REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Pelaksanaan Semarak Ramadhan 1445 H yang diselenggarakan Lintas Terkini Project diramaikan dengan talkshow bertajuk “Membangun Brand dan Marketing Community di Social Media”.
Kegiatan ini sebagai pertanda dari puncak Semarak Ramadhan 1445 H yang berlangsung di Plaza Publik Mall Ratu Indah (MaRI) Makassar.
Talkshow ini menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten. Antara lain, Syamsu Rizal atau akrab dikenal Deng Ical.
Baca Juga : Anggaran Infrastruktur Untuk Seko Luwu Utara Capai Rp68 Miliar, Gubernur Sulsel: Insya Allah 2026
Daeng Ical kini seorang politikus PKB dan mantan Wakil Wali Kota Makassar, dan juga Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulsel. Selanjutnya, Branch Manager Trans Snow World Makassar Kartika, Social Media Spesialist Kalla Ayu Mashari Amelia, dan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulsel Herwin Bahar.
Selain itu kegiatan ini dimoderatori Sekertaris Dewan Kesenian Sulsel Irwan AR.
Daeng Ical memaparkan, secara teoritik dalam komunikasi membangun brand dikenal dengan istilah TPM atau Target, Positioning dan Market. Dimana, suatu brand dibangun dengan menentukan apa target yang ingin dicapai, bagaimana posisi tawar di masyarakat atas brand tersebut, dan mengetahui pasar yang disasarnya.
Baca Juga : Kerja Nyata Munafri-Aliyah Sepanjang Tahun 2025: 105 Ruas Jalan Diaspal, 116 Drainase Dibangun
“Bila brandnya menjadi kuat dan ini tidak selalu berarti produk, bisa juga value atau nilai yang malah lebih mahal dari bentuk materinya karena brandnya tertanam kuat di benak publik,” ungkapnya, di sela-sela talkshow, kemarin.
Ia mencontohkan, bagaimana tiga brand yang coba dilemparkan ke publik saat ia melakoni profesi sebagai politisi yaitu, Somberena Makasar, Anak Lorong, dan ‘Deng Ical.
Menurutnya, masing-masing brand tersebut punya segmennya sendiri. Mulai dari Somberena Makasar, Anak Lorong dan Deng Icalnya.
Baca Juga : Mudahkan Masyarakat dan UMKM, PLN Pastikan Triwulan I 2026 Tarif Listrik Tak Naik
“Kebetulan sejak di kampus saya dipanggil Deng Ical dan ketika bergelut di politik kita pakai sedikit ilmu yang dipelajari itu dengan brand Deng Ical tersebut,” urai Ketua Bappilu PKB Sulsel ini.
Hal senada juga diungkapkan Social Media Spesialist Kalla, Ayu Mashari Amelia.
Ia mengaku, teknik membangun brand dalam prakteknya inilah yang digunakan Kalla Group hingga saat ini. Dimana cukup melekat dengan citra Jusuf Kalla atau mantan Wakil Presiden RI.
Baca Juga : Pastikan Tepat Sasaran, Tamsil Linrung Inisiasi Posko Pengaduan Program Strategis Presiden di Sulsel
Hanya saja, diera kekinian Kalla Group mencoba membangun brand dengan keluar dari zona nyaman yang identik dengan tokoh nasional dari Sulsel tersebut.
“Kini, Kalla membangun citra dari values yang dikembangkan dari akronim Kalla atau Kerja Ibadah, Apresiasi Pelanggan, Lebih Cepat Lebih Baik dan Aktif Bersama,” ungkapnya.
Menurut Ayu, citra yang hendak dibangun oleh Kalla saat ini berbeda dengan dahulu. Dimana jika pola pikir dahulu menganggap pelanggan adalah raja, maka saat ini berubah menjadi “Kalla Friends”.
Baca Juga : Pastikan Tepat Sasaran, Tamsil Linrung Inisiasi Posko Pengaduan Program Strategis Presiden di Sulsel
“Ini mengartikan bahwa pelanggan atau customer menjadi bagian bersahabat dan lebih dekat,” ujarnya.
Dalam talkshow tersebut Branch Manager Trans Studio Mall (TSM) Makassar Kartika juga memiliki langkah bagaimana mengembangkan marketing community.
Ia mengaku, TSM Makassar dibawah naungan CT Corp yang dikenal sebagai perusahaan milik Chairul Tanjung dianggap cukup mudah dalam memperkenalkan brand bisnisnya. Hanya saja, berbeda dengan memperkenalkan salah satu wahana yang ada dalam TSM Makassar seperti Trans Snow World.
Baca Juga : Pastikan Tepat Sasaran, Tamsil Linrung Inisiasi Posko Pengaduan Program Strategis Presiden di Sulsel
“Memperkenalkan wahana hiburan yang menjual experience salju itu cukup menantang sebenarnya,” ungkap Kartika.
Sementara, Ketua AMSI Sulsel Herwin Bahar mengungkapkan, branding semakin kuat itu juga turut ditopang oleh media yang memiliki trust atau kepercayaan publik yang tinggi.
Trust media tersebut menjadi pegangan publik terhadap informasi yang diterimanya. Selain bahwa suatu brand semakin dikenal atau menjadi terkenal biasanya ada faktor kontroversial.
Baca Juga : Pastikan Tepat Sasaran, Tamsil Linrung Inisiasi Posko Pengaduan Program Strategis Presiden di Sulsel
“Tidak bisa dipungkiri bahwa kadang kala perlu drama yang menimbulkan kontroversial sehingga menjadi viral dan mendadak terkenal,” ungkapnya.
