0%
logo header
Senin, 21 November 2022 15:18

Museum Balla Lompoa, Sarana Edukasi Sejarah dan Budaya Gowa bagi Pelajar

Mulyadi Ma'ruf
Editor : Mulyadi Ma'ruf
Museum Balla Lompoa Kabupaten Gowa yang terletak di Jalan KH. Wahid Hasyim, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu. (Foto: Chaerani / Republiknews.co.id)
Museum Balla Lompoa Kabupaten Gowa yang terletak di Jalan KH. Wahid Hasyim, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu. (Foto: Chaerani / Republiknews.co.id)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, GOWA — Mengajak pelajar berkunjung ke Museum Balla Lompoa atau belajar di museum menjadi upaya yang terus didorong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Gowa.

Keberadaan museum sebagai sarana edukasi sejarah dan budaya daerah perlu diperkenalkan ke generasi sejak dini. Tujuannya, sebagai upaya merawat sejarah dan budaya daerah agar tetap dikenal dan tak punah.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Kabupaten Gowa Ikbal Thiro mengatakan, gerakan mengajak pelajar ke museum ini untuk melestarikan budaya dan sejarah Kabupaten Gowa ke generasi dini dan milenial. Apalagi, hal ini juga menjadi program nasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dengan tagline Ayo ke Museum, Kenali Sejarahmu, Kenali Budayamu, dan Museum di Hatiku.

Baca Juga : Hadiri PAW Misbahuddin, Adnan: Pemerintah-DPRD Harus Jalin Kolaborasi

“Belajar di museum ini selain sebagai kegiatan rekreasi juga untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya yang ada. Apalagi di Gowa ini kan sebelumnya adalah daerah kerjaan, sehingga sangat penting untuk diketahui,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (21/11/2022).

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa Ikbal Thiro saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini. (Foto: Chaerani / Republiknews.co.id)

Dalam mendorong pelajar menjadikan museum sebagai pusat belajar sejarah dan budaya. Disparbud Gowa secara rutin mengundang pelajar tingkat SD dan SMP untuk datang ke Museum Balla Lompoa. Dengan belajar museum anak-anak dapat mengetahui keberadaan museum dan koleksi peninggalan sejarah dan kebudayaan Kerajaan Gowa.

“Setiap kegiatan itu kita mengundang 7 hingga 8 sekolah di Kabupaten Gowa yang setiap sekolah diwakili 5 orang siswa atau 40 siswa secara keseluruhan. Sementara dalam setahun kita laksanakan lima kegiatan, artinya dalam setahun kita mengajak sekitar 200 siswa belajar ke museum,” terangnya.

Baca Juga : PMD Gowa Dorong Peran Kades Maksimalkan Pengelolaan Pemerintahan

Ikbal mengungkapkan, realisasi program tersebut mulai berjalan sejak adanya dukungan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) non fisik Kemendikbud Ristek untuk biaya operasional museum sejak 2018 lalu. Di mana secara petunjuk teknis (juknis) anggaran yang dialokasikan mengalami peningkatan jumlah setiap tahunnya.

Ia menyebutkan, pada 2018 lalu anggaran yang dialokasikan sekitar Rp450 juta, kemudian pada 2019-2020 meningkat menjadi Rp600 juta, selanjutnya di 2021-2022 meningkat lagi menjadi Rp700 juta. Bahkan di tahun depan atau 2023 mendatang pihaknya masih akan menerima anggaran yang sama sesuai nomenklatur dan juknis yang ada. Jumlah anggarannya pun bertambah menjadi Rp800 juta.

“Allhamdullillah di 2023 nanti berdasarkan hasil standarisasi pihak Kemendikbud Ristek yang dilakukan beberapa bulan lalu itu berhasil menaikkan tipe Museum Balla Lompoa dari tipe C ke tipe B. Sehingga kita mendapatkan award tambahan anggaran di DAK Rp100 juta,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Tenriwati Tahri, saat memberikan sambutan pada kegiatan di Museum Balla Lompoa. (Dok. Instagram @museum.balla.lompoa)

Baca Juga : Market Day POS TKIT Afisgo, Jajakan Ragam Makanan dan Minuman Sehat

Untuk pengelolaan dana DAK non fisik ini dialokasikan untuk tiga kegiatan besar. Pertama, kegiatan pemeliharaan koleksi yang ada dalam museum sebesar 30 persen, kemudian kegiatan publik sebesar 50 persen, dan pemeliharaan sarana dan prasarana (termasuk tubuh museum) sebesar 20 persen.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Tenriwati Tahri mengatakan, mengajak seluruh pelajar pada jenjang pendidikan yang ada untuk memanfaatkan museum sebagai pusat belajar menjadi program prioritas yang dilakukan.

“Saat ini kami memang sangat gencar melakukan sosialisasi ke anak-anak sekolah agar mau datang belajar ke museum. Kita ingin anak-anak kita ini cinta dengan museum, karena disana banyak warisan sejarah dan budaya daerah mereka,” katanya.

Baca Juga : Integrasi Sistem Digital Didorong Pemkab Gowa Cegah Tindak Pidana Korupsi

Hal ini juga sebagai usaha dalam menumbuh kembangkan kembali minat para generasi muda serta masyarakat agar mengetahui sejarah dari para pejuang dan pendahulu.

