OPINI: Corona, Bukankah Sebuah Karma?

  • Bagikan

Oleh: M. Dahlan Abubakar (Penulis Buku)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — Laporan terakhir menurut siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Pro-3 Jakarta, Senin (10/02/2020) siang menyebutkan, jumlah korban meninggal akibat virus Corona di Wuhan Tingkok sudah mencapai angka 900. Angka ini belum termasuk sedikitnya 50.000 orang lainnya yang terdeteksi terjangkit virus mematikan itu. Virus yang disebut-sebut pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan Cina itu, kini telah mewabah hingga ke Jepang, Korea, Amerika Serikat, Malaysia hingga ke Singapura.

Tim Kesehatan dari Klinik Pratama Kartika-28 Wonogiri 31 Januari 2020 mengungkapkan sejumlah fakta menarik tentang penyebaran Pnemunia Virus Corona. Dokter Candra Ayu yang tampil selaku narasumber menyampaikan, serangan Virus Corona sudah masuk ke beberapa negara di dunia.

“Virus Corona pada mulanya merupakan virus yang menginfeksi antarhewan, namun virus ini telah berevolusi dan menyebar ke dan dapat menginfeksi manusia, dengan gejala awal batuk, pilek, kelelahan, demam hingga sesak napas,” ucap Candra Ayu.

Berdasarkan informasi dari Komisi Kesehatan Nasional Cina, kata dia sebagaimana diberitakan media daring, virus tersebut memiliki kemiripan seperti virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS) yang dapat mengakibatkan kematian penderitanya.  

Dokter Candra mengutip dari Web MD, Coronavirus sebetulnya virus umum yang kebanyakan tidak berbahaya. Virus Corona menginfeksi hidung, sinus, dan tenggorokan bagian atas. Meski begitu, infeksi beberapa jenis Virus Corona ternyata bisa berdampak serius.

Virus sejenis ini telah mengakibatkan 585 kematian akibat  MERS, yang muncul pertama kali pada 2012 di Arab Saudi. Sebelumnya pada 2003, corona virus menyebabkan 774 kematian akibat  SARS.

Pada akhir Januari 2020, WHO mengindentifikasi 2019-nCoV di Cina dan ada sekitar 300 kasus yang teridentifikasi di Cina. Tiap negara telah menyiapkan upaya pencegahan dan pengamanan, namun virus corona tetap mampu menyebar ke seluruh dunia.

“Virus Corona pertama kali diidentifikasi pada 1960, namun tidak diketahui asal virusnya. Nama corona virus berasal dari bentuknya yang mirip mahkota. Pada beberapa kasus, virus ini bisa menginfeksi hewan dan manusia,” kata dia.

Kebanyakan virus tersebut menyebar seperti virus influenza pada umumnya. Coronavirus menyebar melalui batuk dan bersin mereka yang terinfeksi.

Dokter Li Wenliang yang pertama kali mengungkap adanya wabah virus corona di Wuhan, meninggal dunia akibat terjangkit virus mematikan itu. Kepolisian China pernah menuduh Dr Li menyebarkan informasi palsu soal virus corona.

Berita kematian dokter berusia 34 ini sempat simpang-siur, setelah pertama kali dilaporkan Kamis sore (6/2). Pihak Rumah Sakit Pusat Wuhan kemudian mengoreksinya dan menyebutkan jantung Dr Li berhenti berdetak pada pukul 9:30 malam. Sebelumnya Dr Li sudah mendapat perawatan dan dalam kondisi kritis. Pihak rumah sakit mengkonfirmasikan kematian Dr Li di jejaring sosial Weibo, Jumat pagi (7/2).

“Dia meninggal pada pukul 02:58 pagi tanggal 7 Februari 2020, setelah gagal diselamatkan sepenuhnya,” katanya.

Bukankah Karma?

Sepanjang  tahun 2019 Tiongkok tak berhenti dengan berita yang cukup viral. Penduduk muslim Indonesia pernah memprotes negara tirai bambu itu atas perlakuan yang dinilai di luar batas kemanusiaan atas kelompok etnis muslim Ulghur. Kaum muslim Indonesia yang mendesak pemerintah Presiden Joko Widodo mengajukan protes atas perlakuan itu berdalih, mencegah mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.

Di penghujung tahun 2019, Indonesia pun direpoti oleh ulah beberapa kapal Penjaga Pantai Tiongkok yang mengawal kapal-kapal nelayan mereka yang menangkap ikan di sekitar Kepulauan Natuna yang diklaim Indonesia sebagai wilayah yang masuk dalam Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia. Kapal penjaga pantai Tiongkok yang bandel itu memancing TNI Angkatan Laut terpaksa mengirim beberapa unit armada Kapal Republik Indonesia (KRI) ke sana. Meskipun beberapa KRI sudah muncul, kapal-kapal asing tersebut tetap cuek meninggalkan wilayah ZEE Indonesia.

Menyikapi dua kondisi ini, Indonesia memilih menyelesaikan permasalahnya secara damai sebagai dua negara yang bersahabat. Namun tidak demikian dengan publik Indonesia yang ingin memperoleh langkah nyata pemerintah terhadap sejumlah aksi-aksi negara komunis itu. Masyarakat inu jauh hari sebelumnya sudah gerah dengan informasi adanya banjir tenaga kerja Tiongkok yang menyerbu Indonesia, mengikuti perusaan negara mereka yang melaksanakan berbagai proyek di Indonesia.

 Kini muncul lagi kasus virus corona yang mematikan itu.  Korban terus berjatuhan di Tiongkok, khususnya di Wuhan, tempat virus itu pertama ditemukan. Hingga saat ini baru dua orang yang diketahui meninggal dunia akibat virus itu di luar negeri, yakni masing-masing seorang di Filipina dan Hong Kong.

Kasus virus Corona ini cukup mengkhawatirkan karena penyebarannya yang sangat mudah. Hanya melalui bersin dari pasien teridentifikasi virus Corona, manusia lain dapat terjangkiti. Oleh sebab itu, di mana-mana kita menyaksikan orang mengenakan masker. Akibatnya, harga masker pun naik berlipat-lipat. Ya, berlaku hukum ekonomi, meskipun pada msa-masa yang sangat memprihatinkan.

Memperhatikan sejumlah kasus yang terjadi akibat ulah Tiongkok tersebut, saya akhirnya sampai pada simpulan dan asumsi. Bukankah ini sebuah karma. Sebab pasti banyak orang yang merasa terzalimi akibat ulah negara itu, terutama mereka yang termasuk etnis minoritas Ulghur yang muslim itu. Bukankah doa orang yang terzalimi itu pasti diijabah oleh Allah swt sebagaimana Hadis Riwayat Bukhari yang artinya berbunyi  “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.”

  • Bagikan