0%
logo header
Kamis, 18 Agustus 2022 12:09

77 Tahun Indonesia Merdeka, Pendidikan di Mangga Jaya HST Masih Belum Merdeka

Mulyadi Ma'ruf
Editor : Mulyadi Ma'ruf
Anak-anak pegunungan Meratus mengenakan baju seragam sekolah yang diberikan Komunitas Akar Bukit di Dusun Mangga Jaya. (Istimewa)
Anak-anak pegunungan Meratus mengenakan baju seragam sekolah yang diberikan Komunitas Akar Bukit di Dusun Mangga Jaya. (Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, KALSEL — Komunitas Akar Bukit melakukan pendakian selama 3 hari perjalanan demi mengentaskan pendidikan di pegunungan Meratus, daerah terpencil di Dusun Mangga Jaya, Desa Aing Bantai, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten HST, Kalimantan Selatan. Genap selama 11 hari di perkampungan Dayak Bukit di Meratus, mereka melakukan pengajaran, penyerahan atribut sekolah hingga meneliti keperluan lainnya.

“Pendidikan di Dusun Mangga Jaya, Desa Aing Bantai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah masih jauh dari kata merdeka,” ucap Muhammad Hidayatullah, Founder Komunitas Akar Bukit kepada Republiknews.co.id, Rabu (17/8/2022).

Selama ini, kata Dayat, para siswanya tidak menggunakan seragam layaknya sekolah pada umumnya. Hanya dengan satu guru, kata dia, proses belajar berjalan dan menggunakan tempat Balai Adat, maka terlaksana pendidikan secara sederhana di kampung terpencil tersebut.

Baca Juga : Musda Kosgoro 1957 Sulsel Tunda Pemilihan Ketua, Penjaringan Bakal Calon Dimatangkan

“Bagaimana tidak? Masih terdapat 75% kasus buta aksara di lokasi itu. Jumlah penduduk desa tersebut tahun 2022 tercatat ada 61 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 203 jiwa,” beber Dayat.

Dalam kesempatan itu, bertemu dengan warga Mangga Jaya bernama Apit. Dia menyoroti kasus anak-anak di desanya jauh tertinggal dalam mengenyam pendidikan tersebut. Apit melihat pendidikan sangat jauh dari masyarakat Dayak.

“Bukan kami yang terlambat sekolah, akan tetapi sekolah yang terlambat masuk,” ungkap Apit, dengan raut wajah pilunya tak dapat disembunyikan itu.

Baca Juga : Sulawesi Cup Race Sukses Digelar di Sidrap, Putaran Uang di UMKM Capai Miliaran Rupiah

Ungkapan itu, Komunitas Akar Bukit menangkap kalimat yang berulang kali terdengar dari para kalangan tua di sana. Mereka menaruh harapan besar kepada para anak-anaknya untuk dapat mengeyam pendidikan yang layak.

“Bukan sekadar drama dengan membandingkan film Laskar Pelangi. Menurut warga, kondisi di Mangga Jaya jauh lebih parah dari keadaan di film itu,” jelas Dayat.

Kata Dayat, pihaknya mencatat sejak Juni 2021 pendidikan baru masuk di Dusun Mangga Jaya dengan bentuk masih non-formal berupa pendidikan alternatif Paket A. “Itu pun sempat vakum beberapa bulan karena dua tutor sebelumnya kurang aktif,” ujarnya.

Baca Juga : Pemkot Makassar Gandeng PERADI Perkuat Penegakan Hukum dan Perlindungan Warga

Diakhir 2021, Dayat mengungkapkan bahwa para pengajar dapat berjalan delapan bulan saja. Baru kini, kata dia, kembali aktif lagi diisi oleh dua tutor baru dari desa tetangga, yaitu Desa Batu Perahu. “Nurdin dan Uncit Kesuma namanya, motivasi mereka belajar dan berbagi untuk masyarakat. Maklum, secara rata-rata masih ada ikatan keluarga antar mereka dengan masyarakat setempat,” kata pria kelahiran 1998 itu.

Kata Dayat, para peserta didik pun sangat beragam. Anak-anak, dewasa, hingga orang tua turut bersekolah di sana. Kurikulum yang diterapkan pun membaca, menulis, menghitung (calistung).

“Itu terlepas dari kurikulum 2013 atau merdeka belajar yang diluncurkan pemerintah. Tidak layak diterapkan di sana,” jelasnya.

