REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — “Pew Research Center” sejak tahun 2015 dan tahun 2000 menempatkan Indonesia sebagai negara religius karena mayoritas penduduknya menjawab agama sangatlah penting. Survei itu juga mengaitkan kemajuan suatu Negara dengan sikap keagamaan masyarakatnya. Hasilnya, penduduk Negara berkembang cenderung menganggap penting agama dalam kehidupan. Sebaliknya, masyarakat di negara-negara maju cenderung mengabaikan agama.
“Tingkat religiusitas Negara berbanding terbalik dengan kemajuan ekonomi dan tingkat kebahagiaan penduduk. Survei tersebut mengkorfimasi riset “Islamicity Indices” yang memilih 10 Negara paling islami, antara lain Selandia Baru, Netherland, Swedia, Irlandia, Switzerland, Denmark, Kanada, dan Australia. Sebaliknya, skor negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam cenderung rendah, seperti Indonesia,” kata Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A., ketika berbicara pada acara “Sutan Takdir Alisyahbana Memorial Lecture” di Akademi Jakarta, Kamis (21/10/2021) sore.
Muslimah Reformis tersebut mengatakan, sungguh ironis! Mestinya, negara dengan penduduk religius bisa lebih maju karena masyarakatnya diselimuti nilai-nilai spiritual sehingga potensial memiliki integritas moral. Kondisi itu akan menginspirasi mereka melakukan kerja-kerja kebudayaan, membangun peradaban yang lebih maju. Namun, gambaran tersebut tidak sesuai dengan realitas sosial dalam masyarakat. Indonesia misalnya, memperlihatkan sebuah paradoks yang luar biasa. Paradoks antara kehebohan beragama dan kebangkrutan moralitas. Rumah-rumah ibadah penuh di mana-mana, apalagi ketika perayaan hari-hari besar agama.
“Akan tetapi, kesemarakan atau kehebohan beragama itu tidak menjamin tumbuhnya kualitas spiritual dan integritas moral masyarakat. Lihat saja, berita-berita utama yang berseliweran di media, baik cetak maupun online, tak pernah sepi dari kasus-kasus pelanggaran hukum dan kriminal: penipuan, penjambretan, pencurian, pembunuhan, kekerasan terhadap perempuan, KDRT, korupsi dengan segala kejahatan lain yang mengikutinya, prilaku aparat yang begitu represif dan otoritarian diikuti sikap-sikap anarkis masyarakat yang sudah bosan menunggu keadilan,” kata Musdah Mulia.
Menurut Guru Besar UIN Jakarta tersebut, beragam bentuk kekerasan berbasis agama dipertontonkan secara vulgar di berbagai tempat, umumnya terjadi bersamaan dengan event-event politik. Belum lagi termasuk pemberitaan yang jarang muncul akibat media sering juga mengalami rabun jauh, seperti tindakan pelanggaran hak asasi manusia oleh negara dan pemerintah, pencemaran dan eksploitasi lingkungan oleh korporasi raksasa atas izin pemerintah.
Selain itu, kata Musdah Mulia, ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial di Indonesia sudah berada di titik nadir. Bayangkan kekayaan empat orang terkaya (konglomerat) di Indonesia setara dengan gabungan 100 juta orang termiskin. Betapa masifnya perampasan tanah, penggusuran dan lainnya sebagai akibat ideologi fundamentalisme pasar bebas (neoliberalisme).
Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) sepanjang tahun 2016 saja, terjadi 450 lebih konflik agraria di seluruh Indonesia dengan luasan tanah mencapai 1,26 juta hektar demi proyek infrastruktur perluasan perkebunan, pertambangan dan sebagainya. Akibatnya, sebanyak 86. 745 kepala keluarga kehilangan ruang hidup dan sumber penghidupannya. Tentu dalam hal ini bukan agama yang salah, melainkan kebanyakan penganut agama belum mampu menghayati agama sebagai jalan pembebasan dari beragam krisis kemanusiaan. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tudingan lalu tertuju kepada agama Islam, sejatinya semua penganut agama mengalami krisis serupa.
