Republiknews.co.id

OJK: Ekonomi Global Tumbuh Melemah, Indonesia Tetap Kuat

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar saat memaparkan kondisi sektor jasa keuangan Indonesia, di sela-sela Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK melalui virtual, kemarin. (Dok. Tangkapan Layar)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja perekonomian domestik (Indonesia) hingga saat ini masih tetap kuat dalam hal stabilitas sektor jasa keuangan. Kondisi ini pun terjadi di tengah aktivitas ekonomi global yang melambat.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, stabilitas sektor jasa keuangan terjaga stabil dan pasar keuangan menguat di tengah sentimen positif akibat periode cut cycle bank sentral, namun prospek aktivitas perekonomian dunia melemah.

“Di domestik, kinerja perekonomian masih terjaga stabil di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi global,” katanya dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK melalui virtual, kemarin.

Ia mengungkapkan, hal ini dengan melihat kondisi inflasi yang terpantau dan terjaga stabil seiring mulai terkendalinya inflasi pangan, serta neraca perdagangan mencatatkan peningkatan surplus sejak Juli 2024.

Selain itu, langkah Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps ke level 6 persen diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perekonomian domestik dan memperkuat kapasitas Layanan Jasa Keuangan (LJK) dalam menyalurkan pembiayaan.

Lanjut Mahendra, pertumbuhan ekonomi terindikasi mengalami penurunan di mayoritas negara utama atau syncronised slowdown. Misalnya, Amerika Serikat (AS), The Fed menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi di 2024 diikuti kenaikan level pengangguran dan penurunan inflasi. Di Tiongkok, perekonomian kehilangan momentum pemulihannya setelah sisi produksi yang selama ini menopang pertumbuhan mulai menghadapi tekanan.

“Hal ini terlihat dari aktifitas manufaktur yang melambat sehingga mendorong tingkat pengangguran naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir, serta tingkat pengangguran muda (Youth unemployment) meningkat,” katanya.

Selain itu juga terjadi tekanan perekonomian Eropa yang semakin dalam terlihat dari penurunan outlook pertumbuhan dan proyeksi inflasi yang meningkat. Perkembangan tersebut mendorong bank sentral global memulai siklus penurunan suku bunga yang cukup agresif.

The Fed menurunkan Fed Funds Rate sebesar 50 bps, yang secara historis pernah dilakukan pada saat global financial crisis 2008 dan pandemi 2020. Di Tiongkok, PBoC cukup agresif dalam mendukung perekonomian dengan menurunkan suku bunga kebijakannya.

Selain itu, Gubernur PBoC berjanji akan mengambil kebijakan akomodatif lanjutan seperti menurunkan GWM 50 bps untuk meningkatkan likuiditas perbankan, penurunan uang muka pembelian rumah, serta memperpanjang dukungan ke sektor properti selama 2 tahun.

“Kebijakan fiskal di Tiongkok juga akomodatif. Di Eropa, ECB dan Bank of England juga telah memulai siklus penurunan suku bunga,” akunya.

Kebijakan moneter global yang akomodatif tersebut mendorong kenaikan likuiditas di pasar keuangan, tercermin dari penguatan pasar keuangan global di mayoritas negara. Aliran modal cukup besar ke pasar keuangan emerging market mulai terjadi, termasuk ke pasar keuangan Indonesia.

.

Exit mobile version