0%
logo header
Jumat, 30 Oktober 2026 22:34

Kisah Laut yang Berakhir di Laut

Rizal
Editor : Rizal
Dosen Teknologi Pendidikan UNM, Sofyan Basri. (Foto: Istimewa)
Dosen Teknologi Pendidikan UNM, Sofyan Basri. (Foto: Istimewa)

Oleh: Sofyan Basri (Dosen Teknologi Pendidikan UNM)

Laut tenggelam di laut adalah kalimat yang ganjil. Laut, nama seorang manusia, berakhir di laut, sebuah tempat yang tak pernah benar-benar menyimpan jejak. Tubuhnya dirantai. Nyawanya dirampas. Dan, orang-orang yang menenggelamkannya berharap bahwa bersama tubuh itu, akan tenggelam pula ingatan tentang dirinya.

Tetapi kekuasaan seringkali keliru. Ia mengira bahwa menghilangkan manusia sama dengan menghilangkan cerita tentang manusia itu. Laut justru terus bercerita.

Baca Juga : Resmi Nakhodai PSTI Sulsel, Sufriadi Arif Targetkan Sepak Takraw Sulsel Bangkit

Ia hidup dalam novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori. Dan, kisah itu memperoleh tubuh yang lain melalui film layar lebar garapan Yosep Anggi Noen. Sebuah cerita tentang anak-anak muda yang membaca buku, mendiskusikan gagasan, mempertanyakan kekuasaan, lalu menghadapi sesuatu yang mengerikan: negara takut kepada pikiran warganya sendiri.

Pada awal Oktober lalu, dalam sebuah perkuliahan, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tampaknya sederhana. “Mengapa sulit berpikir kritis?”

Saya mencoba menjawabnya. Salah satu musababnya, kata saya, karena kita semakin jauh dari buku. Kita kehilangan kebiasaan membaca, sementara Laut dan kawan-kawannya justru berani membaca buku ketika kekuasaan melarangnya.

Baca Juga : Sistem Manajemen Mutu PPDP OJK Kantongi Sertifikasi ISO 9001:2015

Jawaban itu terasa cukup saat disampaikan. Tetapi setelahnya, saya mulai meragukannya.

Benarkah kesulitan berpikir kritis hanya karena kurang membaca? Bukankah kampus dipenuhi buku, jurnal, perpustakaan, dan orang-orang berpengetahuan? Mengapa dari tempat yang akrab dengan pengetahuan, keberanian untuk bertanya tidak selalu tumbuh?

Mungkin persoalannya bukan hanya karena mahasiswa kurang membaca. Mungkin ada sesuatu yang lebih dalam, jangan-jangan pendidikan kita hanya mengajarkan cara menjawab pertanyaan dan tidak berani mempertanyakan jawaban.

Baca Juga : SIBF BI Sulsel Berhasil Wadahi Rp9,64 Triliun Investasi, Bukukan Ekspor Rp818,5 Miliar

Di ruang kelas, mahasiswa dibiasakan mencari jawaban yang sesuai dengan kehendak dosen. Dalam ujian, kebenaran sering kali ditentukan oleh kunci jawaban. Sementara, dalam kehidupan sosial, kepatuhan seringkali lebih dihargai daripada keberanian berbeda pendapat.

Barangkali kampus memang berhasil mengajarkan pengetahuan, tetapi tidak berhasil membebaskan pikiran. Dan, bukankah itu sesuatu yang ironis?

Pendidikan seharusnya membebaskan manusia, justru menjadi tempat manusia belajar untuk tunduk, patuh, menengadah dan menjilat.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Pada akhir perkuliahan itu, saya mengajak mahasiswa menonton Laut Bercerita. Sebagian menyambutnya dengan antusias karena mengetahui film itu melalui media sosial. Kami lalu berjanji menonton bersama pada 29 Oktober, ketika film itu mulai diputar di bioskop.

