REPUBLIKNEWS.CO.ID, LINGGA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Hingga pertengahan September 2026, luas lahan yang terdampak karhutla di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 400 hektare.
Data tersebut merupakan akumulasi penanganan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lingga sejak 14 Agustus hingga 15 September 2026. Sejumlah titik masih membutuhkan penanganan, termasuk di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur.
Kondisi karhutla di Lingga terjadi di tengah peningkatan titik panas secara nasional. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Minggu (20/9/2026) pukul 23.59 WIB terdeteksi 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia.
Baca Juga : Kapolres Lingga, AKBP Apri Fajar Hermanto Terima Penghargaan Bergengsi Maharaja Kutai Mulawarman
Angka tersebut meningkat 209 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.323 hotspot. Kementerian Kehutanan menyebut Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi wilayah yang mendapat perhatian dalam penguatan operasi penanganan karhutla.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menjelaskan data tersebut tidak dapat secara langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
“Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” katanya.
Baca Juga : Kebaya masuk Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, Pemkab Lingga Turut Andil Dalam Melestarikan
Menurut Ristianto, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pemeriksaan di lapangan dan kondisi aktual di lokasi.
Api Masih Berkobar di Desa Kudung
Di Kabupaten Lingga, penanganan karhutla dilakukan tim gabungan yang melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri dan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Lingga, Oktanius, menyebut akumulasi luas lahan yang terdampak karhutla sejak 14 Agustus hingga 15 September 2026 mencapai sekitar 400 hektare.
Baca Juga : DPRD Lingga Umumkan Pengunduran Diri Wakil Bupati dan Anggota DPRD Lingga
“Berdasarkan data BPBD, akumulasi luas lahan yang terdampak karhutla sejak 14 Agustus hingga 15 September 2026 mencapai sekitar 400 hektare,” kata Oktanius, Jumat (18/09/2026).
Selain Desa Kudung, titik api juga dilaporkan ditemukan di kawasan Sungai Besar, Kecamatan Lingga Utara. Sementara di Kecamatan Singkep, hujan lebat membantu memadamkan sejumlah titik api yang sebelumnya terbakar.
Penanganan di Desa Kudung menghadapi sejumlah kendala, antara lain medan yang sulit, jarak sumber air, vegetasi dengan pohon tinggi serta keterbatasan alat.
Baca Juga : Roadshow ke Seluruh Kecamatan KNPI Lingga dan PP Lingga Berbagi
Tim juga melakukan penyekatan, pendinginan dan upaya membuat jalur untuk mengisolasi api agar tidak merambat ke area lain.
Pemerintah Kabupaten Lingga juga telah menaikkan status penanganan bencana dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat Bencana Karhutla sejak 11 September 2026. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat mobilisasi bantuan logistik dan dukungan lintas sektor.
Pemerintah Kerahkan Puluhan Pesawat
Penanganan karhutla juga dilakukan secara nasional melalui operasi darat dan udara. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat dan 54.394 personel gabungan sejak Agustus 2026.
Baca Juga : Roadshow ke Seluruh Kecamatan KNPI Lingga dan PP Lingga Berbagi
Sebanyak 55 pesawat BNPB dan sembilan pesawat TNI dikerahkan untuk mendukung operasi water bombing. Sementara personel gabungan terdiri dari TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat.
“Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla,” kata Teddy.
Pemerintah menyebut luas wilayah serta kondisi lahan gambut yang sulit menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Operasi pemadaman dan pencegahan perluasan api terus dilakukan melalui pengerahan kekuatan darat maupun udara.
