0%
logo header
Kamis, 13 Juli 2023 00:54

FKTP Sulsel Dorong Kontribusi Perempuan Cegah Paham Terorisme Lewat Pendekatan Media Digital

Chaerani
Editor : Chaerani
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Prof. Irfan Idris saat memberikan sambutan pada Pembukaan Perempuan Teladan, Optimis dan Produktif (TOP) Cerdas Digital Satukan Bangsa, di Ruang Senat Universitas Hasanuddin, Gedung Rektorat Lantai II Unhas, Selasa, (12/07/2023). (Chaerani/Republiknews.co.id)
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Prof. Irfan Idris saat memberikan sambutan pada Pembukaan Perempuan Teladan, Optimis dan Produktif (TOP) Cerdas Digital Satukan Bangsa, di Ruang Senat Universitas Hasanuddin, Gedung Rektorat Lantai II Unhas, Selasa, (12/07/2023). (Chaerani/Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKTP) Sulawesi Selatan melibatkan peran perempuan dalam mendorong pencegahan paham terorisme di tengah-tengah masyarakat dengan cerdas menggunakan media digital.

Hal ini dinilai penting sebab perkembangan media digital terutama media sosial dinilai memiliki kontribusi besar dalam memicu terpaparnya paham terorisme. Upaya yang dilakukan FKTP Sulsel pun salah satunya melaksanakan kegiatan bertajuk “Perempuan Teladan, Optimis dan Produktif (TOP) Cerdas Digital Satukan Bangsa”.

Ketua Bidang Perempuan dan Anak FKTP Sulsel Prof. Farida Pattittingi mengatakan, dalam pertemuan ini pihaknya menghadirkan seluruh pimpinan-pimpinan dari organisasi perempuan yang ada di Sulawesi Selatan dan Kota Makassar secara khusus. Keterlibatan organisasi perempuan ini diharapkan nantinya bisa ambil bagian dalam mengajak perempuan-perempuan lainnya untuk bisa cerdas menggunakan media sosial untuk melakukan upaya pencegahan paham terorisme.

Baca Juga : Pastikan Tepat Sasaran, Tamsil Linrung Inisiasi Posko Pengaduan Program Strategis Presiden di Sulsel

“Kita harapkan perempuan-perempuan yang terlibat hari ini bisa memiliki pemahaman, dan mereka kemudian bisa memberikan informasi kepada yang lainnya atau sifatnya berjejaring. Utamanya di pada kalangan ibu-ibu rumah tangga yang hampir setiap hari menggunakan media sosial dan mudah menerima mentah-mentah informasi yang ada,” katanya di sela-sela pembukaan kegiatan, di Ruang Senat Universitas Hasanuddin, Gedung Rektorat Lantai II Unhas, Selasa, (12/07/2023).

Prof. Farida mengaku, di era digital yang begitu tanpa batas juga membuka luas sumber-sumber informasi, baik informasi yang benar maupun informasi yang bersifat bohong atau hoax. Sehingga, perlu adanya penguatan literasi kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya perempuan.

“Pemberian literasi penguatan ini tentunya menyasar seluruh komponen bangsa tanpa membedakan suku, agama, dan lainnya. Di mana dengan memberikan pemahaman yang secara utuh seperti apa bahaya radikalisme itu,” ujarnya.

Baca Juga : Angkat Ikon Geopark di Bandara Hasanuddin, Gubernur Sulsel: Gerbang Awal Promosi Pariwisata Sulsel

Belum lagi keterlibatan perempuan yang terpapar paham terorisme sudah sangat banyak. Jika sebelumnya mereka (perempuan) hanya sebagai supporting atau pendorong saja. Tetapi sekarang sudah menjadi pelaku. Hal ini terlihat pada beberapa kasus perempuan-perempuan produkti pada usia 27 hingga 40 tahun menjadi pelaku bom bunuh diri.

Tentunya katanya, hal ini karena paham radikalisme yang telah masuk dalam alam pikiran, apalagi memang radikalisme itu berasal pada alam pikiran, sehingga susah untuk terbaca. Hal ini berbeda dengan gerakan teror (terorisme) yang bisa ditanggulangi oleh Densus 88 jika ada yang terjadi aksi terorisme.

