Republiknews.co.id

Potensi Investasi di Sulsel Masih Menjanjikan, Manufaktur Sektor Paling Diminati

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Causa Iman Karana saat mengisi seminar nasional terkait potensi ekonomi KTI dan peran Sulawesi Selatan sebagai induk KTI dalam pemulihan ekonomi berkelanjutan. (Foto: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Melakukan investasi di wilayah Sulawesi Selatan masih menjadi pilihan para investor. Manufaktur pun masih menjadi sektor paling diminti oleh investor.

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Causa Iman Karana saat mengisi Seminar Nasional bertajuk “Potensi Ekonomi Kawasan Timur Indonesia dan Peran Sulawesi Selatan Sebagai Hub KTI dalam Pemulihan Ekonomi Berkelanjutan”.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari penyelenggaraan Road to South Sulawesi Investment Challenge yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (KAFEGAMA).

Imam menjelaskan, dari hasil kajian mengenai the most binding constraint on foreign direct investment di Sulawesi Selatan menyebutkan bahwa potensi investasi masih tinggi. Pada 19 perusahaan terafiliasi asing yang mewakili sektor pertanian, energi, konstruksi, manufaktur, dan keuangan menunjukkan bahwa potensi investasi di Indonesia, termasuk di wilayah Sulsel masih tinggi.

“Mayoritas responden masih memiliki rencana investasi atau will explore dan likely to invest di Sulawesi Selatan dan di Indonesia dalam tiga tahun mendatang. Bahkan manufaktur sebagai sektor yang paling diminati,” katanya dalam pertemuan tersebut, Senin (12/9/2022) kemarin.

Ia menyebutkan, hingga September 2022, beberapa forum investasi telah melangsungkan pertemuan, dan sejauh ini hasilnya cukup memberikan optimisme. Seperti, pada Belt and Road Summit 2022, terdapat 34 calon investor global yang mengajukan one-on-one meeting dengan proyek-proyek yang ditawarkan.

Seperti kata Imam, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo II Jeneponto, Tol Pesisir Makassar-Bantaeng, Pelabuhan Bantaeng, Industri Kelapa Sawit Luwu Utara, Industri Galangan Kapal Yassiberui, dan Kawasan Industri Makassar Maros.

“Melalui Forum Percepatan Investasi, Perdagangan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (Pinisi Sultan). Bank Indonesia dan pemerintah daerah akan terus mendorong masuknya investasi dan peningkatan ekspor,” ujarnya.

Bahkan, dalam waktu dekat, Forum Pinisi Sultan akan menyelenggarakan South Sulawesi Investment Challenge dalam rangka mengidentifikasi proyek investasi dari Sulawesi Selatan yang ready to offer kepada investor global.

Sementara itu, Duta besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji mengatakan, saat ini kerjasama antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Jepang sangat potensial untuk ditingkatkan. Terutama di bidang agrikultur dan perikanan.

“Hal utama yang perlu diperhatikan dalam ekspor produk agrikultur dan perikanan adalah kualitas dan food safety. Sehingga ntuk menarik investasi Jepang, pemerintah daerah perlu menawarkan keunggulan komparatif, berupa transparansi dan predictability,” ujarnya singkat.

Hal senada juga diungkapkan Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok Djauhari Oratmangun. Ia menyampaikan, insight mengenai sektor ekonomi pendorong pemulihan ekonomi dan penarik investor Tiongkok adalah dengan kerja sama dengan importir Tiongkok.

Hal ini dapat didorong melalui keberadaan sister city antara kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan dengan daerah di Tiongkok serta konsistensi untuk dapat memenuhi permintaan dan syarat ekspor masuk ke Tiongkok.

“Dalam upaya meningkatkan ekspor ke Tiongkok, pemerintah Indonesia melalui KBRI juga terus melalukan diplomasi untuk pembukaan akses pasar ke Tiongkok,” tutupnya. (*)

Exit mobile version