REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja positif pada aktivitas bursa karbon secara nasional di Indonesia sejak pertama kali diluncurkan.
Hingga 30 Desember 2025, nilai transaksi di bursa karbon telah mencapai Rp87,00 miliar dengan total volume transaksi sebesar 1.811.933 ton setara karbon dioksida (tCO2e).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyampaikan bahwa sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga saat ini bursa karbon terus menunjukkan pertumbuhan yang solid. Baik dari sisi partisipasi maupun aktivitas transaksi.
“Hingga kini tercatat sebanyak 150 pengguna jasa telah terdaftar di bursa karbon. Pada Desember 2025 saja, terdapat penambahan volume transaksi sebesar 190.264 tCO2e, yang mencerminkan meningkatnya minat pelaku usaha terhadap mekanisme perdagangan karbon,” terangnya, dalam keterangannya, kemarin.
Selain perkembangan bursa karbon, OJK juga melaporkan kinerja positif pada kinerja Securities Crowdfunding (SCF). Sepanjang Desember 2025, terdapat 27 efek baru yang ditawarkan melalui platform SCF dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp44,18 miliar, serta penambahan 12 penerbit baru.
“Secara agregat, hingga Desember 2025, SCF telah mencatatkan 978 penerbitan efek dari 585 penerbit dengan jumlah pemodal mencapai 191.981 pihak. Total dana yang berhasil dihimpun melalui skema ini tercatat sebesar Rp1,82 triliun,” jelasnya.
Sementara itu, di pasar derivatif keuangan, sejak 10 Januari hingga akhir 2025, OJK telah memberikan persetujuan prinsip kepada 113 pihak. Persetujuan tersebut terdiri atas 4 penyelenggara pasar berjangka, 23 pedagang penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif (SPA), 63 pialang berjangka, 15 bank penyimpanan marjin, 6 penasihat berjangka, 1 asosiasi, dan 1 lembaga sertifikasi profesi.
Dari sisi transaksi, volume perdagangan derivatif keuangan pada Desember 2025 mencapai 61.613 lot. Kemudian, secara tahunan atau year on year (yoy) total volume transaksi tercatat sebanyak 1.013.294 lot. Adapun dari sisi frekuensi, terdapat penambahan 239.850 kali transaksi pada Desember 2025, sehingga secara yoy frekuensi transaksi mencapai 4.433.781 kali.
“OJK akan terus mendorong penguatan infrastruktur, regulasi, dan pengawasan guna memastikan pasar modal, derivatif keuangan, serta bursa karbon dapat memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional,” harap Inarno.
