Mantan Sekretaris Gerindra Sultra Tolak Hairul Saleh Jadi PAW Imran

0
Iskandar Kasim.

REPUBLIKNEWS.CO.ID, KENDARI – Polemik Pergantian Antar Waktu (PAW) Almarhum Drs. H. Imran, M.Si Anggota DPR RI dari Partai Gerindra daerah pemilihan Sulawesi Tenggara yang wafat beberapa waktu lalu terus bergulir.

Gelombang penolakan terhadap peraih suara terbanyak kedua Haerul Saleh, yang digadang-gadang sebagai calon pengganti antar waktu Almarhum Imran, tidak hanya disampaikan dari pihak eksternal, tetapi penolakan juga datang dari pihak internal Partai Gerindra.

Sekretaris Pimpinan Daerah SATRIA (Satuan Relawan Indonesia Raya) Gerindra Sultra, Iskandar Kasim, menilai Haerul Saleh tidak layak untuk menjadi calon PAW Almarhum ketua DPD Gerindra Sultra di DPR RI, mengingat Haerul Saleh Kata Iskandar, tidak memiliki kontrobusi yang nyata terhadap Partai Gerindra di sulawesi tenggara.

Mantan Sekretaris DPD Partai Gerindra Sultra, ini menceritakan bahwa selama Haerul Saleh menjabat sebagai anggota DPR RI periode sebelumnya, ia sudah memperlihatkan gelagat untuk membelakangi pengurus partai gerindra di Sultra. Sebagai buktinya kata Iskandar, sejak pendaftaran calon anggota DPR RI sampai pada pemelilhan hingga berakhirnya periode keanggotaanya di DPR RI, Haerul saleh tidak pernah menampakan diri di kantor DPD Partai Gerindra Sultra.

Bahkan kata Iskandar, dibeberapa kegiatan Rakornas di Hambalang maupun di kantor DPP Partai Gerindra yang dihadirinya, Haerul Saleh tidak pernah menyatuh dengan robongan Sultra bahkan cenderung menghindar.

“Jika ingin memastikan kebenarannya, silakan bisa ditanya pengurus-pengurus DPC maupun pengurus DPD Gerindra Sultra saat saya menjabat Sekretaris DPD” ujarnya Iskandar saat di konfirmasi via telepon selulernya, Kamis (09/04/2020).

Lebih lanjut Iskandar menjelaskan bahwa terpilih menjadi anggota DPR RI periode lalu, banyak kalangan yang mempertanyakan jumlah perolehan suara Haerul Saleh khususnya di wilayah Kabupaten Kolaka. Berdasarkan data-data yang dikumpulkan saat itu, Haerul Saleh di duga kuat melakukan penggelembungan suara, hingga posisinya dari pemenang suara kedua berubah menjadi pemenang suara pertama.

Dugaan penggelembungan itu selanjutnya di gugat di mahkama internal partai dan di DKPP. Dan berdasarkan hasil putusan sidang DKPP saat itu, 5 komisioner KPUD Kolaka si pecat. Sangsi pemecatan ini kata Iskandar adalah bukti nyata terjadinya permainan.

Dengan berbagai rekam jejak Haerul Saleh yang cenderung memanfaatkan partai Gerindra untuk kepentingan politik pribadi, maka mantan Sekretaris DPD Partai Gerindra Sultra ini menolak Haerul Saleh sebagai calon PAW H. Imran dan meminta kepada Ketua umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subiyanto untuk menegakkan AD dan ART Partai

“dengan tetap mempertimbangkan komitmen dan loyalitas kader yang senantiasa menjunjung tinggi manifesto perjuangan partai Gerindra,” lanjutnya.

Berdasarkan UU Pemilu nomor 7 tahun 2017, calon pengganti antar waktu diberikan kepada calon yang memperoleh suara terbanyak kedua, tetapi yang harus di pahami kata Iskandar, usul PAW bermula dari rekomendasi Partai yang ditujukam kepada pimpinan DPR RI untuk membuat usulan PAW ke pada KPU.

“Dan di dalam pasal 426 UU Pemilu tersebut secara tegas dikatakan bahwa usul PAW dilakukan apabila meninggal dunia, mengundurkan diri dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPR RI. Ini artinya bahwa partai punya ruang yang begitu besar untuk menyatakan seseorang memenuhi syarat atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota DPR sebagaimana di atur dalam AD ART Partai,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi atau tanggapan dari Haerul Saleh terkait penolakan sejumlah pengurus DPD Partai Gerindra. (Saddam)

Tinggalkan Balasan