0%
logo header
Jumat, 02 Oktober 2026 11:05

Merawat Jejak Islam dalam Lembaran Alquran Kuno di Museum Balla Lompoa

Chaerani
Editor : Chaerani
Bentuk Alquran dengan usia ratusan tahun di menjadi salah satu koleksi di Museum Balla Lompoa. Koleksi ini menjadi sejarah warisan Islam di Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa)
Bentuk Alquran dengan usia ratusan tahun di menjadi salah satu koleksi di Museum Balla Lompoa. Koleksi ini menjadi sejarah warisan Islam di Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Lembaran kertas yang mulai menua dan rapuh menyimpan jejak panjang perjalanan Islam di Sulawesi Selatan. Di balik aksara Arab yang ditulis dengan tangan, tersimpan kisah tentang penyebaran agama Islam, tradisi intelektual ulama, hingga identitas keagamaan Kerajaan Gowa. Jejak sejarah itu kini terabadikan dalam sebuah mushaf Alquran kuno yang menjadi salah satu koleksi berharga Museum Balla Lompoa.

Mushaf berukuran sekitar 35 x 49 sentimeter tersebut diperkirakan berusia ratusan tahun. Kondisi fisiknya memperlihatkan usia yang tidak lagi muda. Lembaran-lembaran kertasnya tampak menua dan rapuh sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Kurator Museum Balla Lompoa, Andi Jufri Tenribali, menjelaskan bahwa mushaf tersebut bukan sekadar kitab suci, melainkan juga bukti perjalanan panjang Islam di Sulawesi Selatan.

Baca Juga : OJK Sulselbar Ajak Nelayan Untia Mampu Kelola Pendapatan Lebih Produktif

“Alquran ini bukan sekadar kitab suci, tetapi juga bukti perjalanan panjang Islam di Sulawesi Selatan. Selembar demi selembar, aksara Arab yang tertulis dengan tinta asli di atas kertas tua menjadi saksi bisu perkembangan agama Islam di wilayah ini,” jelas Jufri saat ditemui di Museum Balla Lompoa, kemarin.

Mushaf tersebut diperkirakan diselesaikan pada 1841 Masehi oleh Syekh Ahmad Umar, seorang ulama keturunan Bugis yang telah lama menetap di Mekkah. Keberadaannya menjadi salah satu penanda hubungan intelektual dan keagamaan antara ulama Nusantara dan Tanah Suci pada masa lampau.

Jufri menjelaskan, Syekh Ahmad Umar merupakan salah satu ulama keturunan Bugis yang memiliki kesempatan menulis mushaf Alquran di Mekkah. Naskah tersebut kemudian menjadi bagian dari warisan sejarah Islam yang tersimpan di Sulawesi Selatan.

Baca Juga : Kolaborasi Diskominfo-SP dan TP PKK Gowa Ajak Masyarakat Manfaatkan Layanan SP4N-LAPOR!

“Kita tahu bahwa ada ulama besar suku Bugis yang lama berada di tanah suci Mekkah. Beliau ini yang bernama Syekh Ahmad Umar berkesempatan menulis sebuah kitab suci mushaf Alquran ini, diselesaikan oleh beliau di tanah suci Mekkah,” ungkapnya.

Jejak Islam dalam Tradisi Kerajaan Gowa

Keberadaan mushaf Alquran kuno di Museum Balla Lompoa tidak dapat dilepaskan dari sejarah Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo. Pada masa kerajaan Islam, Alquran memiliki kedudukan penting, tidak hanya sebagai pedoman keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas spiritual kerajaan.

Menurut Jufri, kepemilikan mushaf Alquran merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang melekat pada kerajaan atau kesultanan Islam. Kehadirannya di lingkungan istana menjadi penanda bahwa ajaran Islam telah memperoleh tempat dalam kehidupan kerajaan.

Baca Juga : Diwakili Fatma Wahyuddin, Appi Jadi Bacalon Ketua Demokrat Sulsel Pertama yang Ambil Formulir

“Alquran itu kehadirannya variatif. Kita tidak tahu secara kebenaran kapan, tapi setiap kesultanan atau kerajaan harus memiliki mushaf Alquran. Di Kerajaan Gowa sendiri, sekalipun sudah menjadi kerajaan Islam, berarti sudah kesultanan, jelas harus memiliki identitas keagamaan secara resmi yaitu Alquran,” kata Jufri.

