Apalagi kata dia, mulai berkembang di medsos imporovisasi dari maulid ini dengan membagi bagikan uang. “Jadi pengganti telur uang seratus atau uang merah. Jadi Seolah-olah maulid ini sebatas materi.
Mari kita bermaulid bukan hanya karena telur dan makanan, sehingga yang menjadi perdebatan apakah maulid anjuran atau larangan? Dua-duanya tidak ada. Intinya maulid ini kita mencari syiarnya. Sehingga kecintaan kita pada Rasulullah bertambah,” jelasnya.
Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kemenag Provinsi Sulawesi Selatan, Kaswad Sartono, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi. Kata dia maulid tidak ada masalah tapi yang diperdebatkan ulama adalah peringatannya.
Baca Juga : Mudahkan Masyarakat dan UMKM, PLN Pastikan Triwulan I 2026 Tarif Listrik Tak Naik
“Memang ada perbedaan dalam melakukan penghormatan dan mahabbah itu dan dialog ini sesungguhnya sudah ada 500 tahun yang lalu,” ungkap.
Diapun mengapresiasi pemuda Muhammadiyah dan berharap dialog ini melahirkan pemikiran yang baik dan bisa ditiru di tempat lain.
Sementara pelaksana kegiatan, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Wajo, Sulaeman Nyampa menyampaikan bahwa cara kita mencintai Rasulullah itu berbeda beda, ada yang melakukan maulid ada yang tidak.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi dan Polda Sulsel Komitmen Jaga Infrastruktur Ketenagalistrikan Berkelanjutan
“Tapi substansinya sama, yaitu sama-sama mencintai Rasulullah. Oleh karena itu, kami menggelar majelis ilmu ini berupa maulid dialogis yang mengangkat tema Maulid Antara Anjuran dan Larangan dari Keberagaman Menuju Indonesia Harmoni,” ucapnya. (*)
