Pelaku Ilegal Fishing di Perairan Mawasangka Dibebaskan, Ini Penjelasan Kapolsek

0
Kapolsek Mawasangka, Ipda La Ode Rachmat.

REPUBLIKNEWS.CO.ID, BUTON TENGAH –  Penangkapan terhadap Ilegal Fishing (penggunaan pukat trawl) oleh masyarakat dan Pemerintah Desa Terapung, kecamatan Mawasangka, Buton Tengah (Buteng) Sulawesi Tenggara (Sultra), beberapa waktu lalu yang disinyalir bebaskan, diduga ada permainan oknum Polisi ditepis oleh Kapolsek Mawasangka, Ipda La Ode Rachmat.

“Siapa yang lepas? laporan saja tidak ada yang masuk. saya dihubungi oleh Kades (Kepala Desa Terapung) saat itu untuk melakukan pengamanan, jangan sampai ada kekerasan oleh warga,” kata La Ode Rachmat saat dihubungi republiknews.co.id, melalui telepon selulernya, Jumat (29/05/2020).

Usai mendapat informasi, Ia (Ipda La Ode Rachmat) langsung memerintahkan anggotanya untuk turun cepat kelokasi bersama Babinsa desa Terapung. Setibanya di lokasi seluruh warga dan perangkat desa sudah berkumpul dan telah selesai bermusyawarah.

“Jadi saat anggota tiba di lokasi, seluruh kesepakatan sudah selesai. Anggota hanya menyaksikan saja bersama Babinsa,” ucapnya.

Lebih lanjut Rachmat menuturkan bahwa, apa yang menjadi kecurigaan masyarakat terkait pukat trawl tidak benar. Semua perkara pukat itu sudah diselesaikan oleh pemerintah desa bersama aparatnya.

“Anggota saya datang, semua sudah selesai diatur oleh Desa. Perlu diketahui juga bahwa kades itu di tunjuk oleh DKPP Provinsi untuk menjadi pengawas perikanan dan itu ada SK nya, selain itu dia juga dilengkapi speed boad untuk melakukan monitoring di desanya,” ungkapnya.

Sehingga, ketika nelayan yang hendak melakukan penangkapan ikan menggunakan trawl oleh pemerintah desa diarahkan ke darat untuk diberi pengarahan.

“Dari keterangan Kepala Desa bahwa ada 6 orang nelayan asal Tapi-Tapi mau menangkap ikan menggunakan pukat trawl. Sebelum menjaring mereka sudah ditangkap oleh nelayan dan dilaporkan ke Kades, jangan sampai mereka dipukuli. Buntutnya mereka dibawa kedarat untuk diberi arahan,” bebernya.

Diketahui, hingga saat ini pihak kepolisian tidak mendapat salinan perjanjian damai antara nelayan pukat trawl dan pemerintah Desa Terapung. Pemerintah Desa pun tidak pernah menyerahkan hal itu kepihak kepolisian untuk ditindaklanjuti sebagai kasus hukum.

Selain itu, menurut informasi yang dihimpun, 6 orang nelayan asal Tapi-Tapi tersebut yang ditangkap oleh pebagang belum sempat menangkap ikan di perairan desa Terapung Kecamatan Mawasangka. (Dzabur Al-Butuny)

Tinggalkan Balasan