REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Kinerja industri perbankan nasional, khususnya pada capaian Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil mempertahankan tren pertumbuhan yang solid.
Berdasarkan data yang ada, hingga periode November 2025, DPK tercatat tumbuh sebesar 12,03 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dengan nilai penghimpunan Rp9.899,07 triliun. Capaian ini pun meningkat 11,48 persen secara yoy jika dibandingkan periode Oktober 2025.
“Kinerja positif penghimpunan dana ini mencerminkan kepercayaan masyarakat yang tetap kuat terhadap sektor perbankan nasional, di tengah dinamika perekonomian global,” terang Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, dalam keterangannya, kemarin.
Baca Juga : Solid Bergerak, PSI Sulsel Perkuat Aksi Sosial di Makassar
Tak hanya itu, pertumbuhan DPK yang tetap tinggi ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik, serta ditopang oleh kondisi likuiditas yang memadai.
Sejalan dengan itu, tren penurunan suku bunga perbankan juga terus berlanjut. Suku bunga kredit rupiah tercatat turun sebesar 26 basis poin (bps) secara tahunan dan 4 bps secara bulanan atau month to month (mtm) menjadi 8,97 persen pada November 2025, dibandingkan 9,23 persen pada November 2024 dan 9,01 persen pada Oktober 2025.
“Penurunan ini terutama didorong oleh turunnya suku bunga kredit produktif,” ungkap Dian.
Baca Juga : Rukita Ekspansi ke Indonesia Timur, Resmikan Hunian Coliving Modern di Makassar
Kemudian suku bunga kredit modal kerja tercatat mengalami penurunan cukup signifikan, yakni sebesar 44 bps yoy dan 6 bps mtm menjadi 8,24 persen pada November 2025, dari 8,68 persen pada November 2024 dan 8,30 persen pada Oktober 2025.
Dari sisi penghimpunan dana, suku bunga DPK rupiah juga terpantau menurun sebesar 29 bps yoy dan 8 bps mtm menjadi 2,77 persen. Penurunan ini terutama terjadi pada instrumen deposito. Suku bunga deposito tercatat turun 66 bps yoy dan 15 bps mtm menjadi 4,60 persen pada November 2025, dibandingkan 5,26 persen pada November 2024 dan 4,75 persen pada Oktober 2025.
Baca Juga : DPC Gerindra Makassar Pilih Berbagi di Momen HUT ke-18, Sasar Warga Miskin Ekstrem
Likuiditas industri perbankan nasional pada November 2025 tetap berada pada level yang memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 131,49 persen dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 29,67 persen, jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level tinggi sebesar 210,38 persen, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 83,99 persen, yang menunjukkan masih adanya ruang untuk mendukung pertumbuhan kredit.
Baca Juga : DPC Gerindra Makassar Pilih Berbagi di Momen HUT ke-18, Sasar Warga Miskin Ekstrem
Likuiditas industri perbankan nasional pada November 2025 tetap berada pada level yang memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 131,49 persen dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 29,67 persen, jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level tinggi sebesar 210,38 persen, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 83,99 persen, yang menunjukkan masih adanya ruang untuk mendukung pertumbuhan kredit.
Dari sisi kualitas aset, perbankan nasional tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross tercatat sebesar 2,21 persen, membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,25 persen. NPL net juga menurun menjadi 0,86 persen dari 0,90 persen. Loan at Risk (LaR) tercatat turun menjadi 9,22 persen dibandingkan Oktober 2025 sebesar 9,41 persen.
Ketahanan perbankan nasional juga tercermin dari permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat berada di level tinggi sebesar 26,05 persen, meski sedikit turun dari 26,38 persen pada Oktober 2025.
Baca Juga : Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Bibit, Green House dan Kapal Nelayan untuk Warga Bantaeng
“Tingkat permodalan ini menjadi bantalan yang kuat bagi perbankan dalam mengantisipasi berbagai risiko, termasuk ketidakpastian global,” katanya.
Selain itu, kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan terus menunjukkan pertumbuhan yang tinggi. Per November 2025, porsi kredit BNPL tercatat sebesar 0,32 persen dari total kredit perbankan. Baki debet kredit BNPL tumbuh 20,34 persen yoy menjadi Rp26,20 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,47 juta. Kualitas kredit BNPL juga terjaga dengan NPL gross sebesar 2,04 persen, membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,50 persen.
