0%
logo header
Sabtu, 17 Agustus 2024 11:30

BI Sulsel Talk: Peningkatan Ekspor Dukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Rizki Ernadi Wimanda saat memberikan pandangan di BI Sulsel Talk dengan tema “Strategi Penguatan Ekspor Produk Sulawesi Selatan di Tengah Gejolak Ekonomi Global”, di Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, kemarin. (Dok. Humas BI Sulsel)
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Rizki Ernadi Wimanda saat memberikan pandangan di BI Sulsel Talk dengan tema “Strategi Penguatan Ekspor Produk Sulawesi Selatan di Tengah Gejolak Ekonomi Global”, di Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, kemarin. (Dok. Humas BI Sulsel)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Bank Indonesia Kantor Wilayah Sulawesi Selatan menginiasi pertemuan antar multi sektor dalam membahas sejumlah sektor yang dinilai berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satunya pada aktivitas ekspor.

Pertemuan tersebut bertajuk BI Sulsel Talk dengan tema “Strategi Penguatan Ekspor Produk Sulawesi Selatan di Tengah Gejolak Ekonomi Global”. Kegiatan berlangsung di Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan dengan menghadirkan sejumlah narasumber dengan topik pembahasan spesifik.

Antara lain, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Rizki Ernadi Wimanda, dengan paparan mengenai perkembangan terkini ekonomi global, nasional, dan Sulawesi Selatan. Selanjutnya, Chief Economist PT. Bank Permata Tbk, Josua Pardede, dengan paparan mengenai Strategi Penguatan Ekspor Sulawesi di Tengah Gejolak Ekonomi Global, dan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DPD Sulselbar Arief R. Pabetingi.

Rizki Ernadi mengungkapkan, ekspor merupakan salah satu faktor penting yang turut mendorong perekonomian daerah. Pada triwulan II 2024, laju pertumbuhan ekspor luar negeri Sulsel masih mengalami kontraksi sebesar -10,73 persen secara year of year (yoy), walaupun membaik dibandingkan triwulan I 2024 yang mencatatkan kontraksi lebih dalam sebesar -25,10 persen (yoy).

“Tren kontraksi ekspor luar negeri ini utamanya disebabkan turunnya permintaan komodi nikel. Di tengah penurunan harga nikel di pasar global karena kondisi over supply sehingga menghambat kinerja ekspor nikel Sulsel ke negara mitra dagang yakni Jepang dan Tiongkok,” terangnya, dalam kegiatan.

Selain itu, gejolak geopolitik yang semakin meningkat turut menghambat ekspor Sulsel untuk tumbuh lebih tinggi.

Dirinya menilai, hingga saat ini Sulsel masih memiliki peluang untuk dapat meningkatkan kinerja ekspor dalam mendorong perekonomian daerah. Saat ini kinerja ekspor Sulsel masih relatif terbatas oleh karena pemulihan perekonomian global masih belum optimal karena tingginya ketidakpastian dan dampak dari konflik geopolitik.

Dalam kegiatan ini menyimpulkan empat hal. Pertama, Sulawesi Selatan memiliki potensi ekspor non mineral dari wilayah daratan maupun kepulauan, antara lain rumput laut, ikan segar, serta pertanian dan hortikultura.

Kedua, terkait pengembangan rumput laut, terdapat kendala berupa fluktuasi harga. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan kapasitas produksi, insentif pelaku usaha (termasuk distributor rumput laut), manajemen inventori, dan pengembangan SDM pengelola rumput laut.
Ketiga, diperlukan Sinergi, Kolaborasi, dan Koordinasi (SKK) lintas otoritas untuk meningkatkan kinerja ekspor.

“Mulai dari, kepastian mitra dagang terutama ke pasar non tradisional yakni, Afrika, Nigeria, Timur Tengah. Selain itu, dukungan pembiayaan, dukungan transportasi direct call, serta biaya transportasi yang terjangkau,” terang Rizki.

Keempat, perlu peningkatan industri pengolahan yang selain meningkatkan nilai tambah komoditas,
juga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Sementara, Ketua Umum GPEI DPD Sulselbar Arief R. Pabetingi mengatakan, pemberian insentif daerah berbasis ekspor dapat menjadi salah satu opsi solusi.

“Kami melihat pemberian subsidi dan premi ekspor juga merupakan langkah yang dapat diambil untuk mendorong kinerja ekspor Sulsel ke depan,” katanya singkat.

Di tempat yang sama, Chief Economist PT. Bank Permata Tbk, Josua Pardede
memaparkan bahwa akselerasi hilirisasi rumput laut dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor Sulawesi Selatan.

“Komodi rumput laut juga merupakan komoditi ekspor unggulan Sulsel. Tapi, saat ini porsi rumput laut yang diekspor masih didominasi oleh raw materials atau bukan produk hasil olahan,” ujarnya.

Josua menambahkan, hilirisasi dan pendalaman ekspor tersebut membutuhkan peningkatan kapasitas produksi rumput laut sebagai bahan baku. Pemberian insentif bagi para pelaku usaha, termasuk distribusi bibit rumput laut yang berkualitas dan manajemen inventory dapat membantu meningkatkan produksi sekaligus menjaga fluktuasi harga rumput laut.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646