REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Dalam rangka memperkuat nilai-nilai perdamaian dan toleransi di kalangan remaja, anak muda, dan tenaga pendidik. Peace Generation Makassar menggelar pelatihan kreatif atau Training for Peace Educator sebagai upaya memperkuat narasi keagamaan dan perdamaian bagi tenaga pendidik di sejumlah sekolah di Makassar.
Koordinator Training for Peace Educator Makassar, Akbar mengatakan bahwa pelatihan ini diikuti para guru dari sekolah komunitas Kristen dan sekolah komunitas Islam yang ada di Makassar. Di mana dalam pelatihannya para peserta diberikan materi terkait 12 nilai perdamaian yang nantinya diharapkan dapat diimplementasikan di lingkungan sekolah.
“Nantinya para peserta ini diharapkan dapat menjadi agent of peace dalam meningkatkan kapasitas dalam transformasi konflik dan terus menebarkan nilai damai, inklusivitas, keberagaman dan toleransi di kehidupan sekolah dan sehari-hari,” katanya, di sela-sela kegiatan, di Hotel Grand Imawan Makassar, Sabtu (5/2/2022) kemarin.
Baca Juga : Munafri Arifuddin Pimpin Langsung Misi Bantuan Kemanusiaan Pemkot Makassar ke Aceh dan Sumatera
Pelatihan tersebut akan digelar selama tiga hari sejak 5 hingga 7 Februari 2022 dan diikuti sekitar 30 peserta. Peserta tersebut terdiri dari tenaga pendidik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Lazuardi Athaillah Makassar dan tenaga pendidik di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Intim Makassar.
Metode pelatihan yang diterapkan yakni metode blended learning atau memadukan antara screen activity (daring) dan non screen activity (luring).
“Seluruh peserta di kegiatan ini akan diberikan misi tindak lanjut untuk menyebarkan pembelajaran yang diterima dalam pertemuan ini,” kata Akbar.
Baca Juga : Tawaran Kerjasama Pendampingan Kesehatan Atlet Belum Direspons, KONI Makassar Akui Kecewa dengan Dinkes
Ia menjelaskan, Training for Peace Educator ini merupakan bagian dari program Breaking Down The Wall (BDW). Dimana program ini mempertemukan siswa dan guru pada seluruh jenjang di sekolah Islam dan Kristen melalui pengajaran kreatif perdamaian dan pelatihan anti bully.
BDW sebagai platform perjumpaan dua komunitas yang berbeda untuk saling belajar, mendengarkan dan menciptakan rasa aman untuk saling berdialog atas kondisi ketegangan dan konflik yang pernah terjadi.
“Melalui program ini maka komunitas Muslim dan Kristen ini akan berjumpa untuk berproses meruntuhkan tembok prasangka. Membangun rasa kepercayaan dan merawat toleransi beragama, sehingga akan menumbuhkan budaya damai dan paham keragaman dalam bingkai persatuan dan kemanusiaan,” harapnya.
Baca Juga : Lewat Bantuan Keuangan Pemprov Sulsel, Jalan Kota di Sidrap Hingga Tellu Limpoe Sudah Rampung
Program BDW ini merupakan program pertama yang digagas di Makassar. Rencananya program ini akan berjalan hingga Maret 2022 mendatang. Pada 2019-2020 kegiatan ini difokuskan di Kota Palu dan Solo, sementara di 2021-2022 difokuskan di Kota Makassar dan Bandung.
“Makassar menjadi salah satu lokus karena berangkat dari data dan riset inteloransi yang ada. Apalagi sempat ada kasus bom bunuh diri di gereja. Makanya kami menilai penting untuk terus massif memberikan sosialisasi toleransi melalui pendidikan,” jelasnya.
Selain menyasar pada kelompok tenaga pendidik, nantinya pelatihan ini juga akan digelar dengan melibatkan para siswa-siswi sebagai pesertanya. (*)
