REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR – Bangunan yang terletak di Jalan Lamaddukelleng Nomor 3 itu tampak lenggang. Hingar bingar kendaraan yang berlalu lalang seolah tak akan mengusik siapa pun yang berada di dalam.
Jika tak ada papan besar yang terpasang di pagar bertuliskan ‘Perpustakaan Kota Makassar’, mungkin tak banyak orang yang menyadari bahwa bangunan itu sejatinya merupakan sebuah perpustakaan. Maklum, bangunan di sebelahnya terlihat lebih menonjol dibanding bangunan itu.
Perpustakaan Kota Makassar tersebut merupakan sebuah bangunan yang berlantai tiga yang didominasi dengan cat berwarna orange dan hijau. Bangunan ini terdiri dari tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai Gedung Pertemuan, lantai dua sebagai perpustakaan dan lantai tiga sebagai tempat penyimpanan buku-buku tentang sejarah Makassar.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi dan Polda Sulsel Komitmen Jaga Infrastruktur Ketenagalistrikan Berkelanjutan
beberapa orang pengunjung terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang membaca buku, membaca koran, hingga mengerjakan sesuatu dengan laptop yang dibawanya. Mereka tampak tak begitu terganggu dengan suara kipas angin yang terpasang di dinding.
1. Sebagian besar buku adalah buku tua
Saat memasuki ruangan di lantai dua itu, aroma buku-buku tua seketika menyambut indera penciuman. Aroma yang cukup menyenangkan bagi sebagian orang, khususnya para book sniffer atau mereka yang senang dengan aroma kertas buku.
Baca Juga : Terima Penghargaan KIP, Pemkab Gowa Ciptakan Keterbukaan Pelayanan Informasi Publik
Lantai dua merupakan ruangan yang tidak begitu luas. Di sana ada banyak rak buku. Berbagai jenis buku mulai dari buku tentang ilmu pengetahuan, bahasa, hingga novel terlihat berjajar rapi mengisi rak-rak buku itu.
Sayangnya, ada kesan kurang terawat dari buku-buku itu. Sebagian besar buku terlihat lusuh dan berdebu. Sampulnya tampak mulai koyak dimakan usia, begitu pun dengan kertasnya yang mulai menguning.
Tak hanya itu, buku-buku yang menjejali setiap rak buku sebagian besar adalah buku edisi lama. Hampir tak ada buku edisi terbaru yang dipajang. Maka tak jangan harap akan ada buku dengan sampul mengilat di sini.
Baca Juga : Indosat Berbagi Kasih: Anak-anak Nikmati Kehangatan dan Sukacita Natal
2. Koleksi buku dianggap kurang lengkap
Salah satu pengunjung, Ulfa, juga mengakui persoalan buku tua itu. Menurutnya, suasana di Perpustakaan Kota cukup nyaman dan adem. Hanya saja, koleksi buku yang sebagian besar adalah buku tua sejatinya perlu dibenahi.
“Suasananya terbilang tenang. Tapi kalau keadaan buku atau fasilitasnya masih ada yang lerlu dibenanhi. Bukunya rata-rata terbitan lama. Jadi perlu pembaruan buku,” ujar Ulfa, saat berbincang santai pada awak media Rabu (29/01/2020) kemarin.
Baca Juga : Perkuat Penerapan K3, PLN UIP Sulawesi Lakukan Management Patrol di GI Punagaya
Ulfa bersama kedua rekannya mengaku datang ke perpustakaan tersebut untuk mencari referensi tentang bahan penelitian skripsi. Namun dia yang mencari referensi mengenai kebudayaan harus cukup kecewa lantaran tidak semua buku yang dicarinya ada di perpustakaan itu.
“Kita datang untuk cari referensi buat penelitian skripsi. Tapi referensinya kurang, ada yang dapat ada yang tidak. Jadi kalau bisa, setiap perpustakaan harus bisa tambah buku-bukunya supaya orang berniat juga mendatangi,” katanya.

Baca Juga : Perkuat Penerapan K3, PLN UIP Sulawesi Lakukan Management Patrol di GI Punagaya
3. Pengadaan buku dilakukan meski terbatas
Menjawab hal ini, Tulus Wulan Juni, selaku pustakawan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, mengaku sebenarnya tidak ada yang namanya buku tua dalam perpustakaan. Sama dengan kitab suci yang tak akan pernah tua, demikian halnya buku yang akan selalu termasuk baru dalam ilmu pengetahuan.
Bahkan, kata dia, dalam Undang-undang Perpustakaan, buku yang berusia di atas 50 tahun adalah buku langka yang harus dilestarikan.
Baca Juga : Perkuat Penerapan K3, PLN UIP Sulawesi Lakukan Management Patrol di GI Punagaya
“Hanya saja cover yang sudah tua atau rusak. Tetapi isi adalah harta karun dan rujukan bagi yang membutuhkan. Dinas Perpustakaan setiap tahun juga mengadakan penambahan walaupun jumlahnya masih terbatas,” ungkap Tulus.
Penambahan judul buku, lanjutnya, dilakukan setiap tahun melalui pengadaan, penerbitan, maupun sumbangan. Meski begitu, ia mengaku bahwa pengadaan koleksi buku itu memang masih sangat terbatas namun tetap diupayakan setiap tahun.
4. Digitalisasi perpustakaan segera dilakukan
Baca Juga : Perkuat Penerapan K3, PLN UIP Sulawesi Lakukan Management Patrol di GI Punagaya
Menurut Tulus, Pemerintah Kota Makassar akan segera membangun gedung Perpustakaan Kota Makassar yang modern tahun ini. Perpustakaan ini nantinya tidak hanya dilengkapi dengan buku konvensional tapi juga buku digital (e-book).
Meski demikian, bukan berarti buku digital tak tersedia di Perpustakaan Kota Makassar. Di gedung itu, kata Tulus, ada satu unit komputer yang memiliki sekitar 2.000 e-book yang bisa dibaca pengunjung. Ada pula aplikasi e-Pustaka Kota Makassar yang dapat diunduh di Playstore.
“Cuma fasilitas yang masih terbatas. Insya Allah nanti di tempat yang baru nanti baru lengkap dan jadilah perpustakaan sebagai ikon Kota Makassar,” katanya.
Baca Juga : Perkuat Penerapan K3, PLN UIP Sulawesi Lakukan Management Patrol di GI Punagaya
Dia menambahkan, pembenahan dilakukan bukan saja perpustakaan umum tapi juga perpustakaan sekolah melalui program Sentuh Pustaka.
“Dari binaan tersebut ada 10 perpustakaan sekolah yang kami sudah persiapkan untuk mengikuti akreditasi. Mereka sudah menata perpustakaannya sesuai Standar Nasional Perpustakaan dan dilengkapi sarana IT untuk pengelolaan perpustakaan,” ucap Tulus. (Thamzil)
