0%
logo header
Kamis, 26 Februari 2026 01:23

Menikah Beda Budaya: Tak Cukup Bermodal Cinta

Rizal
Editor : Rizal
Penelaah Teknis Kebijakan Diskominfo-SP Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Khaeriah. (Foto: Istimewa)
Penelaah Teknis Kebijakan Diskominfo-SP Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Khaeriah. (Foto: Istimewa)

Oleh: Nurul Khaeriah (Penelaah Teknis Kebijakan Diskominfo-SP Provinsi Sulawesi Selatan)

Menikah sering disebut sebagai fase paling membahagiakan dalam hidup. Dua orang yang saling mencintai sepakat berjalan bersama, membangun rumah, dan menata masa depan.

Tapi bagaimana jika dua orang itu dibesarkan dalam budaya yang sangat berbeda? Yang satu tumbuh dalam keluarga besar yang hangat dan penuh kebersamaan, sementara yang lain terbiasa hidup mandiri dan menjaga jarak pribadi.

Baca Juga : OJK Tegaskan Debitur Pelaku Kejahatan Perbankan Bisa Dipidana

Sekilas, pernikahan beda budaya terdengar romantis. Ada cerita tentang pertemuan lintas negara, bahasa asing yang terdengar menarik, hingga bayangan kehidupan yang terasa unik dan berbeda dari kebanyakan orang.

Namun di balik romantisme itu, ada proses panjang yang jarang terlihat yakni proses belajar memahami dunia pasangan.

Antropolog Komunikasi, Edward T. Hall pernah menjelaskan bahwa sejak kecil kita sudah menyerap bahasa, aturan, dan norma tanpa benar-benar menyadarinya. Budaya membentuk cara kita berbicara, cara kita marah, cara kita menunjukkan kasih sayang, bahkan cara kita diam.

Baca Juga : PLN UPP Sulsel Berbagi Santunan bagi Anak Panti di Momen Ramadan

Maka ketika dua orang dari budaya berbeda menikah, yang bertemu bukan hanya dua individu, melainkan dua sistem nilai yang sudah mengakar sejak kecil.

Dalam konteks pernikahan campuran Indonesia dan Eropa, perbedaan itu sering terasa nyata. Banyak negara Eropa dikenal dengan budaya yang lebih individualis-mandiri, langsung dalam berbicara, dan terbiasa mengutamakan ruang pribadi.

Sementara Indonesia tumbuh dengan budaya kolektif keluarga besar dekat, urusan sering dibicarakan bersama, dan membantu kerabat dianggap sebagai kewajiban moral.

Baca Juga : Pimpin Konsolidasi Kader di Takalar, Syaharuddin Alrif Targetkan NasDem Tambah Kursi di Dapil Sulsel I

Tidak ada yang lebih benar atau lebih salah. Hanya berbeda. Perbedaan ini seringkali terasa indah di awal hubungan. Fase “bulan madu” membuat semuanya tampak menarik. Cara pasangan berbicara yang blak-blakan dianggap jujur. Kebiasaan keluarga yang ramai dianggap hangat. Ada rasa bangga karena menjalani hubungan yang unik.

Namun seiring waktu, realitas datang. Perbedaan bahasa mulai terasa menyulitkan. Cara mengatur keuangan bisa memicu perdebatan. Kebiasaan berkumpul dengan keluarga besar bisa membuat pasangan yang terbiasa privat merasa lelah. Bahkan hal-hal kecil seperti pola makan, waktu istirahat, atau cara beribadah bisa menjadi sumber gesekan.

Istilah culture shock yang diperkenalkan oleh Kalervo Oberg menggambarkan rasa tidak nyaman ketika seseorang memasuki budaya baru. Dalam pernikahan beda budaya, gegar budaya itu bisa muncul setelah pesta usai dan kehidupan nyata dimulai.

Baca Juga : Ini Profil Fadel Tauphan Anshar, Legislator DPRD Sulsel yang Kini Nakhodai KNPI Sulawesi Selatan

Ada rasa frustrasi, kecewa, bahkan sempat bertanya dalam hati: “Kenapa semuanya terasa lebih sulit dari yang saya bayangkan?”. Di titik inilah adaptasi menjadi kunci.

Menurut Young Yun Kim, adaptasi bukan proses instan. Ia adalah perjalanan panjang yang melibatkan pembelajaran, komunikasi, dan kesediaan untuk berubah. Adaptasi berarti mau belajar bahasa pasangan, walau terbata-bata. Berarti mencoba memahami mengapa pasangan membutuhkan ruang sendiri. Berarti menerima bahwa keluarga akan selalu menjadi bagian penting dalam hidup pasangan.

Adaptasi juga berarti menahan ego. Tidak semua pasangan langsung menemukan keseimbangan. Ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk benar-benar merasa nyaman. Ada yang masih berada pada tahap “belajar menerima” sambil sesekali tersandung konflik.

Baca Juga : Ini Profil Fadel Tauphan Anshar, Legislator DPRD Sulsel yang Kini Nakhodai KNPI Sulawesi Selatan

Namun pasangan yang berhasil biasanya memiliki satu kesamaan yakni mereka mau terus belajar satu sama lain. Dalam proses itulah lahir sikap saling menghargai warisan budaya masing-masing.

Mereka mulai menyadari bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan warna. Mereka belajar membangun pengertian satu sama lain. Pasangan yang terbiasa individualis mulai memahami pentingnya kebersamaan keluarga, sementara pasangan yang tumbuh kolektif mulai mengerti arti ruang pribadi.

Perlahan, konflik tidak lagi dipandang sebagai tanda kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses memahami. Pada akhirnya, pernikahan beda budaya mengajarkan satu hal penting: cinta memang alasan dua orang bertemu, tetapi adaptasi yang membuat mereka mampu bertahan.

Baca Juga : Ini Profil Fadel Tauphan Anshar, Legislator DPRD Sulsel yang Kini Nakhodai KNPI Sulawesi Selatan

Harmoni tidak datang dengan sendirinya. Ia dibangun dari percakapan yang jujur, kompromi kecil, dan kesediaan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Mungkin di situlah letak keindahannya. Bukan pada perbedaan yang terlihat mencolok, tetapi pada keberanian dua orang untuk terus belajar tentang bahasa, tentang kebiasaan, tentang cara berpikir, dan tentang hati satu sama lain. Karena dalam pernikahan lintas budaya, yang sesungguhnya dipersatukan bukan hanya dua negara, melainkan dua cara memandang dunia. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646