REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Penyaluran kredit di Sulawesi Selatan banyak dimanfaatkan untuk pada sektor produktif. Misalnya, untuk modal usaha bagi pelaku usaha, investasi, hingga dalam rangka pengembangan bisnis.
Serapan kredit di sektor tersebut hingga Maret 2025 sebesar Rp89,39 triliun atau 57 persen dari total penyaluran Rp165,78 triliun. Sementara, untuk kredit konsumtif hanya menyerap sekitar 43 persen dengan nilai Rp76,89 triliun.
“Peningkatan penyaluran kredit ke sektor produktif secara tahunan atau dari Maret 2024 ke 2025 tumbuh 8,27 persen. Sedangkan, untuk sektor konsumtifnya juga tumbuh 0,20 persen secara tahunan,” ujarnya.
Muchlasin mengaku, tingginya kontribusi penyaluran kredit ke sektor produktif memberikan dampak yang cukup baik atau memiliki multiplayer effect. Sebab ikut memberikan peningkatan pada indikator lainnya. Mulai dari meningkatkan lapangan kerja, industri berjalan dengan baik, serta mendorong meningkatkannya pendapatan bagi pihak-pihak terkait.
“Misalnya driver ojek bagi usaha yang memberlakukan jasa pengantaran ke konsumen, jadi ikut membantu banyak pihak jika kredit produktif ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.
Adapun pada kondisi Non Performing Loan (NPL) pada kredit produktif tersebut masih terjaga diangka 3,90 persen. Sementara, NPL pada kredit konsumtifnya diangka 1,65 persen.
Kemudian secara umum penyaluran kredit di Sulawesi Selatan sebesar Rp165,78 triliun atau tumbuh 3,76 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp159,77 triliun. Penyaluran kredit ini pun disalurkan oleh bank umum sebesar Rp162,52 triliun, dan BPR sebesar Rp3,26 triliun.
Kinerja penyaluran kredit yang dianggap masih tumbuh kecil secara tahunan disebabkan karena masih banyaknya pelaku usaha yang dianggap belum sepenuhnya berjalan dengan maksimal.
“Kita memang melihat masyarakat di triwulan pertama tahun ini untuk kinerja perbankannya masih lebih banyak pada aktivitas menabung daripada yang mendapatkan kredit, dengan kata lain karena pelaku usaha kita belum sepenuhnya jalan, kita berharap nantinya bisa kembali tumbuh,” terangnya.
Hanya saja meski dengan penyaluran kredir yang dinilai tumbuh melambat, tapi pada kondisi kredir macet atau Noan Performing Loan (NPL)-nya masih terjaga di angka 2,87 persen atau masih sangat jauh dari kondisi 5 persen.