Sayangnya, rencana itu gagal. Tiket habis terjual. Saya sendiri hanya berhasil mendapatkan satu tiket setelah mencarinya melalui dua telepon genggam. Tempat duduk yang tersisa pun cukup menggelikan: di antara dua pasangan kekasih.

Siang itu, selepas azan zuhur, saya berangkat dari rumah saya di Antang menuju Mall Panakkukang, Makassar. Sebuah tempat dimana orang mencari kesenangan, juga menjadi arena pemutara kisah tentang kekerasan politik. Menyaksikan penderitaan manusia yang dulu disembunyikan dari pengetahuan publik.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Saya tidak tahu apakah penuhnya kursi bioskop menandakan tumbuhnya kesadaran sejarah, atau sekadar keberhasilan sebuah karya memasuki kebudayaan popular, atau mungkin keduanya.

Tetapi setidaknya, kisah tentang Laut kembali menemukan orang-orang yang bersedia mendengarkannya.

Sebelum masuk studio, saya memotret tiket dan mengunggahnya ke status WhatsApp. Saya menambahkan sebuah pertanyaan: “Apakah setegang bukunya?” Sebuah pertanyaan yang ternyata terlalu saya sederhanakan.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Sebab, setelah film dimulai, saya menyadari bahwa yang sedang saya saksikan bukan semata-mata ketegangan sebuah cerita. Ada sesuatu yang sangat mengganggu: bagaimana kekuasaan menganggap pikiran sebagai ancaman, dan bagaimana manusia kehilangan rasa kemanusiaan ketika kekerasan dilakukan atas nama ketertiban.

Sejak adegan penangkapan Laut di sebuah rumah susun di Jakarta, ketegangan itu dibangun. Reza Rahadian menghadirkan Laut dengan ekspresi dan gerak tubuh yang membuat kecemasan terasa begitu dekat.

Tokoh-tokoh lain pun memperoleh kehidupannya di layar. Kinan, Bram, Anjani, Daniel, Alex, dan kawan-kawannya tidak sekadar hadir sebagai nama dalam kisah perlawanan. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki persahabatan, keyakinan, ketakutan, sekaligus keberanian.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Dian Sastrowardoyo sebagai Kinan, Yunita Siregar sebagai Asmara, Eva Celia sebagai Anjani, serta Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara sebagai orang tua Laut, memberi dimensi emosional yang penting bagi cerita.

Namun, kekuatan film ini tidak terletak pada keberhasilannya menghadirkan kembali tokoh-tokoh dalam novel. Tapi, kekuatan itu hadir ketika kekerasan yang digambarkan melalui kalimat-kalimat Leila berwujud visual yang nyata.

Dalam novel, pembaca bisa berhenti pada sebuah kalimat, lalu mengimajinasikan ketegangan dan kengeriannya. Sementara film, seperti bekerja dengan caranya sendiri. Ia memberikan kita visual ekspresi, tubuh, suara, dan kesunyian.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Meski demikian, tidak semua adegan mempunyai kekuatan yang kuat. Pada aksi tanam jagung, misalnya, saya kira belum sepenuhnya menghadirkan keluasan konteks dalam novel.

Namun, film tentu bukan novel. Keduanya memiliki bahasa yang berbeda. Barangkali, justru di situlah menariknya, punya kekuatan baru yang pada sisilain kehilangan kedalaman.

Saya teringat kembali pada pertanyaan mahasiswa di ruang kelas. “Mengapa sulit berpikir kritis?”

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Dalam kisah Laut dan kawan-kawannya, membaca bukan sekadar memindahkan isi buku ke dalam kepala. Membaca ialah pintu masuk menuju kesadaran, bahwa dunia tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.

Dari buku, lahir sebuah gagasan. Dari gagasan, akan membangun percakapan. Dari percakapan, akan lahir kenyataan yang dipertanyakan. Dari pertanyaan itulah tumbuh sebuah gerakan.

