REPUBLIKNEWS.CO.ID, SAMARINDA — Merosotnya pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan Oleh-oleh khas Kalimantan Timur (Kaltim) Toko Raja Bagus di kawasan Komplek Citra Niaga, Kota Samarinda. Cerita itu disampaikan oleh penjaga Toko, Septian Muhammad Bagus (26) mengaku omsetnya anjlok pasca pandemi Covid-19.
“Terkait omset dengan pendapatan kotornya sekitar Rp 3 Juta perhari, dengan dua karyawan di sini. Saat pandemi, merosotnya pengunjung sangat mempengaruhi pendapatan Toko ini,” ucap Bagus kepada Republiknews.co.id, pada Selasa (06/07/2022) siang kemarin.
Bahkan, Bagus mengaku pernah kondisi pasar ini sepi tanpa pengunjung. Lalu, kata dia, rata-rata yang membeli jualan produk khas lokal itu merupakan orang luar semua.
“Ya, bukan orang sini yang membeli. Tetapi pengujung luar,” ujarnya.
Bagus memandang bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian bersama dalam mengembangkan pasar tradisional tersebut. Kata dia, demi mengenalkan produk UMKM khas Kaltim.
Sementara, Toko itu menjual barang-barang kerajinan seperti kalung manik, tas, anjat, kipas, ulap doyo, sarung Samarinda, batik, mandau, sumpit dan sebagainya. Tahun ke tahun, kata Bagus, sebenarnya para pengajin semakin kreatif dan lebih ulet dalam membuat kerajinan lokal tersebut.
“UMKM produk lokal ini dulunya berkembang, namun seiring waktu berkurang,” jelasnya.
Setelah dilonggarkan, Bagus menyebut kondisi pasar tradisional ini perlahan kembali pulih. Namun, kata dia, tidak seperti dulu lagi yang pernah ramai dikunjungi oleh ratusan wisatawan.
Adapun seorang pengunjung asli warga Samarinda, Kamari (55) menceritakan dulunya banyak pengunjung, bahkan situasi seperti pasar malam sejak 1980-an.
“Tidak hanya orang Samarinda saja, tetapi orang luar seperti Tenggarong, Bontang dan Balikpapan. Jadi mereka kepingin menikmati pasar tradisional ini,” cerita Kamari.
Kamari bilang, kondisi pasar menyepi, dan menurun drastis para pengunjung. Sehingga, kata dia, warga banyak memilih ke tepian karena dilihat ada bangunan baru di sana. “Kalau di sini, terlihat kurang,” tegasnya.
Kebanyakan yang tersisa, menurut Kamari bahwa berdatangan ke pasar ini hanya sebagian orang saja. Karena, kata dia, pengunjung saat ini hanya menjadikan tempat bersantai dan menikmati suasana.
