0%
logo header
Sabtu, 07 November 2026 14:58

Kinerja Industri Perbankan Nasional Masih Solid, Penyaluran Kredit Meningkat

Chaerani
Editor : Chaerani
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. (Dok. Istimewa)
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. (Dok. Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Kinerja intermediasi perbankan nasional tetap terjaga solid pada September 2026, didukung pertumbuhan kredit yang mencapai 13,26 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Di tengah pertumbuhan tersebut, profil risiko perbankan juga tetap terkendali dengan tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa penyaluran kredit perbankan pada September 2026 mencapai Rp9.245 triliun. Meski tumbuh positif, angka tersebut sedikit melambat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 13,65 persen secara tahunan.

Baca Juga : Dukung Penguatan Sistem Kelistrikan Sulbagsel, Pemkab Buton Tengah Hibahkan Lahan untuk PLTS Komunal

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 23,20 persen yoy. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 11,89 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi meningkat 4,86 persen yoy.

Sementara berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 21,31 persen yoy. Adapun kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melanjutkan tren peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 2,68 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 2,32 persen yoy.

“Pertumbuhan kredit perbankan ini didukung penyaluran kredit bank badan usaha milik negara (BUMN) yang tumbuh sebesar 14,78 persen yoy,” katanya, dalam keterangan resminya, kemarin.

Baca Juga : DM Optimis Kontingen Gowa Masuk 10 Besar Porprov Sulsel XVIII

Di sisi lain, penyaluran kredit Buy Now Pay Later (BNPL) juga masih menunjukkan pertumbuhan. Per September 2026, baki debet kredit BNPL yang dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mencapai Rp31,50 triliun atau tumbuh 26,68 persen yoy. Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 29,10 persen yoy.

Secara bulanan atau month to month (mtm), kredit BNPL tumbuh 0,27 persen dengan jumlah rekening mencapai 34,5 juta, meningkat dari 34 juta rekening pada Agustus 2026. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tercatat sebesar Rp10.492 triliun atau tumbuh 8,22 persen yoy. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 10,94 persen yoy.

“Berdasarkan jenis simpanan, giro mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 12,64 persen yoy. Sementara itu, tabungan tumbuh 9,08 persen yoy dan deposito meningkat 3,78 persen yoy,” jelas Dian.

Baca Juga : Konsen Majukan Pendidikan, DM Terima Anugerah Adhiwidya PNFI Indonesia

Dirinya juga menyoroti kondisi likuiditas perbankan yang masih berada pada level memadai. Hal tersebut tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) yang mencapai 105,7 persen pada September 2026, meningkat dibandingkan Agustus 2026 sebesar 102,3 persen.

Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga meningkat menjadi 24,1 persen dari sebelumnya 23,0 persen. Kedua indikator tersebut masih berada jauh di atas ambang batas (threshold) masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.

Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 181,91 persen. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 187,07 persen. Dari aspek kualitas aset, kondisi kredit perbankan juga menunjukkan perkembangan positif.

Baca Juga : Perkuat Penegakan Hukum, OJK Beri Sanksi 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal

“Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,07 persen, membaik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,11 persen,” jelasnya.

Begitu pula dengan NPL net yang turun menjadi 0,82 persen dari sebelumnya 0,84 persen. Sementara rasio Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,50 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 8,56 persen.

Pada aspek profitabilitas, tingkat pengembalian aset atau Return on Assets (ROA) perbankan tetap stabil di level 2,43 persen.

Baca Juga : Perkuat Penegakan Hukum, OJK Beri Sanksi 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal

Ketahanan industri perbankan nasional juga ditopang oleh tingkat permodalan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 24,30 persen pada September 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 24,10 persen.

“Dengan capaian tersebut, industri perbankan nasional masih memiliki bantalan permodalan yang memadai untuk memitigasi berbagai potensi risiko serta mendukung keberlanjutan fungsi intermediasi,” tegas Dian.

Secara keseluruhan, perkembangan indikator perbankan pada September 2026 menunjukkan bahwa fungsi intermediasi tetap berjalan dengan baik. Pertumbuhan kredit yang masih berada pada level dua digit, likuiditas yang memadai, kualitas kredit yang terjaga, serta permodalan yang kuat menjadi penopang ketahanan industri perbankan nasional.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646