Di sisi lain, kekuasaan yang takut dipertanyakan punya cara menghentikan percakapan, ia punya segala bentuk instrumennya.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Buku dilarang. Diskusi diawasi. Pertemuan dibubarkan. Aktivis ditangkap. Tubuh disiksa. Bahkan manusia dihilangkan.

Yang hendak dihentikan bukan sekadar kegiatan membaca atau berkumpul. Tapi, lahirnya manusia-manusia yang tidak bersedia menerima ketidakjujuran dan ketidakadilan sebagai kewajaran.

Di sinilah Laut Bercerita melampaui kisah tentang kelompok aktivis pada masa kekuasaan otoriter. Buku dan film ini mengajukan pertanyaan yang masih relevan: mengapa kekuasaan kerap merasa terancam oleh kebebasan berpikir?

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Memang masa lalu dan masa kini tidak bisa disamakan. Rezim politik berubah. Begitu juga mekanisme kekuasaan. Tapi, pemberangusan kebebasan sipil, kriminalisasi, intimidasi terhadap suara kritis dan pembatasan ruang diskusi harus mendapat perhatian.

Pemilu itu hanya bagian kecil dari demokrasi. Itu bukan pokok ukuran. Demokrasi harus diuji melalui kemanan seseorang menyatakan pendapat yang berbeda. Terutama dari arus informasi kekuasaan.

Negara bisa saja memiliki lembaga-lembaga demokrasi, tapi pada saat yang sama memelihara benih otoriter dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Di kantor, bawahan takut mengkritik atasannya. Di sekolah, murid enggan mempertanyakan gurunya. Di kampus, mahasiswa diam ketika berhadapan dengan dosen yang selalu merasa benar.

Kekuasaan, tidak hanya bekerja melalui lembaga negara. Ia juga hadir dalam hubungan-hubungan kecil keseharian. Bahkan mungkin, kita sendiri pernah menjadi bagian?

Sebagai dosen, saya bisa dengan mudah mengajak mahasiswa mengagumi keberanian Laut. Tetapi apakah saya memiliki keberanian untuk menerima kritik terhadap cara saya mengajar? Apakah saya memberi ruang untuk menyanggah pendapat saya?

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Barangkali berpikir kritis memang tidak cukup diajarkan melalui buku. Ia harus dialami sebagai kebebasan. Dan, kebebasan mesti dimulai dari ruang paling dekat dengan keseharian kita.

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah kalimat yang terus hidup dalam percakapan tentang sastra dan kekuasaan: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Saya kira, Leila S. Chudori memahami betul kemungkinan yang terkandung dalam kalimat itu.

Melalui Pulang, Laut Bercerita, dan Namaku Alam, ia mengajak pembaca memasuki bagian sejarah Indonesia yang menyimpan luka. Sejarah yang tidak selalu ada dalam percakapan resmi, tetapi terus hidup dalam ingatan korbannya.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Harus diakui, sastra tidak mampu mengembalikan orang-orang yang telah dihilangkan. Ia juga tidak bisa menggantikan penyelidikan, pengadilan, dan tanggung jawab negara terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Tapi sastra dapat melakukan sesuatu yang lebih penting: menolak manusia dilupakan. Melalui sastra, korban tidak hanya tercatat dalam statistik. Ia memiliki nama, wajah, keluarga, persahabatan, dan masa depan.

Kita mengenal Laut bukan hanya sebagai aktivis yang mengalami kekerasan. Kita mengenalnya sebagai anak, saudara, sahabat, dan manusia yang memiliki harapan.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Maros Makin Cakap Kelola Keuangan

Karena itulah, ketika Laut dirantai dan tenggelam, laut menerimanya dalam cerita ombak yang tak pernah putus dan batu karang yang terus tumbuh yang terasa bukan sekadar hilangnya seorang tokoh dalam cerita. Ada kehidupan yang diputus secara paksa. Ada keluarga yang hidup dalam ketidakpastian. Ada masa depan yang tidak pernah jadi nyata. (*)

Redaksi Republiknews.co.id menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp +62 813-455-28646