Menurut Musdah Muliah, kondisi krisis agama inilah yang menjadi salah satu perhatian Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Dalam tulisan berjudul Etik Islam untuk Etik Dunia yang Sedang Tumbuh, STA menjelaskan, seharusnya umat Islam Indonesia mampu menciptakan kebudayaan yang membawa negara kepada kemajuan. Kebudayaan adalah hasil dari keaktifan atau daya budi manusia. Manusia dalam konsep Islam adalah makhluk tertinggi, malahan lebih tinggi dari malaikat sehingga diangkat sebagai khalifah atau wakil Tuhan di dunia. Manusia bukan hanya ditugaskan berserah diri mengabdi kepada Tuhan, melainkan dengan kecakapan yang diberikan Tuhan dalam bentuk budi, menciptakan kebudayaan di tengah-tengah alam semesta.
“Manusia harus mampu mengembangkan ilmu, teknologi dan kemajuan ekonomi untuk kemaslahatan semua sehingga dapat hidup sejahtera, penuh solidaritas dan kedamaian. Namun, kenyataannya umat Islam abai terhadap pengembangan ilmu, teknologi dan ekonomi sehingga mengalami krisis berlarut-larut, kehidupan mereka diliputi takhayul, mitos dan konflik kepentingan,” ungkap Musdah mengutip STA.
Kata Musdah dalam presentasinya berjudul “Penguatan Literasi Agama Mewujudkan Indonesia Maju” , itulah sebabnya, STA membangun Pusat Pengkajian Islam (Center of Islamic Studies) dengan tujuan mengedukasi umat Islam agar menghayati konsep tauhid sebagai inti ajaran Islam. Ajaran yang menjunjung tinggi pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya manusia sebagai makhluk bermartabat, dan pentingnya membebaskan sesama manusia dari jeratan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Dalam konteks inilah, STA menggagas pembangunan masjid dengan arsitektur unik, puncaknya bukan berupa kubah, melainkan simbol bunga berkembang dengan lima kelopak. Bunga berkembang melambangkan pikiran bahwa seseorang yang mencapai tingkat tauhid, yakni penyerahan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, maka dengan sendirinya kehidupan duniawinya pun turut berkembang. Agama membuat manusia hidup lebih bergairah, menciptakan kebudayaan dengan penuh tanggung jawab, bersolidaritas, penuh kasih sayang kepada sesama, maupun makhluk lain di sekitarnya.
“Selanjutnya, lima kelopak bunga melambangkan: ketauhidan, kesadaran bahwa semua agama menjunjung kemahaesaan Tuhan, kekhalifahan manusia sebagai makhluk tertinggi, pentingnya ilmu untuk membangun kebudayaan, dan terakhir pentingnya usaha ekonomi yang hakikatnya adalah memakai hukum-hukum Tuhan demi memenuhi keperluan hidup manusia yang layak di dunia sebagai khalifah Tuhan,” demikian Musdah Mulia mengutip buku Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan pada tahun 1992 tersebut.
Terkait pentingnya penguatan ekonomi, STA berulang kali menulis dengan nada gemas sebagai berikut: ”Siapakah yang mengatakan bahwa syarat untuk akhirat yang kekal dan bahagia adalah kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan di dunia ini?”
Demi menggugah kesadaran umat Islam tentang pentingnya kebudayaan industri, menurut Musdah, beliau menulis sebuah makalah berjudul: Kebudayaan Industri, Manusia Islam dan Etik Islam, di sana, antara lain beliau menjelaskan bahwa kebudayaan industri itu berpokok pada pengetahuan objektif. Sikap objektif terhadap alam dan manusia serta cara berpikir yang logis dikembangkan sedemikian rupa oleh para filsuf Islam semisal Al-Kindi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd dan lainnya. Tetapi, umat Islam setelahnya tak lagi meneruskan upaya-upaya mereka, tetapi diambil alih oleh ilmuwan Barat.
“Karena itu, jika umat Islam hendak ikut serta dengan kemajuan ilmu, teknologi dan industri yang menjadi ciri dan kebudayaan modern sekarang ini, mestilah sikap hidupnya berubah. Umat Islam harus kembali kepada etik Islam yang mementingkan kerasioan, pengetahuan dan kegiatan ekonomi seperti diucapkan banyak ayat dalam Alquran dan disokong oleh banyak hadis,” ungkap Musdah, masih mengutip isi tulisan STA tersebut. (M.Dahlan Abubakar)
