REPUBLIKNEWS.CO.ID, MERAUKE – Pemimpin berganti pemimpin, ruas jalan di wilayah Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua tidak pernah diperbaiki oleh pemerintah daerah setempat. Padahal jalan ini menjadi jalur alternatif dari kota Merauke menuju areal pertanian di Distrik Kurik.
Akses penghubung menuju dermaga penyebrangan Kumbe ini, terbentang kurang lebih sepanjang 70 kilometer melewati Kampung Sidomulyo dan tiga kampung lokal Papua, yakni Kampung Urumb, Waninggap Nanggo dan Matara.
Di beberapa titik di Sidomulyo, Serapuh, Notif, Urumb dan Waninggap Nanggo terlihat kerusakan parah dengan lubang di mana-mana.
Baca Juga : Paslon Bisa Ajukan Gugatan ke MK, Pasca KPU Papua Selatan Umumkan Penetapan Suara Pilgub 2024
Hal itu merepotkan pengendara roda dua dan empat tatkala melintas di jalan itu. Apalagi di musim hujan pengendara harus berjibaku dengan kerusakan yang ada.
“Kami sudah malas berteriak soal jalan ini. Dari tahun ke tahun tidak ada perubahan. Pemimpin ganti pemimpin, jalan ini tetap saja rusak,” keluh salah seorang warga Kampung Urumb, Evemia Gesaur usai kegiatan Serap Aspirasi dengan anggota DPRI RI, H Sulaeman L, Hamzah di Kantor Kampung Waninggap Nanggo Kabupaten Merauke, Selasa (1/3/2022).
Warga lain juga mengeluhkan hal yang serupa. Bahkan menurut penuturan warga akibat kendaraan terhambat di jalan rusak, seorang ibu hamil bernama Tosia Mofu (38) warga Dusun Notif, Kampung Urumb terpaksa melahirkan di atas truk dalam perjalanan menuju puskesmas Kuprik, Distrik Semangga Merauke.
Baca Juga : Partisipasi Pemilih Pilkada 2024 di Papua Selatan 78,12 Persen, Masih Tinggi Dibanding Nasional
“Ibu Tosia yang hamil ini sampe melahirkan di atas truk karena sudah tidak bisa tahan dan telah saatnya tiba untuk melahirkan. Itu tepatnya di jalan rusak ketika mau dibawa ke puskesmas. Ada juga warga lain yang sakit mau dibawa ke rumah tambah kritis karena terhambat jalan rusak itu tadi,” beber Laurensius Lole yang menjabat sebagai Kaur Kesra Kampung Waninggap Nanggo.
Kepala Kampung Urumb, Godefridus Samale Mahuze mengungkapkan ruas jalan ke mengalami kerusakan sudah sejak lama. Kerusakan bertambah parah memasuki tahun 2019-2021 lalu. Pihak kampung telah mengusulkan perbaikan jalan ke pemerintah kabupaten dalam setiap kegiatan musrenbang. Namun hingga saat ini belum juga ada realisasi perbaikannya.
“Kami sudah usulkan baik lewat musrenbang kampung maupun musrenbang distrik. Apa usulan ini diteruskan atau tidak ke tingkat kabupaten, kami tidak tahu lagi,” aku Godefridus.
Baca Juga : KPU Papua Selatan Umumkan Pemenang Pilgub 2024, Safanpo-Imadawa Raih Suara Tertinggi
Menurutnya, perbaikan ruas jalan tersebut merupakan hal prioritas, karena jalan itu satu-satunya akses darat menuju kota Merauke.
“Pernah ada warga kami yang melahirkan di jalan rusak itu ketika akan dihantar ke Puskesmas. Jadi kalau bisa pemkab tolong perhatikan jalan ini,” imbuhnya.
Menanggapi beragam keluhan warga itu, anggota DPRD Kabupaten Merauke, Johan Frederik Paulus mengaku bahwa perihal kerusakan ini pernah disuarakan oleh pihak kampung dan media pun telah mengekspos melalui postingan video di medsos. Dewan telah menyikapi dan menyampaikan hal itu ke pemerintah kabupaten melalui dinas pekerjaan umum untuk segera diprioritaskan perbaikan.
Baca Juga : KPU Papua Selatan Gelar Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara Pilgub 2024
“Setelah melihat postingan itu kami langsung menyampaikan kepala dinas PUPR. Kemarin sudah diprioritaskan karena menjadi akses ke basis kampung lokal orang asli Papua. Dalam perjuangan kami, memang awal tahun ini belum dikerjakan,” ucapnya.
“Namun akan direalisasikan di APBD Perubahan Oktober 2022 nanti. Jadi kita dorong bersama ke pemerintah kabupaten agar bulan Oktober ini benar-benar sudah dikerjakan. Kita doakan bersama,” tutup Johan Paulus.
