0%
logo header
Jumat, 22 Oktober 2021 08:33

Prof. Musdah Mulia: Tingkat Religiusitas Negara Berbanding Terbalik dengan Kemajuan Ekonomi

Redaksi
Editor : Redaksi
Guru Besar UIN Jakarta, Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A.
Guru Besar UIN Jakarta, Prof.Dr. Musdah Mulia, M.A.

Dalam catatan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) sepanjang tahun 2016 saja, terjadi 450 lebih konflik agraria di seluruh Indonesia dengan luasan tanah mencapai 1,26 juta hektar demi proyek infrastruktur perluasan perkebunan, pertambangan dan sebagainya. Akibatnya, sebanyak 86. 745 kepala keluarga kehilangan ruang hidup dan sumber penghidupannya. Tentu dalam hal ini bukan agama yang salah, melainkan kebanyakan penganut agama belum mampu menghayati agama sebagai jalan pembebasan dari beragam krisis kemanusiaan. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tudingan lalu tertuju kepada agama Islam, sejatinya semua penganut agama mengalami krisis serupa.

Menurut Musdah Muliah, kondisi krisis agama inilah yang menjadi salah satu perhatian  Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Dalam tulisan berjudul Etik Islam untuk Etik Dunia yang Sedang Tumbuh, STA menjelaskan, seharusnya umat Islam Indonesia mampu menciptakan kebudayaan yang membawa negara kepada kemajuan. Kebudayaan adalah hasil dari keaktifan atau daya budi manusia. Manusia dalam konsep Islam adalah makhluk tertinggi, malahan lebih tinggi dari malaikat sehingga diangkat sebagai khalifah atau wakil Tuhan di dunia. Manusia bukan hanya ditugaskan berserah diri mengabdi kepada Tuhan, melainkan dengan kecakapan yang diberikan Tuhan dalam bentuk budi, menciptakan kebudayaan di tengah-tengah alam semesta.

“Manusia harus mampu mengembangkan ilmu, teknologi dan kemajuan ekonomi untuk kemaslahatan semua sehingga dapat hidup sejahtera, penuh solidaritas dan kedamaian. Namun, kenyataannya umat Islam abai terhadap pengembangan ilmu, teknologi dan ekonomi sehingga mengalami krisis berlarut-larut, kehidupan mereka diliputi takhayul, mitos dan konflik kepentingan,” ungkap Musdah mengutip STA.

Baca Juga : PLN UIP Sulawesi dan Polda Sulsel Komitmen Jaga Infrastruktur Ketenagalistrikan Berkelanjutan

Kata Musdah dalam presentasinya berjudul “Penguatan Literasi Agama Mewujudkan Indonesia Maju” , itulah sebabnya, STA membangun Pusat Pengkajian Islam (Center of Islamic Studies) dengan tujuan mengedukasi umat Islam agar menghayati konsep tauhid sebagai inti ajaran Islam. Ajaran yang menjunjung tinggi pentingnya ilmu pengetahuan, pentingnya manusia sebagai makhluk bermartabat, dan pentingnya membebaskan sesama manusia dari jeratan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Dalam konteks inilah, STA menggagas pembangunan masjid dengan arsitektur unik, puncaknya bukan berupa kubah, melainkan simbol bunga berkembang dengan lima kelopak. Bunga berkembang melambangkan pikiran bahwa seseorang yang mencapai tingkat tauhid, yakni penyerahan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, maka dengan sendirinya kehidupan duniawinya pun turut berkembang. Agama membuat manusia hidup lebih bergairah, menciptakan kebudayaan dengan penuh tanggung jawab, bersolidaritas, penuh kasih sayang kepada sesama, maupun makhluk lain di sekitarnya.

“Selanjutnya, lima kelopak bunga melambangkan: ketauhidan, kesadaran bahwa semua agama menjunjung kemahaesaan Tuhan, kekhalifahan manusia sebagai makhluk tertinggi, pentingnya ilmu untuk membangun kebudayaan, dan terakhir pentingnya usaha ekonomi yang hakikatnya adalah memakai hukum-hukum Tuhan demi memenuhi keperluan hidup manusia yang layak di dunia sebagai khalifah Tuhan,” demikian Musdah Mulia mengutip buku Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan pada tahun 1992 tersebut.

Halaman
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646