Terkait pentingnya penguatan ekonomi, STA berulang kali menulis dengan nada gemas sebagai berikut: ”Siapakah yang mengatakan bahwa syarat untuk akhirat yang kekal dan bahagia adalah kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan di dunia ini?”
Demi menggugah kesadaran umat Islam tentang pentingnya kebudayaan industri, menurut Musdah, beliau menulis sebuah makalah berjudul: Kebudayaan Industri, Manusia Islam dan Etik Islam, di sana, antara lain beliau menjelaskan bahwa kebudayaan industri itu berpokok pada pengetahuan objektif. Sikap objektif terhadap alam dan manusia serta cara berpikir yang logis dikembangkan sedemikian rupa oleh para filsuf Islam semisal Al-Kindi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd dan lainnya. Tetapi, umat Islam setelahnya tak lagi meneruskan upaya-upaya mereka, tetapi diambil alih oleh ilmuwan Barat.
“Karena itu, jika umat Islam hendak ikut serta dengan kemajuan ilmu, teknologi dan industri yang menjadi ciri dan kebudayaan modern sekarang ini, mestilah sikap hidupnya berubah. Umat Islam harus kembali kepada etik Islam yang mementingkan kerasioan, pengetahuan dan kegiatan ekonomi seperti diucapkan banyak ayat dalam Alquran dan disokong oleh banyak hadis,” ungkap Musdah, masih mengutip isi tulisan STA tersebut. (M.Dahlan Abubakar)
