0%
logo header
Jumat, 06 November 2026 14:31

Periode Oktober 2026, OJK Catat Penambahan Investor Baru Pasar Modal Capai 1,38 Juta

Chaerani
Editor : Chaerani
Ilustrasi pasar modal. (Dok: Istimewa)
Ilustrasi pasar modal. (Dok: Istimewa)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif.

Sepanjang Oktober 2026, jumlah investor baru bertambah sebanyak 1,38 juta secara month to month (mtm). Peningkatan tersebut sejalan dengan berbagai inisiatif pendalaman pasar serta penguatan ekosistem digital di industri pasar modal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menyampaikan bahwa pertumbuhan investor tersebut turut mendorong peningkatan jumlah investor pasar modal secara keseluruhan.

Baca Juga : Dukung Penguatan Sistem Kelistrikan Sulbagsel, Pemkab Buton Tengah Hibahkan Lahan untuk PLTS Komunal

“Dengan penambahan tersebut, secara year to date (ytd), jumlah investor di pasar modal Indonesia tumbuh signifikan sebesar 64,75 persen menjadi 33,55 juta investor,” terangnya, dalam keterangannya, kemarin.

Selain pertumbuhan jumlah investor, likuiditas perdagangan di pasar saham juga menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pasar saham yang mencapai Rp16,31 triliun pada Oktober 2026, meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar Rp14,94 triliun. Sementara itu, secara ytd, RNTH pasar saham mencapai Rp20,34 triliun.

Aktivitas perdagangan saham pada Oktober 2026 masih didominasi oleh investor domestik. Kontribusi investor ritel atau individu tercatat sebesar 47,69 persen, menurun dibandingkan September 2026 sebesar 54,70 persen. Sementara itu, kontribusi investor institusi meningkat menjadi 16,23 persen dari sebelumnya 11,96 persen.

Baca Juga : DM Optimis Kontingen Gowa Masuk 10 Besar Porprov Sulsel XVIII

“Adapun rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik pada Oktober 2026 tetap terjaga pada level 1,52 persen, dibandingkan 1,20 persen pada September 2026,” ujar Hasan.

Di sisi lain, minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap dan berbagai produk investasi juga masih terjaga. Investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan net buy sebesar Rp9,55 triliun secara mtm pada Oktober 2026. Kondisi ini berbalik dibandingkan September 2026, ketika investor asing membukukan net sell sebesar Rp0,34 triliun.

Sementara itu, aliran dana investor asing di pasar Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) korporasi juga mencatatkan net buy sebesar Rp0,43 miliar secara mtm. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan September 2026 yang mencapai net buy sebesar Rp0,91 triliun.

Baca Juga : Konsen Majukan Pendidikan, DM Terima Anugerah Adhiwidya PNFI Indonesia

Sejalan dengan perkembangan pasar, OJK juga terus mendorong pengembangan produk investasi guna memperluas alternatif investasi bagi masyarakat. Salah satunya melalui instrumen Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang resmi diluncurkan pada 10 Agustus 2026.

“Hingga 30 Oktober 2026, tercatat sebanyak tujuh produk ETF Emas telah diterbitkan oleh tujuh Manajer Investasi, dengan total dana kelolaan mencapai Rp110,26 miliar,” terangnya.

Ia menambahkan, perkembangan positif lainnya juga terlihat pada sektor keuangan derivatif. Sejak 10 Januari 2025 hingga 30 Oktober 2026, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK.

Baca Juga : Kinerja Industri Perbankan Nasional Masih Solid, Penyaluran Kredit Meningkat

Adapun volume transaksi keuangan derivatif pada Oktober 2026 tercatat sebanyak 46.065 lot secara mtm. Dengan demikian, akumulasi volume transaksi selama periode Januari hingga Oktober 2026 mencapai 441.636 lot secara ytd.

Secara umum, Perkembangan pasar modal Indonesia pada Oktober 2026 menunjukkan dinamika dan tingkat tekanan yang cukup tinggi, meskipun fungsi intermediasi pasar modal tetap berjalan dengan baik.

“Dari sisi penawaran, korporasi masih aktif memanfaatkan pasar modal sebagai sumber penghimpunan dana. Sementara dari sisi permintaan, basis investor domestik terus bertumbuh dan aktivitas transaksi tetap terjaga,” jelas Hasan.

Baca Juga : Kinerja Industri Perbankan Nasional Masih Solid, Penyaluran Kredit Meningkat

Kemudian, animo korporasi domestik untuk melakukan penghimpunan dana melalui Penawaran Umum sampai dengan akhir Oktober 2026 masih cukup tinggi. Total nilai Penawaran Umum secara ytd telah mencapai Rp209,77 triliun, terdiri dari 7 Penawaran Umum Saham Perdana (IPO), 20 Penawaran Umum Terbatas (PUT), 11 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang atau Sukuk (EBUS), dan 141 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.

Sementara pada pipeline, terdapat 26 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp24,46 triliun. Realisasi penawaran umum hingga akhir tahun dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti dinamika pasar, minat investor, serta pertimbangan emiten dalam menentukan momentum penerbitan dan biaya pendanaan.

“OJK terus mencermati perkembangan tersebut dan mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan, dengan tetap mengedepankan kualitas keterbukaan informasi dan pelindungan investor,” jelasnya.

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646