REPUBLIKNEWS.CO.ID, MAKASSAR — ICRAF Indonesia (Landscape Alliance) melalui program Land4Lives memfasilitasi pertemuan antara peneliti, dosen, mahasiswa, pemerintah daerah, dan pegiat pangan dengan membahas penguatan kemandirian pangan lokal di tengah krisis iklim. Khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.
Hal ini dibahas dalam Konferensi Ilmiah Sistem Pangan Berkelanjutan bertajuk “Simpul Pangan Nusantara” yang memfasilitasi 62 karya ilmiah dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan mengangkat isu penguatan ketahanan pangan. Puluhan karya ini terdiri dari 43 makalah dan 19 poster ilmiah dengan topik mulai dari kebun pekarangan rumah tangga hingga tata kelola daerah aliran sungai, dan kebijakan provinsi.
“Pertemuan ini menjadi ruang refleksi atau diskusi berbasis bukti yang empiris, termasuk perumusan langkah konkret bagi masa depan ketahanan pangan, serta kemandirian pangan di wilayah Sulawesi Selatan. Apalagi ini berkesesuaian dengan kondisi Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional,” ujar Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Provinsi Sulawesi Selatan, M. Ishaq Iskandar, usai pertemuan, di Hotel & Convention Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu, (07/10/2026).
Baca Juga : Zulkifli Hasan Tantang Pengurus Baru PAN Sulsel Raih 6 Kursi DPR RI
Menurutnya, langkah yang dilakukan ICRAF Indonesia melalui dukungan pendanaan dari Pemerintah Kanada akan mendorong terwujudnya sistem berkelanjutan di Indonesia dan dunia, yang kemudian juga di mulai dari Sulawesi Selatan.
“Ini adalah langkah konkret untuk membangun kemandirian pangan demi ketangguhan iklim dari tapak sampai ke lanskap,” terangnya.
Lanjutnya, apalagi, sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan tidak hanya menjadi roda penggerak ekonomi daerah. Tetapi juga menjadi penopang stabilitas ketahanan pangan nasional, terutama di wilayah Indonesia Timur.
Baca Juga : PLN Bekali Pekerja Proyek SUTT 150 kV Palu 3-Tambu Prosuder Keselamatan Kerja
“Kami sangat mengapresiasi karena memang untuk pertanian, untuk ketahanan pangan itu membutuhkan kolaborasi dengan multi pihak, termasuk dengan para peneliti, para ilmuwan yang tentu akan menambah misalnya ilmu lagi tentang bagaimana supaya ketahanan pangan kita semakin baik. Apalagi di era musim kering, El Nino ini menjadi satu tantangan berat untuk pangan kita,” ujarnya.
Dalam upaya penguatan ketahanan dan kemandirian pangan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saat ini telah melakukan beberapa bentuk intervensi. Salah satunya dalam Multi Years Project yang digagas Gubernur Sulawesi Selatan pada penguatan sektor pertanian, perkebunan dan lainnya melalui irigasi.
“Kita telah memperkuat beberapa hal, termasuk dengan pembagian sumur bor dan pompanisasi untuk pertanian kita. Ada juga pembagian bibit-bibit varietas unggul. Saya kira banyak sekali diversifikasi, apalagi juga dari pemerintah pusat yang banyak membantu untuk alat-alat pertanian, bibit, dan seterusnya,” tegas M. Ishaq.
Baca Juga : Kalla Toyota Dorong Pelestarian Ekosistem Pesisir Dengan Tanam 43 Ribu Mangrove
Sementara, Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bappelitbangda Sulawesi Selatan, Inyo, mengakui sejak terjalinnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan ICRAF Indonesia selama lima tahun melalui perencanaan berbasis data atau ilmiah. Tujuannya, agar seluruh perencanaan yang bermuara pada kebijakan didukung melalui bukti yang konkret.
“Salah satu yang menjadi faktor utama untuk menentukan berhasil tidaknya perencanaan itu adalah memastikan bahwa seluruh data-data itu berbasis riset. Dan kita sangat bersyukur karena ICRAF ini adalah salah satu lembaga yang bisa membantu kita mulai dari perencanaannya, analisis datanya sampai dengan implementasi di lapangan,” terangnya.
Dukungan Akademisi Dorong Ketahanan Pangan Dari Tapak ke Tingkat Lanskap Hingga Kebijakan Daerah
Dekan Fakultas Pertanian Unhas, Prof. Rismaneswati mengungkapkan, dalam mendukung penguatan program tersebut berbagai universitas melalui para ahli datang dengan temuan-temuan berbasis inovasi .
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
“Bentuk hasil riset ini harus diterapkan di lapangan. Dan salah satu bentuknya saya kira dengan agroforestry. Misalnya, tetap ada pohon, tetapi di bawahnya tetap ada tanaman pangan, dan tanaman yang lainnya, perkebunan juga ada di dalamnya, ada yang sudah berbasis kakao, ada yang berbasis kopi, meskipun di bawah tegakan pohon,” ungkapnya.
Pertemuan ini pun menjadi bentuk kontribusi dari para akademisi untuk mendukung program penguatan ketahanan pangan bagi Sulawesi Selatan di era perubahan iklim saat ini. Sehingga, dari makalah yang dihadirkan para akademisi, peneliti berfokus pada upaya melahirkan inovasi-inovasi baru di dalam mengimplementasikan program yang berbasis berkelanjutan atau sustainability.