Mushaf tersebut sekaligus merekam tradisi literasi Islam pada masa ketika penyalinan kitab suci masih dilakukan secara manual. Setiap huruf ditulis dengan ketelitian tinggi menggunakan peralatan sederhana dan tinta yang dibuat dari bahan alami.

Proses penulisan mushaf menggunakan kalam, yakni alat tulis tradisional yang dibuat dari tulang daun lontar. Alat tersebut dicelupkan ke dalam tinta, kemudian digunakan untuk menorehkan aksara Arab pada lembaran kertas.

Baca Juga : Polres Bulukumba Dalami Kematian Terduga Pencuri Ponsel di Polsek Kajang, Autopsi Dilakukan

“Tulisan ditorehkan dengan tangan menggunakan tinta alami, yang hingga kini masih diteliti komposisinya,” jelasnya.

Ia mengatakan, proses penulisan mushaf membutuhkan waktu panjang dan ketelitian luar biasa. Penyalin harus memastikan setiap huruf ditulis dengan cermat karena kesalahan dalam proses tersebut dapat berakibat pada pengerjaan ulang.

Penulisan satu mushaf yang terdiri atas 30 juz bukan pekerjaan sederhana. Proses tersebut menuntut kemampuan, kesabaran, serta penguasaan yang baik dari seorang penulis. Tradisi penyalinan mushaf secara manual tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan keagamaan diwariskan melalui keterampilan menulis.

Baca Juga : Polres Bulukumba Dalami Kematian Terduga Pencuri Ponsel di Polsek Kajang, Autopsi Dilakukan

“Di tengah keterbatasan teknologi pada masa itu, para ulama turut berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi literasi Islam melalui penulisan kitab suci,” terang Jufri.

Merawat mushaf Alquran kuno membutuhkan pengetahuan khusus. Kondisi kertas yang semakin rapuh membuat naskah tidak dapat diperlakukan seperti buku pada umumnya. Setiap tindakan harus mempertimbangkan usia, karakteristik bahan, serta tingkat kerusakan yang telah terjadi.

Salah satu langkah yang diterapkan di Museum Balla Lompoa adalah memperhatikan sirkulasi udara pada tempat penyimpanan. Menurutnya, kondisi lingkungan penyimpanan perlu dijaga untuk mengurangi risiko kerusakan pada naskah.

Baca Juga : Polres Bulukumba Dalami Kematian Terduga Pencuri Ponsel di Polsek Kajang, Autopsi Dilakukan

“Kondisinya memang perlu perawatan. Caranya kita memelihara minimal adalah membuka pintu lemari supaya udara bisa sirkulasi. Kalau tidak begitu akan terjadi pengaruh, bisa rusak apalagi sudah ratusan tahun ini,” ungkapnya.

Meski demikian, perawatan mushaf kuno tidak dapat dilakukan sembarangan. Penanganan lebih lanjut tetap membutuhkan arahan dari tenaga konservasi yang memahami karakteristik bahan manuskrip. Hal ini penting agar upaya penyelamatan tidak memperparah kondisi kertas yang sudah rapuh.

Jufri menegaskan, keberadaan mushaf tersebut juga memiliki nilai spiritual bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat Makassar dan lingkungan istana yang menempatkan Alquran sebagai kitab suci yang dihormati.

Baca Juga : Polres Bulukumba Dalami Kematian Terduga Pencuri Ponsel di Polsek Kajang, Autopsi Dilakukan

“Ada orang spesialis dan layak dipercaya, karena ada satu sikap orang-orang Makassar, utamanya orang istana, sangat menghormati kitab suci tersebut. Maka perlu suatu sikap yang harus mempunyai keahlian. Kalau di sini, saya yang dipercaya,” tegasnya.

Melalui upaya pelestarian yang berkelanjutan, mushaf Alquran kuno di Museum Balla Lompoa diharapkan tetap terjaga sebagai sumber pengetahuan sejarah sekaligus warisan spiritual bagi generasi mendatang. Sebab, merawat lembaran-lembaran tua itu berarti menjaga ingatan tentang perjalanan Islam dan peradaban yang tumbuh di Sulawesi Selatan.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646