Baca Juga : Hadiri Muskotlub Perbakin, Ketua KONI Makassar Bicara Soal Bantuan Anggaran Cabor

Nurdin, tutor atau guru yang mendampingi anak-anak di Mangga Jaya merasa bahwa pendidikan masih belum merdeka. Karena, kata dia, masih belum formal, serta bangunan sekolah belum ada. “Terlebih Alat Tulis Kantor (ATK) minim, dan dukungannya belum dapat dirasakan masyarakat. Mudah-mudahan pemerintah dapat memperhatikan,” ucap Nurdin.

Tak ayal, ketiadaan bangunan sekolah membuat mereka melangsungkan di Balai Adat. Pada saat berlangsung Aruh Ganal (acara suci), mereka terkadang harus numpang di rumah warga atau di luar ruangan untuk kegiatan pembelajaran.

Sebanyak 22 peserta didik yang aktif belajar di Pendidikan Paket A itu. Semangat belajarnya pun begitu tinggi bagai barang mewah yang baru bisa dirasakan oleh warga. Siang, sore, hingga malam silih berganti para peserta didik mendatangi guru untuk belajar membaca, menulis, berhitung, serta beragam wawasan umum ingin mereka pelajari.

Baca Juga : Hadiri Muskotlub Perbakin, Ketua KONI Makassar Bicara Soal Bantuan Anggaran Cabor

“Walaupun jam mengajar biasanya pagi hingga siang. Akan tetapi, kapan pun mereka datang untuk belajar selalu kami layani,” jelas Uncit Kesuma.

Sesuai kesepakatan, Nurdin dan Uncit mengajar selama 15 hari dalam sebulan di Mangga Jaya itu. Sedangkan 15 harinya, mereka libur untuk kembali ke keluarga di Batu Perahu, serta mengurus kebun dan ladangnya masing-masing.

Kesepakatan itu dibuat dengan pertimbangan akses yang begitu jauh, yakni sekitar 73 kilometer dari pusat Kota Barabai. Kemampuan mereka berjalan menuju Mangga Jaya memerlukan dua hari perjalanan melintasi hutan belantara Pegunungan Meratus.

Baca Juga : Hadiri Muskotlub Perbakin, Ketua KONI Makassar Bicara Soal Bantuan Anggaran Cabor

“Sedangkan orang baru dan masih awam empat hari baru bisa sampai,” kata Uncit.

Tak ada akses transportasi yang bisa digunakan. Satu-satunya akses hanya menggunakan jalan setapak yang tak jarang bisa bertemu binatang-binatang buas, seperti ular, babi hutan, harimau, bahkan beruang pun masih ada berkeliaran.

“Takut itu pasti ada, tapi dituntut oleh keadaan. Selalu bawa parang untuk berjaga-jaga apabila ada bertemu binatang buas,” ucap Uncit.

Baca Juga : Hadiri Muskotlub Perbakin, Ketua KONI Makassar Bicara Soal Bantuan Anggaran Cabor

Segala ketakutan itu mereka lawan dengan semangat berbagi untuk mencerdaskan anak bangsa sebagai generasi penerus masa depan Mangga Jaya. Terkadang dalam diskusi bersama peserta didik sering terdengar beragam cita-cita yang ingin mereka capai.

“Mulai menjadi guru, TNI, dokter, pembakal/kepala desa sering mereka lontarkan. Akan tetapi, mimpi itu masih menjadi misteri sebuah tanda tanya besar bagaimana akses mereka untuk mencapainya.”

Pada momentum 17-an, Raras adalah anak perempuan asal Mangga Jaya yang memiliki cita-cita layaknya anak lainnya. Dia berkeinginan menjadi pembantu masyarakat terkait kesehatan.

Baca Juga : Hadiri Muskotlub Perbakin, Ketua KONI Makassar Bicara Soal Bantuan Anggaran Cabor

“Cita-citanya ingin jadi dokter,” celoteh Raras (13), salah satu peserta didik.

Komunitas Akar Bukit pun mendapat keterangan bahwa pendidikan Paket A yang berjalan pun masih angkatan pertama. Berdasarkan keterangan lainnya, kondisi itu masih belum ada integrasi jelas kelanjutan jenjang pendidikan tersebut. Dan terlebih terkait beasiswa, biaya hidup, dan beragam penunjang pendidikan ke depan masih tabu.(*)

Penulis : Rahim Arza
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646