OPINI: Menyambut Tahun Baru dengan Euforia dan Spritual

  • Bagikan

Oleh: Acang Saliwu (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — Dipenghujung Desember tahun 2019, disemua penjuru dunia menyambut tahun baru 2020 sebagai momentum kebahagiaan dimana mereka masih diberi kesehatan dan umur panjang bagi mereka yang masi menikmati tahun baru yang sebentar lagi akan datang.

Sorak gembira dalam penyambutanya dirangkaikan dengan banyaknya ragam aktivitas manusia sebagai bentuk kebahagiaan atau kesempatan mereka agar dapat membenah segala perbuatan yang harus dibenah serta perbuatan kebaikan dipertahankan dan dikembangkan, harapanya agar mereka dapat manfaatkan sisah hidup yang masih ada. Ragam sorak gembira meraka dalam penyambutanya dibarengi dengan letupan letupan mercun diatas udara sembari menyaksikan keindahan disetiap letupan mercun dengan membiaskan kembang api disetiap letupan letupanya.

Entah mengapa disetiap pergantian tahun aktifitas pembakaran mercun telah menjadi budaya masyarakat diseantero dunia. Misalkan saja indonesia..mayoritas masyarakatnya bersorak gembira bersama letupan mercun di udara. Uniknya Dalam penyambutan tahun baru 2020 yang sebentar lagi akan tibah saya menyaksikan selain dari pada pembakaran mercun ada sebagian orang pergi ketempat tempat suci untuk bermunajat kepada sangkhalik agar mereka senantiasa diberihkan umur panjang dan menginsyafi segalah perbuatan perbuatan buruk ditahun tahun sebelumnya.

Tidak hanya bermunajat ketempat tempat suci akan tetapi mereka juga melakukan aktifitas religiusitas dengan mengadakan proses pengajian bersama, seraya bershalawat kepada Rasuwlallah sebagai pemandu umat islam kejalan yang lurus dan benar. Aktivitas pembakaran mercun dan shalawat serta bermunajat yang berbeda pulah terlihat dan terdengar bersamaan dalam penyambutan tahun baru 2020.

Aku hanya berfikir bahwa apa sebenarnya esensi dari penyambutan tahun baru tersebut? Sebab dengan melihat sorak gembira yang begitu beragam seperti apa yang telah saya urai diatas kebanyakan orang hanya sekedar sorak gembira belaka, bukanya bersyukur atas kesempatan hidup yang diberikan kepeda semua manusia yang masi sehat wal’afiat dengan cara-cara yang islamik, maksud saya cara-cara yang islamik adalah suatu aktivitas pengajian, shalawat, belajar dan meminta maaf serta terimakasi atas kesempatan atau kenikmatan hidup yang kita masi dapatkan.

Harapan saya bahwa disetiap penyambutan tahun baru kedepanya agar menyambutjya dengan hal hal yang tidak hanya kenikmatan dunia malainkan suatu kenikmatan dunia dan kahirat. Sebab setiap yang hidup pasti akan kembali pada sang penciptanya oleh karena itu maka kita haru lebih banyak berbuat hal hal yang bermanfast untuk diri dan orang orang yang ada disekitar kita.

Sebagai manusia mahkluk sosial layaknya membangun interaksi yang progresif dalam hal ini dapat mengembangkan kualitas pengetahuan serta amal jariah kita selaku umat yang beragama. Manusia yang mulaia adalah manusia yang ihklas membantu antara sesamanya tanpa memandang dari segi budaya, suku, ras dan agama. Gusdur perna mengatakan bahwa ketika ada orang berbuat baik maka kita tidak mesti menanyakan apa agamanya.

  • Bagikan