strategi pengembangan regional PARARA dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan sesuai konteks daerah akan dibahas bersama dengan melibatkan pemangku kepentingan dan pecinta pangan lokal daerah. Penyusunan strategi regional akan membahas tiga elemen utama, di antaranya, festival, peningkatan kapasitas dan kegiatan ekonomi.

“Salah satu rencana PARARA sejak awal adalah melebarkan sayap ke daerah-daerah, terutama Indonesia Bagian Timur. Daerah-daerah ini membutuhkan lebih banyak dukungan dan peningkatan kapasitas dan konektivitas,” terangnya.

Lanjut Mia menuturkan, pencapaian yang ingin diraih di Kota Makassar adalah advokasi dimulai pada kelompok masyarakat hingga pemerintah. Tujuannya untuk membangun kesadaran bahwa pangan lokal adalah identitas sebuah daerah, identitas budaya, identitas masyarakat, identitas komunitas, dan identitas perempuan.

“Ketika pangan lokal itu hilang maka hilang budaya kampung tersebut, dan kita ingin ada kebijakan yang mengawal karena kita tidak bicara hanya lokal tapi secara global,” ujarnya.

Mia menyebutkan, beberapa kabupaten telah menjadi wilayah pendampingan PARARA. Antara lain, Kabupaten Maros, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.

“Kita ingin produk-produk kita tidak kala bersaing, kita ingin menawarkan produk yang punya value. Mulai dari sehat, adil, dan lestari dengan mengusung empat isu ini. Sehingga menjadi brand produk kita dan menjadi nilai tawar bagi produk negara lain,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, saat ini PARARA, telah memiliki sebuah toko dan restoran dengan konsep produk lokal, sehat, adil dan lestari. Salah satunya di Jakarta Pusat.

“Tujuannya agar memperluas konsep produk lokal sehat ke daerah-daerah sehingga daerah-daerah tersebut juga dapat menjadi “motor” kampanye dan  memperoleh manfaat dari produk-produk tersebut,” harapnya.

Exit mobile version