Verifikasi Berita untuk Menghindari Radikalisme di Dunia Digital

  • Bagikan
webinar siberkreasi bersama kemenifo pemasaean digital ala k pop

REPUBLIKNEWS.CO.ID,KONAWE SELATA – Penyebaran informasi yang semakin masif memberikan peluang bagi kelompok radikal untuk menyebarkan ideologinya. Banyak sekali konten negatif yang tersebar luas dan mempengaruhi pembacanya. Oleh karena itu, kita perlu bijak menghadapi dan memberantas radikalisme yang tersebar di dunia digital. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” pada 16 September 2021 hadir di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara untuk membahas hal ini dengan pembahasan tema “Berantas Radikalisme Melalui Literasi Digital”. Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Webinar kali ini dimoderatori oleh Fitriyani dan menghadirkan empat narasumber, yaitu Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara dan instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional, Herawati; pemengaruh dan CEO @dutabatikpalu, Zakiyah Ramayanih; pegiat literasi danCEO Roemahkata.com, Yardin Hasan; serta Web Development Specialist dan CEO OM Palu, Stenly Fischer. Webinar kali ini diikuti oleh 692 peserta dari berbagai kalangan. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 peserta.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, Herawati sebagai pembuka sesi materi tampil membawakan tema “Positif, Kreatif, dan Aman di Internet”. Menurut Herawati, blog, jejaring sosial, dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan masyarakat di seluruh dunia. Banyaknya informasi yang beredar di media sosial dan aplikasi percakapan harus disikapi secara bijak, misalnya dengan memverifikasi kebenarannya, serta tidak mudah untuk menyebarkannya tanpa pertimbangan urgensi dan sisi kemanfaatan. “Pertimbangkan apakah informasi tersebut dapat dibagikan kepada orang lain, atau berhenti sampai diri sendiri,” tuturnya.

Selanjutnya, Zakiyah Ramayanih menyampaikan paparan berjudul “Tips Mengenai Berita Palsu dan Verifikasi”. Ia mengatakan, hoaks atau berita palsu dapat diartikan sebagai informasi yang memang sengaja disesatkan, namun dijual sebagai kebenaran. Informasi ini banyak beredar di aplikasi percakapan dan media sosial yang mengangkat isu politik, SARA, dan kesehatan. Langkah-langkah menghindari hoaks, di antaranya mencermati alamat situs atau sumber, periksa fakta dan keaslian foto, serta bergabung dalam komunitas anti hoaks. “Hati-hati dengan judul sensasional yang provokatif,” pesan dia.

Pemateri ketiga, Yardin Hasan, memaparkan materi bertema “Literasi Digital, Vaksin untuk Menjaga Daya Tahan Tubuh Bangsa”. Menurut dia, kelompok terorisme telah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyebarkan paham radikalisme melalui propaganda, pendidikan terorisme, dan separatisme. “Dengan literasi digital, pengguna internet dapat menyaring informasi yang sehat,” katanya.

Stenly Fischer, sebagai narasumber terakhir menyampaikan tema berjudul “Memahami Aplikasi Keamanan dan Pertahanan Siber di Dunia Digital”. Ia mengatakan, cyber security (keamanan siber) merupakan tindakan untuk melindungi sistem dari serangan atau akses ilegal. Tiga jenis ancamannya berupa cyber crime, cyber attack, dan cyber terrorism. Untuk menghindarinya: berhati-hati menerima ajakan pertemanan di media sosial, tidak gampang menyebarkan konten berita, dan pertimbangkan dengan matang sebelum membagikan sesuatu. “Jangan membagikan informasi pribadi seperti alamat, nomor telepon, atau data bank,” ujarnya.

Selanjutnya, Fitriyani selaku moderator memandu sesi tanya jawab yang disambut hangat oleh peserta. Dalam kesempatan tersebut, peserta dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada para narasumber. Sepuluh penanya beruntung berhak mendapatkan hadiah berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 dari panitia.

Salah seorang peserta, Dwi Atmoko Aji, bertanya tentang radikalisme yang terkadang menyudutkan agama tertentu dan bagaimana cara mengantisipasinya. Menanggapi hal tersebut, Yardin Hasan mengatakan, radikalisme terhadap agama tertentu harus dikelola secara hati-hati oleh pemerintah daerah maupun pusat, sehingga ancaman perpecahan bisa dihindari.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

  • Bagikan