REPUPLIKNEWS.CO.ID, MERAUKE – Ribuan umat Katolik Keuskupan Agung Merauke Papua mengawali rangkaian perayaan Pekan Suci dengan perarakan Daun Palma pada hari raya Minggu Palma atau Minggu Daun-Daun yang dimulai dari Lapangan Mandala menuju Gereja St. Fransiskus Xaverius Kathedral Merauke, Minggu (10/04/2022).
Pekan Suci dalam tradisi Gereja Katolik sejagat adalah Tri Hari Suci yang mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus demi penebusan dosa umat manusia. Tri Hari Suci itu adalah Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Sementara Minggu Palma (Minggu Palem) sendiri adalah peristiwa sebelum Pekan Suci dimana memperingati peristiwa Yesus masuk di gerbang Kota Yerusalem 2.000an tahun silam dan dieluh-eluhkan dengan dedaunan sebagai raja, sebelum Ia menderita disalibkan, wafat dan dimakamkan kemudian bangkit dari alam maut pada peristiwa Paskah.
Baca Juga : Paslon Bisa Ajukan Gugatan ke MK, Pasca KPU Papua Selatan Umumkan Penetapan Suara Pilgub 2024
Perayaan Minggu Palma di Gereja St. Fransiskus Xaverius Katedral Merauke ini dipimpin oleh Vikaris Keuskupan Agung Merauke Pastor Hendrikus Kariwop, MSC yang juga menjabat sebagai Pastor Paroki Kathedral.
Dalam khotbahnya di hadapan umat, Pastor Hendrikus Kariwop menekankan pentingnya umat Katolik memaknai perayaan Minggu Palma sebagai momen kegembiraan mengawali kisah kesengsaraan dan wafat Yesus Kristus dalam sejarah penebusan dan penyelamatan umat manusia dari dosa. Minggu Palma adalah peristiwa sukacita sebelum memasuki dukacita (kesedihan).
“Dalam bacaan-bacaan Injil tadi kita telah mendengar ada dua hal yang sangat bertentangan. Bacaan pertama kita mendengar Yesus dieluh-eluhkan sebagai raja damai ketika memasuki Kota Yerusalem. Kita mendengar nyanyian dan sorakkan Hosanna Putera Daud, Terberkatilah Dia yang datang atas nama Tuhan, putera-puteri Yerusalem menyambut-Nya dengan penuh semangat dan sukacita.”
Baca Juga : Partisipasi Pemilih Pilkada 2024 di Papua Selatan 78,12 Persen, Masih Tinggi Dibanding Nasional
“Namun dalam bacaan berikutnya kita mendengar tentang kisah sengsara Yesus Kristus. Sebuah jalan penderitaan Yesus dari Taman Getsemany menelusuri Kota Yerusalem memikul salib ke Golgota dan wafat demi menebus dosa umat manusia. “
“Orang Yerusalem yang sebelumnya mengeluh-eluhkan Yesus justru pada saat sengsara-Nya berteriak keras ‘salibkan dia salibkan dia’. Itulah gambaran kita manusia yang mudah berubah dari suasana mengeluh-eluhkan kemudian mengolok-olokkan. Itulah sifat kita manusia yang mudah putus asa dan goyah pada pendirian,” papar Pastor Hendrikus dalam khotbahnya.
Namun tidak demikian dengan sifat Yesus, lanjut Pastor, yang teguh pada pendirian, menerima tugas dan tanggungjawab yang diberikan Allah Bapa di surga. Dia menjalani penderitaan-Nya dengan penuh sukacita, memikul salib dan disalibkan demi kasih-Nya kepada umat manusia.
Baca Juga : KPU Papua Selatan Umumkan Pemenang Pilgub 2024, Safanpo-Imadawa Raih Suara Tertinggi
“Meski di tengah penderitaan masih berbuat baik kepada orang lain. Dia tetap menghibur wanita-wanita Yerusalem yang menangisi diriNya. ‘Hai wanita Yerusalem, jangan tangisi Aku tangisilah dirimu dan anak-anakmu’. Itulah sifat Yesus yang tetap setia dan kuat di dalam penderitaaNya menjelang kematian di kayu salib,” ucapnya.
Pastor Hendrikus mengajak umat untuk meneladani kesetiaan dan kasih Yesus kepada manusia hingga mengorbankan nyawaNya. Pastor juga mengingatkan umat untuk selalu mengasihi dan mengampuni sesama yang telah berbuat jahat sebagaimana ajaran Yesus melalui teladanNya.
“Apakah kita rela memaafkan dan mengampuni orang lain? Yesus mengampuni penyamun yang bertobat di kayu salib, seorang pendosa yang bertobat dan mengaku Yesus sebagai raja maka Dia mengizinkannya masuk ke Firdaus. Peristiwa Minggu Palma, Yesus Sang Raja Damai mengajarkan kita tentang pentingnya kedamaian. Daun Palma menyimbolkan damai dalam hidup,” pesan Pastor dalam khotbahnya. (*)
