OPINI: Suara Petani Sinjai, Bukan Baliho “Selamat Hari Tani”

  • Bagikan

Oleh: Andi Maddolangeng (Ketua Kelompok Tani Mattoanging Desa Songing, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, – Hari Tani Nasional 2021, harus menjadi momentum serius bagi pemerintah untuk merefleksi terkait permasalahan pertanian yang ada di Indonesia. Apalagi mengingat Indonesia merupakan negara agraris yang pemasukannya ditopang oleh sektor pertanian.

Perhatian Pemerintah Daerah khususnya di Kabupaten Sinjai harus melihat kesuksesan dan keberhasilan petani. Bahkan perhatian juga disertai ketersediaan pasar dan kestabilan harga dengan menghadirkan investor untuk menanamkan modal, sehingga dapat menyerap tenaga kerja juga meningkatkan pendapatan petani.

Suatu contoh di musim panen padi tahun 2020 lalu harga komoditas gabah petani sekitar Rp4.500 perkilogram, namun di musim panen rendengan tahun ini harga gabah ditingkat petani anjlok sampai Rp3.500 perkilogram. Artinya, turun 1000 rupiah, nah disinilah seharusnya peran pemerintah untuk hadir menjaga kestabilan harga.

Begitu juga di sektor perikanan, dimana kabupaten Sinjai dikenal sebagai lumbung ikan di Sulawesi Selatan namun sangat disayangkan, tidak satu pun investor yang masuk menanamkan modalnya di Kabupaten Sinjai.

Keberhasilan Pemerintah Daerah hanya pada penyediaan sarana dan prasarana, pengolahan pertanian itu pun belum memadai dan hanya dijadikan sebagai seremonial program tahunan.

Sementara disisi lain, ketersediaan pasar dan ke-stabilan harga yang dapat menjadi instrumen peningkatan hasil produksi petani tidak pernah diperhatikan, sehingga hasil pertanian kita menjadi incaran empuk para tengkulak. Keberhasilan kita hanya dihargai dengan acara seremonial belaka tanpa output dari setiap acara tersebut

Semoga momentum Hari Tani Nasional 24 September 2021 bapak Bupati serta semua unsur terkait di kabupaten Sinjai dapat duduk bersama mencari investor untuk menanamkan modalnya khusus di sektor pertanian dan peternakan dan perikanan.

Keberhasilan pemerintah bukan pada seremonial belaka, tapi keberlangsungan ketersediaan pasar dan kestabilan harga komoditas, Bukan balihonya “Selamat Hari Tani”. (*)

  • Bagikan