“Kalau radikalisme itu di wilayah alam pikiran yang sangat membahayakan karena bisa berhubungan dengan terorisme. Jadi kalau orang ekstremisme, radikalisme kemudian menjadi terorisme. Karena itu kita harap pertemuan kita dapat memberikan pemahaman secara utuh dan memberikan contoh-contoh kongkrit betapa bahayanya radikalisme tersebut,” harap Wakil Rektor Bidang Sumberdaya Manusia, Alumni, dan Sistem Informasi Unhas ini.

Baca Juga : Resmi Disetujui, Pemkot dan DPRD Makassar Perkuat Regulasi Kearsipan, Pesantren dan Tata Kelola Keuangan

Selanjutnya, pendekatan sosial atau digital yang didorong tujuannya untuk mengajak masyarakat cerdas secara digital, sehingga mereka tidak lagi menjadi pelaku yang gampang membagikan informasi tanpa mengcunter. Termasuk juga menambah literasi dan pemahaman yang baik kepada perempuan agar mereka bisa memberikan pemahaman kepada anak-anaknya, keluarganya, dan kepada lingkungan sekitar lainnya.

“Kita ingin mengajak kalau menggunakan media sosial itu jangan sembarang kita mengshare atau jangan menerima mentah-mentah informasi yang diterima, ini yang banyak sekali menjadi terorisme karena media sosial. Mereka termakan iming-iming disitu, seperti janji-janji surga, janji-janji ekonomi yang lebih baik dan seterusnya. Itulah yang hari ini ingin kita sampaikan supaya seluruh perempuan hebat ini punya literasi yang baik agar bisa mensosialisasikan kepada relasi yang ada,” ujarnya.

Sementara, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Prof. Irfan Idris mengungkapkan, pihaknya sangat memberikan apresiasi atas upaya FKPT Sulsel yang mendorong peran perempuan-perempuan hebat untuk bisa melakukan langkah-langkah produktif dalam hal menebar dan menabur nilai-nilai perdamaian ke masyarakat.

Baca Juga : IPM Makassar 2025 Tertinggi di Sulsel, Tembus Peringkat 7 Nasional

“FKTP ini adalah perpanjangan tangan dari BNPT karena BNPT tidak ada di daerah. Kegiatan yang dilakukan FKTP Sulsel ini sangat bagus karena akan menambah pengetahuan kita agar kita semakin bisa menguasai dunia sosial, serta menggunakannya dengan sangat baik,” ungkapnya.

Prof Irfan mengungkapkan, terorisme adalah kejahatan luar biasa, kejahatan lintas negara, kejahatan serius, dan kejahatan kemanusiaan. Sebab, dampaknya tidak hanya menimbulkan korban jiwa, merusak harta benda. Tetapi, merusak stabilitas tatanan negara dalam hal ekonomi, pertahanan keamanan, pertahanan sosial budaya dan lainnya.

“Ini akan menjadi ancaman bagi peradaban modern karena merupakan kejahatan terhadap perdamaian. Karena terorisme ini adalah tindak kejahatan liar biasa olehnya itu pencegahannya juga harus luar biasa dengan program yang luar biasa seperti yang ada saat ini,” tegasnya.

Baca Juga : IPM Makassar 2025 Tertinggi di Sulsel, Tembus Peringkat 7 Nasional

Menurutnya, secara pengetahuan radikalisme ini mengandung makna radikal yang artinya berpikir komprehensif, tuntas, dan berakar. Hanya saja akan menjadi negatif karena menggunakan kekerasan dan paham keagamaan. Pasalnya, ketika berbicara agama maka itu adalah kedamaian, karena agama itu bagian solusi, bukan dengan beragama menjadi bagian masalah.

Belum lagi, secara konstitusional, Indonesia memiliki enam agama yang diakui, dan disana tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi kenapa kekurangan itu menjadi jurang pemisah di antara mereka yang berbeda agama.

“Makanya mari kita melirik persamaan-persamaan dan kekuatan-kekuatan itu untuk menyatukan bahwasanya Indonesia bukan negara agama tetapi seluruh penduduknya semua menganut agama,” terangnya.

Baca Juga : IPM Makassar 2025 Tertinggi di Sulsel, Tembus Peringkat 7 Nasional

Terpapar paham terorisme bukan karena agama tetapi ada tiga motif yang menyebabkan. Antara lain, ideologi, politik, dan ganguaan keamanan. Selain itu terorisme ini juga sudah ada dalam UU Nomor 5 Tahun 2018.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646