“Kita berharap museum sebagai sesuatu representasi dari kesejarahan masa lalu dapat menarik generasi muda untuk mengetahui nilai-nilai historis dari suatu bangunan atau benda. Kita memiliki tiga Pahlawan Nasional sehingga daerah kita ini memiliki kisah sejarah yang sangat berharga dan kesemuanya biasa kita ketahui di Museum Balla Lompoa ini,” jelasnya.

  • Gandeng Mitra hingga Massifkan Sosialisasi Ajakan ke Museum
Sejumlah siswa tingkat SD saat meramaikan lomba mewarnai yang digelar Disparbud Gowa di Museum Balla Lompoa. (Dok. Instagram @museum.balla.lompoa)

Ikbal Thiro mengungkapkan, selain mengundang pelajar tingkat SD dan SMP. Disparbud Gowa juga menggandeng mitra atau lembaga pendidikan, di antaranya Lembaga Citra Muda (LCM) Rajawali dan Lembaga Bina Muda (LBM) Pandawa Makassar untuk aktif membawa pengunjung atau pelajar dari luar Kabupaten Gowa berkunjung ke Museum Balla Lompoa.

Baca Juga : Integrasi Sistem Digital Didorong Pemkab Gowa Cegah Tindak Pidana Korupsi

“Pelajar dari Makassar itu biasanya di bawah oleh lembaga study tour dari Rajawali dan Pandawa. Mereka kalau datang membawa pelajar itu sekitar 300 hingga 400 orang,” terangnya.

Pelajar yang dibawah dari luar Kabupaten Gowa pun bukan hanya dari Kota Makassar tetapi dari kota lainnya. Seperti, Kabupaten Maros, Kota Palopo, Kota Parepare, bahkan ada dari Mamuju, Majene dan lainnya.

Kunjungan siswa SMA Negeri 4 Parepare di Museum Balla Lompoa beberapa waktu lalu. (Dok. Instagram @museum.balla.lompoa)

“Sejak adanya bantuan dana DAK ini kami melihat progres, termasuk selama pandemi Covid-19 saat aktivitas mulai di longgarkan itu terjadi peningkatan kunjungan ke museum yang naiknya luar biasa,” katanya.

Baca Juga : Integrasi Sistem Digital Didorong Pemkab Gowa Cegah Tindak Pidana Korupsi

Disebutkan, Disparbud Kabupaten Gowa menargetkan angka kunjungan ke Museum Balla Lompoa itu sekitar 13 ribu pengunjung dalam setahun. Tetapi, data terakhir per Oktober 2022 kunjungan ke Museum Balla Lompoa tercatat sebanyak 24 pengunjung.

“Kunjungan yang pesat ini tidak terlepas dari program mengajak pelajar ke museum. Disini kita memang menggandeng dinas pendidikan untuk memberikan kebijakan bagaimana setiap sekolah itu memiliki program belajar ke museum,” jelas Ikbal.

  • Museum Jadi Lokasi Seminar hingga Lomba Kebudayaan
Kunjungan mahasiswa pertukaran mahasiswa dari Universitas Hasanuddin Makassar di Museum Balla Lompoa belum lama ini. (Dok. Instagram @museum.balla.lompoa)

Selain menjadi pusat belajar sejarah dan budaya, keberadaan Museum Balla Lompoa juga dijadikan sebagai pusat kegiatan atau perlombaan yang bertema budaya atau seni.

Baca Juga : Integrasi Sistem Digital Didorong Pemkab Gowa Cegah Tindak Pidana Korupsi

Beberapa kegiatan yang diantaranya, seminar dengan tema sejarah Salokoa, lomba karya tulis ilmiah dengan tema nilai-nilai koleksi Balla Lompoa, dan seminar terkait isu-isu budaya yang hampir punah.

“Kemudian kegiatan lainnya untuk mengedukasi Ayo ke Meseum itu dengan mengadakan kegiatan berupa seminar-seminar budaya yang temanya memang di ambil sesuai isi dan koleksi yang ada di Museum Balla Lompoa sendiri dan ataupun isu-isu budaya lainnya. Tujuannya agar budaya itu tetap bisa diketahui para generasi di masa mendatang,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa Ikbal Thiro.

Kunjungan siswa SD Al-Fityan Gowa di Museum Balla Lompoa belum lama ini. (Dok. Instagram @museum.balla.lompoa)

Tak hanya itu, di Museum Balla Lompoa juga aktif menggelar kegiatan lainnya untuk memfasilitasi pelajar tingkat TK dan SD seperti lomba mewarnai dengan tema Museum Balla Lompoa. Selanjutnya lomba yang menyasar masyarakat umum dan pelajar SMP, seperti lomba Angngaru’, lomba pidato dengan menggunakan bahasa daerah, lomba menulis tentang koleksi di museum dengan menggunakan bahasa lontara dan permainan rakyat seperti A’Longga

Baca Juga : Integrasi Sistem Digital Didorong Pemkab Gowa Cegah Tindak Pidana Korupsi

“Tujuan utama dari program ini memang bagaimana memperkenalkan dan melestarikan budaya permainan rakyat yang ada di Gowa sejak dulu dan sekarang ini,” terangnya lagi.

Penulis : Chaerani
Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi.republiknews1@gmail.com atau Whatsapp +62 813-455-28646