OPINI: Tradisi Kasebu VS Globalisasi

  • Bagikan

Oleh: Adry Setiawan Abdul Majid (Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Alauddin Makassar)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — Globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan insfrastruktur transportasi dan telekomonukasi, termaksud kemunculan telegraf dan internet, merupakan faktor utama dalam mendorong saling ketergantungan aktivitas ekonomi dan budaya.

George Ritzer menyimpulkan bahwa globalisasi sebagai sebuah proses yang melibatkan tumbuhnya arus manusia, benda, tempat, dan informasi ke berbagai arah serta struktur yang dijumpai dan dapat menciptakan hambatan maupun percepatan. Selanjutnya, Antony Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut mengambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali. Globalisasi menurutnya salah satu proses radikalisasi dan universalisasi nilai-nilai modernitas peradaban barat ke seluruh penjuru dunia,yang kemudian berkembang menjadi modernitas global. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial, globalisasi menurutnya adalah sebuah istilah menyeluruh untuk berbagai proses yang berada di jantung ekonomi global, yaitu pasar global secara instan.

Rosenberg menilai globalisasi sebagai sebuah kondisi atau hasil dari proses-proses kultural, politik, dan ekonomi, seperti imprealisme dan post-feodalisme. Sehingga dapat diartikan bahwa globalisasi merupakan project akal licik Negara adikuasa yang ingin mengendalikan semuanya dari budaya sampai ekonomi setiap Negara. Salah satu ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi dunia yaitu adanya pasar besar-besaran yang mengakibatkan ekonomi di dunia menjadi sangat bergantung pada Negara adikuasa, senada dengan yang dimaksud oleh Rosenberg yaitu Imperealisme dan Post-Feodalisme. Tak terkecuali Indonesia, salah satu Negara yang menjadi korban kekejaman Negara adikuasa yang dibalut dalam semangat globalisasi.

Indonesia sendiri dikenal dengan Negara yang memiliki budaya terbanyak di dunia yang terbentang dari merauke hingga sabang. Yang memiliki budaya dan kearifan lokal yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral dan norma-norma yang bernilai tinggi. Nilai-nilai itu menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat, menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi dengan alam, memberi landasan yang kuat bagi pengelolaan lingkungan hidup, menjadikan hubungan antara manusia dengan alam menjadi lebih harmonis sebagai sesama makhluk hidup. Sehingga kondisi alam dan sumberdaya dapat terjaga keseimbangannya.

Demikian pula halnya dengan masyarakat “Rumpun Wasilomata” yang secara umum masih satu kesatuan dengan sistem sosial budaya kesultanan Buton sehingga wajar bila, nilai-nilai tradisi dan budaya sangat kental mewarnai pola kehidupan dan interaksi sehari-hari masyarakat desa Wasilomata. “Rumpun Wasilomata” merupakan satu simpul ikatan persaudaran yang melembaga dalam kerukunan adat. Letaknya berada di Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tetapi keanggotaannya telah mencapai ribuan meliputi semua perantau asal desa Wasilomata yang tersebar di berbagai pelosok tanah air.

Salah satu produk budaya yang menjadi kearifan tersendiri bagi desa Wasilomata dan dilestarikan keberlangsungnya hingga sekarang adalah tradisi Kasebu (Pesta Rakyat). Kasebu ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada Allah Swt telah melampangkan rezeki melalui hasil panen melimpah yang didulang oleh masyarakat setempat. Karena itulah, setiap tahun menjelang musim panen, ritual Kasebu yang dirangkaian dengan berbagai pesta adat lainnya diselenggarakan oleh masyarakat bersama pemangku adat desa Wasilomata. Selain itu prosesi Kasebu juga menjadi ruang silaturahim seluruh masyarakat rumpun wasilomata baik yang menetap di desa maupun yang berada di perantauan sebab prosesinya mengharuskan para perantau untuk pulang ke desa sekadar memeriahkan dan melangsungkan upacara adat bersama.

