0%
logo header
Kamis, 29 Januari 2026 23:02

RMS ke PSI: Sinyal Pergeseran Peta Politik Sulsel?

Rizal
Editor : Rizal
Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy Syam. (Foto: Istimewa)
Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy Syam. (Foto: Istimewa)

Oleh: Nursandy Syam (Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia)

Rusdi Masse (RMS) resmi bergabung di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Spekulasi yang selama ini beredar resmi terjawab ketika RMS diperkenalkan oleh Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Hotel Claro, Kota Makassar, Kamis (29/1/2026).

Momen simbolik pemakaian jaket PSI kepada RMS menandai bukan sekadar kepindahan partai saja, melainkan juga dimulainya babak baru dalam dinamika politik Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Solid Bergerak, PSI Sulsel Perkuat Aksi Sosial di Makassar

Peristiwa politik ini tentu jauh melampaui seremoni. Ini adalah manuver elite yang membawa implikasi struktural bagi peta politik Sulawesi Selatan. Yang membuat langkah RMS ini terlihat signifikan bukan sekadar perpindahan partainya, melainkan waktu, posisi, dan arah dari keputusannya.

RMS hengkang dari NasDem ketika masih memegang dua posisi mentereng, yakni Ketua DPW NasDem Sulsel dan Wakil Ketua Komisi III DPR RI. Ini sebuah anomali. Ia tidak meninggalkan partai dalam kondisi terdesak atau konflik terbuka.

Justru sebaliknya, ia pamit dengan catatan prestasi dan konsolidasi yang terjaga. Ini adalah ciri keputusan strategis yang dilakukan saat modal politik masih bernilai.

Baca Juga : Rukita Ekspansi ke Indonesia Timur, Resmikan Hunian Coliving Modern di Makassar

Dalam logika politik rasional, aktor yang bergerak di fase kuat umumnya sedang melakukan reposisi ofensif, bukan langkah defensif. Ini mengindikasikan satu hal penting, yakni mungkin RMS menilai ruang pertumbuhan dan pengaruhnya di NasDem telah mencapai titik jenuh, sementara peluang ekspansi politik justru terbuka di luar.

Lalu bagaimana dengan NasDem Sulsel? kepergian RMS adalah kehilangan figur kunci. RMS bukan hanya leader tetapi sebagai political broker atau pusat penghubung antara struktur partai, elite lokal, dan jaringan elektoral.

Kehilangan figur semacam ini berpotensi melemahkan kohesi internal, terutama di level kader menengah yang selama ini menjadikan figur sebagai referensi arah. NasDem tidak runtuh, tetapi efisiensi mesin politiknya berisiko menurun jika tidak segera dilakukan konsolidasi ulang.

Baca Juga : DPC Gerindra Makassar Pilih Berbagi di Momen HUT ke-18, Sasar Warga Miskin Ekstrem

Terbaru NasDem telah merespons mundurnya RMS dengan cepat. Partai besutan Surya Paloh itu menunjuk Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif sebagai nahkoda baru pengganti RMS di Sulsel.

Kepemimpinan baru itu cukup melegakan tapi belum sepenuhnya menetralisir dinamika partai. Ketiadaan figur RMS memberi dampak paling nyata bukan pada struktur formal, melainkan pada psikologi organisasi. NasDem kini dihantui perpindahan gerbong politik RMS ke PSI.

Gejalanya sudah terlihat dengan bergabungnya sejumlah loyalis RMS yang sebelumnya merupakan kader NasDem. Dalam politik daerah, persepsi elite sering kali mendahului realitas elektoral. Jika transisi kepemimpinan internal tidak dikelola baik, NasDem Sulsel dapat kehilangan momentum politik di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Bibit, Green House dan Kapal Nelayan untuk Warga Bantaeng

Sebaliknya bagi PSI, masuknya RMS adalah lonjakan kualitas politik. PSI selama ini memiliki gagasan dan segmentasi pemilih yang jelas, tetapi lemah dalam tiga aspek krusial, yakni penetrasi elite daerah, pengalaman legislatif senior, dan jaringan politik tradisional.

RMS membawa ketiganya. Artinya, ini bukan sekadar akuisisi kader, melainkan akumulasi kapital politik yang dapat mengubah posisi tawar PSI di Sulawesi Selatan.

Lebih jauh, kepindahan ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa PSI sedang memasuki fase baru, dari partai simbolik menuju partai yang mulai bermain serius dalam arena kekuasaan daerah. Sulawesi Selatan berpotensi menjadi medan uji bagi transformasi PSI tersebut. Namun, peluang ini hanya akan terwujud jika PSI mampu mengintegrasikan figur ke dalam sistem, bukan menjadikannya sekadar etalase politik.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Bibit, Green House dan Kapal Nelayan untuk Warga Bantaeng

Di sisi lain, terdapat risiko yang tidak kecil. Politik Sulsel punya ciri kultur sendiri. Bertumpu pada jejaring, relasi sosial, dan figur lokal. Tanpa adaptasi budaya dan konsolidasi struktur, RMS berisiko menjadi figur kuat yang berdiri sendiri.

Dalam teori organisasi, ini dikenal sebagai over-personalization, kondisi di mana kekuatan individu tidak terkonversi menjadi kekuatan institusional.

Di lokasi acara rakernas PSI, RMS telah menyatakan tekadnya. Membantu Kaesang Pangarep dengan kerja nyata dan perjuangan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat agar kiprah PSI jauh lebih baik.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Bibit, Green House dan Kapal Nelayan untuk Warga Bantaeng

Apakah langkah ini menandai pergeseran peta politik Sulawesi Selatan? Belum final, tetapi jelas ia mengganggu keseimbangan lama. NasDem diuji ketahanannya tanpa figur sekelas RMS, sementara PSI diuji keseriusannya untuk naik kelas. RMS sendiri sedang mempertaruhkan reputasi dan relevansinya di medan baru yang lebih menantang.

Dalam politik, tidak semua perpindahan mengubah peta. Tetapi perpindahan yang dilakukan di puncak kekuatan selalu layak diperhatikan. Jika langkah ini diikuti dengan konsolidasi nyata dan kerja politik yang konsisten, maka RMS tidak hanya pindah haluan, tapi ia juga berpotensi ikut menggeser arus politik Sulawesi Selatan. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646