REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Terkait dengan pekembangan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2019 diperkirakan turun menjadi 3,2% sesuai dengan World Economic Outlook pada Juli 2019.
Penurunan proyeksi PDB dunia tersebut disebabkan oleh perang dagang di Tiongkok dan Amerika Serikat yang memperburuk perekonomian negera-negara mitra dagang.
Selain itu, india dan Uni Eropa juga menunjukkan penurunan. Turunnya pertumbuhan ekonomi dunia turut membawa Indonesia kepada pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih rendah tercatat 5,05% (yoy) triwulan II 2019 dibanding yang sebelumnya sebesar 5,07% (yoy).
Adapun untuk pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2019 tumbuh menggembirakan mencapai 7,46% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,5% (yoy).
Hal tersebut membuat perekonomian Sulsel berada di peringkat empat nasional setelah Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Dari sisi permintaan, konsumsi domestik yang tinggi menjadi faktor utama dorong perekonomian Sulsel. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang bersifat multiyears mendorong realisasi investasi yang lebih tinggi.
Sementara dari sisi penawaran, pada tanaman bahan makanan dan perkebunan, serta lapangan usaha industri pengolahan, kinerja industri makanan, industri barang logam bukan mesin dan industri furnitur mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi.
Bank Indonesia perkirakan proyeksi ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 akan tumbuh pada kisaran 7,0%-7,4% didukung oleh masih kuatnya pertumbuhan lapangan usaha konstruksi dan perdagangan, serta meningkatnya industri pengolahan dan administrasi pemerintahan.
Selain itu, masih berlanjutnya proyek infrastruktur yang bersifat multiyears dan berakhir tahun 2019 serta relaksasi peraturan pinjaman LTV yang mendorong pembangunan perumahan menjadi salah satu penopang ekonomi Sulsel tahun 2019.
Sementara kondisi inflasi Sulawesi Selatan secara bulanan mencapai 0,36% (mtm) atau secara tahunan 2,84% (yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun 4,27% (yoy).
Sehingga komoditas yang perlu menjadi perhatian karena mendorong kenaikan harga antara lain emas perhiasan dan komoditas hortikultura seperti cabe. Tingkat inflasi Sulsel tahun 2019 diperkirakan akan berada pada rentang target 3,5%±1%. Beberapa risiko yang patut diwaspadai adalah fenomena pergeseran musim tanam karena adanya el-nino dalam level lemah, serta peningkatan permintaan di saat akhir tahun.
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah berharap, agar kondisi ekonomi sulsel terus membaik.
“Capaian ini patut disyukuri, namun kita harus terus bekerja bersama-sama membangun sulsel,” ujarnya Rabu (25/09/2019).
Oleh karena itu, dia berharap koordinasi dan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu semakin diperkuat dengan mengoptimalkan mekanisme komunikasi dan kerjasama antar kepala daerah, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota. (Ahmad)