Sebagai sebuah sistem sosial budaya yang mengikat dan mengatur perilaku kehidupan masyarakat, ritual adat Kasebu telah memberikan sumbangsih yang penting bagi terciptanya keharmonisan hidup masyarakat desa Wasilomata, memberikan serta mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Oleh karenanya, keberlangsungan tradisi ini mestinya harus tetap terjaga. Akan tetapi gempuran zaman yang membawa nilai-nilai peradaban barat hingga ke segenap sendi-sendi kehidupan rupanya semakin mencekik dan mengancam eksistensi tradisi ini, perubahan cara berpikir dan sikap, serta nilai-nilai yang ada dalam masyarakat akibat konstruksi budaya barat lambat laun akan mengikis setiap kearifan lokal yang terdapat pada masing-masing daerah.

Pengaruh budaya barat berjalan sangat cepat dan menyeluruh, tentunya hal ini akan berdampak pada perubahan sistem sosial dan budaya masyarakat Indonesia terkhusus masyarakat Rumpun Wasilomata sendiri sehingga dapat terjadi goncangan sosial atau culture shock yaitu suatu keadaan dimana masyarakat tidak mampu menahan berbagai gempuran kebudayaan yang datang dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan di dalam kehidupan kelompok masyarakat.

Budaya barat yang masuk menimbulkan multi efek, perkembangan teknologi tanpa disadari secara perlahan telah menggerogoti kebudayaan yang ada di Rumpun Wasilomata, terlebih wabah atau virus ini menular hampir ke seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali pemuda. Pemuda yang dianggap sebagai pelanjut tonggak estafet untuk menjaga eksistensi dan melanjutkan budaya leluhur justru menjadi momok yang menakutkan mengancam keberlangsungan kebudayaan, dan mengakibatkan terjadinya degradasi yang sangat luar biasa terhadap kebudayaan asli yang disebabkan oleh budaya barat.

Oleh karena itu, kiat untuk bagaimana kemudian menjaga eksistensi kebudayaan asli tetap eksis, diperlukan sebuah Sistem Pendidikan Modern berbasis Kebudayaan yang dibangun sejak Sekolah Dasar untuk mengenalkan mereka bagaimana pentingnya melestarikan adat istiadat dan budaya daerah sebagai jati diri atau identitas suatu bangsa. Dalam prakteknya Sistem Pendidikan Modern Berbasis Kebudayaan berupa optimalisasi mata pelajaran yang dapat mengembangkan dan merawat kearifan lokal dan budaya, seperti Mata Pelajaran Muatan Lokal yang lebih memfokuskan pada pengenalan bahasa daerah. Sebagai contoh misalnya yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bone, langkah ini dipercaya dapat membentengi generasi penerus bangsa dari gempuran globalisasi yang kian meronrong peradaban bangsa. Langkah ini sangat efektif jika Sistem Pendidikan Modern Berbasis Kebudayaan ini diterapkan dalam kurikulum pendidikan yang dikemas dalam sebuah Peraturan Daerah, guna merawat budaya dan kearifan lokal yang ada di Buton Tengah, dan mengelaborasikan dengan semangat modernisme.

Apalagi, bangsa ini tengah mempersiapkan diri menuju Era Revolusi Indistri 4.0 yang semua lini aktivitas manusia ditentukan oleh teknologi, sehingga penting menerapkan Sistem Pendidikan Modern Berbasis Kebudayaan.

Sebenarnya, hal ini jauh lebih dulu menjadi perhatian Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yang mengatakan “Pendidikan dan Pengajaran di dalam Republik Indonesia harus berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia, menuju ke arah kebahagiaan batin serta keselamatan hidup lahir”. Karena beliau paham, bahwa Negara ini berdiri tidak terlepas dari intervensi keragaman budaya. Seperti yang dikatakan Founding Father Bangsa Indonesia Ir. Soekarno yang ditulis oleh Yudi Latief dalam buku Negara Paripurna yaitu “ Kemanusiaan Yang Berkebudayaan”.

  • Bagikan