Prof. Rismaneswati menambahkan, potensi penguatan sektor pangan di Sulawesi Selatan cukup besar. Misalnya, aspek biofisik atau tanah iklim di Sulawesi Selatan untuk pengembangan pertanian, baik tanaman pangan, perkebunan diberkahi dengan sumber daya yang luar biasa.
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
Ia mencontohkan, dari ujung utara sampai ujung selatan daerah ini bisa mengembangkan berbagai macam komoditi. Di ujung utara akan fokus ke perkebunan, kemudian di bagian selatan akan fokus pada tanaman pangan, terutama untuk pengembangan pangan jagung, dan tanaman-tanaman yang lebih adaptif dengan kondisi kekeringan. Tetapi untuk bagian utara akan lebih banyak dikembangkan untuk tanaman perkebunan, misalnya kakao, dan kemudian kelapa sawit.
Olehnya, saat ini diharapkan bukan hanya monokultur, tetapi di dalam pengembangan komoditi-komiditi tersebut, ada komoditi lainnya yang bersama-sama.
“Jadi tidak satu komoditi saja, tetapi akan dikembangkan integrated farming system. Bukan saja pertanian, tetapi juga ikut peternakan, perikanan, dan tentu saja dengan kehutanan, dengan konsep agroforestry. Saya kira tidak ada halangannya,” tegasnya.
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
Ia berharap, pelibatan dari akademisi ini tetap dikedepankan untuk memberikan masukan dalam mendorong pengembangan komoditi-komiditi tertentu, dengan konsep keberlanjutan.
“Kita memberikan masukan atau konsep berbasis ilmiah atau data, pemerintah yang mengambil kebijakan. Bahwa dengan konsep seperti ini kita tetap bisa menjaga keberlanjutan, dan mereka yang menentukan itu dengan keputusannya, dengan undang-undangnya atau dengan peraturan daerah dan sebagainya. Itu saja yang kita butuhkan dengan kolaborasi ini saling mendukung satu sama lain,” tutup Prof. Rismaneswati.
Wujudkan Perencanaan Pembangunan Berbasis Bukti
Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata menjelaskan, konferensi ilmiah yang dilaksanakan di Makassar merupakan lokasi kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Kota Kupang pada 16 September 2026 lalu.
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
“Pertemuan ini menjadi ruang diseminasi ilmiah untuk menghubungkan praktik di tingkat tapak dengan perencanaan di tingkat lanskap dan kebijakan daerah,” terangnya.
Konferensi terdiri atas sesi makalah paralel dalam empat tema, yaitu inovasi tapak, agroforestri, dan pertanian cerdas iklim; kelembagaan, gender, inklusi sosial, dan ekonomi komunitas; diversifikasi konsumsi, sistem pangan lokal, dan ketahanan gizi; serta tata kelola lanskap, pemetaan spasial, dan kebijakan.
Beberapa makalah ilmiah dikerjakan oleh peniliti, periset dari berbagai universitas dan instansi pemerintah di Indonesia. Mulai dari Universitas Muslim Indonesia, Unhas, Universitas Indonesia Timur, IPB Universty, Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa, Universitas Gadjah Mada, termasuk peneliti dari lembaga independen.
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
“Jadi konferensi hari ini mencoba untuk menghimpun itu semua dan menghubungkan dialog antara peneliti atau periset dengan pengambil kebijakan. Makanya, hadir dari pihak perguruan tinggi dan juga dari pemerintahan daerah,” ujarnya.
Selain itu, pertemuan ini juga untuk mewujudkan bagaimana agar perencanaan pembangunan berbasis bukti atau evidence based planning.
“Bagaimana menyediakan bukti itu, caranya seperti apa, kapan, waktu yang tepat, dan sebaiknya dibentuk dalam kemasan seperti apa, itu terkadang luput dari pembahasan. Sehingga konferensi hari ini mencoba untuk membangun komunikasi itu dengan menyajikan puluhan makalah ilmiah pada topik pangan untuk nantinya bisa menjadi perhatian dari pemerintah daerah,” jelasnya.
Baca Juga : Incar 3 Besar di Pemilu 2029, Pengurus Baru DPW dan DPD PAN se-Sulsel Dilantik Zulhas Besok
Lanjutnya, Simpul Pangan Nusantara merupakan bagian dari rangkaian penutupan kegiatan riset aksi Land4Lives dengan fokus pada ketahanan pangan dan gizi, yang telah dilaksanakan ICRAF bersama Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Bone sejak 2021. Proyek ini didukung oleh Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada.

Di tempat yang sama, Kepala Kerjasama Pembangunan Kanada, Global Affairs Canada, Alice Birnbaum mengaku, Pemerintah Kanada mendukung dalam banyak hal, terutama dalam hal ketahanan pangan dengan membawa pengetahuan-pengetahuan dan penelitian-penelitian dari Kanada.
“Pangan ini adalah masalah yang sangat penting, sehingga Pemerintah Kanada membawa dukungannya, terutama ke Sulawesi Selatan.
