REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Memulai usaha dari bawah, tentu bukanlah soal yang mudah bagi setiap orang. Selain modal finansial, memulai usaha juga membutuhkan semangat yang besar. Seperti yang dilakukan oleh seorang anak muda asal Makassar ini, yang merintis usaha budidaya ayam dari nol.
Hasan Basri, memulai usaha budidaya peternakan ayam dan bebek organik dengan menggunakan kandang berstandar Internasional, yang berbeda dengan usaha peternakan ayam lainnya.
“Ukuran yang menjadi standar Internasional ialah kandang yang menggunakan struktur bangunan dari baja ringan sehingga kebersihan terjamin, sistem pemeberian pakan dan minum otomatis, sirkulasi udara yang bersih dan jauh dari pemukiman warga, serta menggunakan sistem penghangat kandang untuk mengatur suhu ruangan dimalam hari agar ayam tidak kedinginan,” kata Hasan Basri, saat dihubungi republiknews.co.id, melalui pesan singkat WhatsApp, Jumat (31/01/2020) siang.
Baca Juga : Periode 2026 Ada 31.000 Sertifikat Program PTSL Dibagikan di Gowa

“Alhamdulillah saya memulai usaha ini sudah hampir satu tahun,” tambahnya.
Berbeda dengan budidaya ayam pada umumnya, Hasan Basri membudidaya ayamnya dengan cara organik.
Baca Juga : 3.608 Bidang Tanah Warga Tinggimoncong Kantongi Sertifikat PTSL
“Kita budidaya atau beternak ayam ini dengan cara organik, tidak pakai vaksin, hormon tidak diberi antibiotik apalagi pake bahan-bahan kimia lainnya, semua menggunakan ramuan herbal yang dibuat dengan campuran bahan-bahan alami dari tumbuhan-tumbuhan makanya kami sebut dengan jamu sehat ternak,” ujar Pengurus BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulsel ini.
Dengan begitu, lanjut Hasan, daging ayam yang dihasilkan dijamin lebih nikmat, serat padat rendah kolesterol, kaya akan protein sehat dan aman di komsumsi.
“Insya Allah kami bisa menjamin kualitas dagingnya lebih sehat dan lebih aman jika dikonsumsi, kalau diberi bahan-bahan kimia tentu ada dampak negatifnya terhadap kesehatan dan pasti mengubah tekstur dan rasa daging ayam tersebut meski ayamnya memeng lebih cepat panen dan tahan akan kondisi penyakit,” ucapnya.
Baca Juga : Aset Perbankan di Sulampua Tumbuh 4,26 Persen, Bukukan Rp572,44 Triliun

Hasan mengungkapkan, ayam yang dibudidayakan ini memiliki pasar tersendiri yang tidak berpengaruh dengan lonjakan ayam impor yang merajalela di pasaran yang membuat pasar ayam broiler anjlok akibat impror ayam brazil yang sangat murah.
“Di pasaran kami harga stabil karena pasar organik tersendiri suplai kami skala industri ke perusahaan, catering, Rumah makan dan kebutuhan rumah tangga,” ucapnya.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Kantongi Sertifikat HGB PLTU Punagaya di Jeneponto
“Ayam yang saya budidayakan langsung diambil oleh perusahaan, bahkan saya tidak bisa memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahan mencapai 50 ribu ekor perbulan, sementara saya hanya mampu hasilkan 20 ribu ekor perbulan,” tuturnya.
Saat ini Hasan Basri telah memiliki dua kandanga ayam berstandar Internasional yang terletak di Kabupaten Gowa dan Maros. (La Saddam)
