17 Panitia Diksar KPA Sangkar Luwu Timur Ditetapkan Tersangka, Kapolres: Masih Ada Tersangka Lain

  • Bagikan
Kapolres Luwu Timur AKBP Indratmoko, menggelar konferensi pers penetapan 17 Panitia Diksar KPA Sangkar sebagai Tersangka, Jumat (19/03/2021).

REPUBLIKNEWS.CO.ID, LUWU TIMUR- Kepolisan Resor (Polres) Luwu Tmur menggelar Press Release penyidikan kasus Tindak pidana penganiayaan  terhadap 14 peserta Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Kelompok Pecinta Alam (KPA) Sanggar Kreatif Anak Rimba (Sangkar) yang mengakibatkan salah satu peserta meninggal dunia.

Press Release tersebut dipimpin Kapolres Luwu Timur AKBP Indratmoko, didampingi Wakapolres Luwu Timur Kompol Muh Rifai, bersama Kasat Reskrim Iptu Eli Kendek, yang berlngsung di Halaman Mako Polres Luwu Timur, Jumat(19/03/2021).

Kapolres Luwu Timur AKBP Indratmoko menjelaskan, kejadian tersebut bermula pada hari rabu tanggal 9 maret 2021 sekitar pukul 14.00 WITA dan hari rabu tanggal 10 maret 2021 sekitar pukul 00.00 sampai dengan 02.00 WITA yang berlokasi di Desa Batu Putih, Kecamatan Burau, Luwu Timur.

‘’Polres Luwu Timur sudah menetapkan 17 tersangka dari 21 orang panitia, dari 17 tersangka terdiri 10 orang dewasa dan 7 anak yang dimana 7 anak ini terdiri dari 2 wanita dan 5 laki laki dan untuk penyidikan masih akan terus berlanjut dan masih ada beberapa lagi yang akan menjadi tersangka karna sekarang kami masih melakukan pemeriksaan,’’ kata AKBP Indratmoko.

Untuk korban sendiri, tambah Indratmoko, berjumlah 14 orang terdiri dari 3 orang dewasa yang salah satunya korban meninggal dunia atas nama MR umur 17 tahun dan untukk 11 orang lagi terdiri dari anak dibawah umur. Pasal yang akan di terapkan pada tersangka kasus tindak pidana penganiayaan tersebut.

‘’Untuk pasal yang akan kami terapkan kepada tersangka yakni pasal 170, 351, 359 Jo 55, 56 KUHP dan pasal 80 UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun kemudian ada 4 orang lagi yang akan kami ambil keterangan tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi tersangka,” jelas Indratmoko.

Lanjut Indratmoko, untuk kronologisnya sendiri pada saat pelaksanaan pendidikan dasar tersebut para peserta ini ada suatu momen peserta dibariskan atau dijejerkan kemudian para senior ini melakukan pemukulan, pemukulan ini meliputi tamparan, memukul beberapa bagian tubuh korban sehingga salah satu korban meninggal dunia.

“Ada juga korban yang lain mengalami luka lebam dan juga ada yang mengalami pendarahan ditelinga dan kami juga sudah melaksanakan koordinasi dengan pihak rumah sakit untuk melakukan visum dan penyidikan lebih lanjut akan kami sampaikan,’’ tutup Indratmoko. (Asril)

  • Bagikan