REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Komitmen DPW Perempuan Bangsa PKB Sulawesi Selatan dalam pemberdayaan dan penanganan masalah-masalah perempuan tak perlu diragukan lagi.
Terbaru, mereka menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) di Kabupaten Gowa, Kamis (29/1/2026) lalu. Muskerwil tersebut merumuskan hal-hal penting terkait program kerja dan penguatan organisasi.
Ketua DPW Perempuan Bangsa PKB Sulsel, Hj Fadilah Fahriana menjelaskan bahwa saat ini kepengurusan PB Sulsel sudah terbentuk sebanyak 22 DPC kabupaten/kota dari 24 daerah di Sulsel.
Baca Juga : Di Rakornas 2026, Gubernur Andi Sudirman Tegaskan Kesiapan Sulsel Jalankan Program Prioritas Presiden
“Kami terus memperkuat dan melebarkan struktur organisasi Perempuan Bangsa sampai ke tingkat desa,” kata Fadilah, Senin (2/2/2026).
Saat ini katanya, pihaknya intens berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak DPC di daerah. Dalam kepengurusannya, Fadilah mengupayakan selalu membuka ruang diskusi dengan DPC terkait program dan kegiatan yang sinergi dengan partai.
“Salah satu adalah merekrut dan melakukan pendidikan kader (DIKBAR) Perempuan Bangsa yang pesertanya kami rekrut dari kalangan muda seperti mahasiswa, pelajar dan ibu-ibu muda,” beber Fadilah.
Baca Juga : Munafri-Aliyah Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Program Presiden di Rakornas 2026
Saat ini katanya, DIKBAR tersebut telah digelar di tiga kabupaten/kota di Sulsel. Jumlah pesertanya tak main-main, kurang lebih 450 orang kader perempuan dengan usia mayoritas 17-30 tahun.
“Selain itu, kami juga sudah merancang beberapa program yang akan menarik kaum muda di Sulsel, seperti seminar UMKM dan beragam lomba untuk kaum muda,” ujar Fadilah.
Menurut legislator DPRD Sulawesi Selatan itu, selain program kerja, pihaknya juga fokus pada kaderisasi perempuan, kegiatan sosial yang lebih intens, serta meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah perempuan dan anak yang saat ini banyak terjadi di masyarakat.
Baca Juga : Produksi Gabah Kering Panen Sidrap Naik di 2025, Hasilkan Rp4,51 Triliun
“Ambil contoh misalnya, pentingnya pendampingan pendidikan bagi calon pengantin wanita, hingga masalah parenting dalam keluarga,” kata Fadilah.
“Perempuan kadang terlalu tertutup masalah politik, ketebatasan waktu, dan masih banyaknya adat budaya patriarki di Sulsel. Paradigma inilah yang coba kita ubah demi kemajuan kaum perempuan di Sulsel,” tutupnya. (*)
