REPUBLIKNEWS.CO.ID, BALIKPAPAN — Meski ramai pemberian negatif terkait pernyataan Prof. Budi Santosa Purwokartiko di setatus media sosial yang menyebut seseorang yang menggunakan hijab atau penutup kepala ala manusia gurun. Hal itu tak berdampak pada jabatannya sebagai rektor di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Pasalnya hingga saat ini Prof. Budi Santosa masih aktif dalam menjalankan tugas sebagai rektor ITK.
“Prof Budi tetap aktif di ITK sampai saat ini, beliau saat ini tengah mendapaingi prodi-prodi di ITK yang sedang menyusun agrditasi internasional,” kata Ketua Senat ITK
Nurul Widiastuti saat menggelar Konferensi Pers, Jumat (13/05/2022).
Nurul menyebut, keputusan status Budi Santoso sebagai Rektor dalam kasus pernyataannya yang membuat gaduh sepenuhnya wewenang Institut Teknologi Surabaya yang mana merupakan Hombes dari Prof. Budi Santosa.
“Prof Budi itu homebasenya di ITS, dan yang mempunyai wewenang mengenai proses ini ITS Surabaya, ITK sendiri sudah mengirim surat ke ITS pada 9 Mei, guna penyelesaian lebih lanjut sesuai aturan dan kode etik sesuai ITS,” terangnya
Wakil Rektor Bidang Akademik ITK itu juga menerangkan bahwasanya pernyataan Prof. Budi Santosa di media sosial merupakan pendapat pribadi dan bukan sebagai rektor ITK.
“Dalam forum rapat senat, Prof. Budi telah minta maaf kepada masyarakat dan ITK karena tulisan yang diunggah pada 27 April yang menimbulkan keresahan dan menimbulkan pemberitaan tidak positif kepada ITK, namun perlu dipahami tulisan tersebut adalah pribadi bukan sebagai rektor ITK, namun ITK dengan ini memohon maaf atas kejadian tersebut,” bebernya.
Hingga kini pihak kampus ITK masih menunggu hasil keputusan Dewan dewan kehormatan guru besar ITS Surabaya terkait pernyataan Prof. Budi yang menyebabkan gaduh di masyarakat. Meski demikian pihaknya meminta masyarakat untuk dapat menunggu hasilnya.
“Persolan Prof Budi sudah melalui mekanisme peraturan di ITS, kami dari ITK berharap masyarakat bisa tenang dan kembali sport ITK dalam membangun bangsa,” imbuhnya.
Sementara itu, menanggapi demo yang dilakukan mahasiswa ITK meminta Prof Budi Santosa mundur dari jabatannya, Wakil Rektor Bidang Non Akademik, Muhammad Mashuri menanggapi mahasiswa dapat memahami pernyataan Prof Budi Santosa adalah pernyataan pribadi bukan sebagai rektor ITK.
“Ketika kami hanya menyampaikan terkait bahwa apa yg dilakukan prof Budi, beliau sebagai pribadi bukan rektor ITK. Kami tau posisi ITK, dan tau posisi Prof Budi, jadi kami berharap mahasiswa ITK juga tau posisi mereka sebagai mahasiswa, kita memang perlu menyalurkan aspirasi tapi yang kita harapkan kita tau posisi masing-masing,” ucapnya.
Ia pun meminta, mahasiswa dapat menghormati hasil keputusan hasil Dewan dewan kehormatan guru besar ITS Surabaya.
“Keputusan seperti apa itu bukan di pihak kami yang memutuskan, tunggu hasil ITS, karena masih dalam proses,” pungkasnya.
