OPINI: Di Enam Dasawarsa, Tetap Katakan “Saya PMII”

  • Bagikan

Oleh: Falihin Barakati (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII)

REPUBLIKNEWS.CO.ID, — Dulu. Pada 17 April 1960. Di Kota Pahlawan, Surabaya. Sebuah organisasi kemahasiswaan Islam yang berhaluan Ahlusunnah Wal Jama’ah dilahirkan. Organisasi ini menjadi wadah bagi mahasiswa nahdliyin untuk berproses dan menempa diri untuk menjadi pembela bangsa dan penegak agama.

Tiga belas orang mahasiswa nahdliyin menjadi tim pendiri. Mereka adalah Cholid Mawardi (Jakarta), Said Budairy (Jakarta), M. Sobich Ubaid (Jakarta), M. Makmun Syukri (Bandung), Hilman (Bandung), Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nahrawi (Yogyakarta), Nuril Huda Suady (Surakarta), Laily Mansur (Surakarta), Abd. Wahab Jailani (Semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Cholid Narkubo (Malang) dan Ahmad Husain (Makassar). Organisasi ini kemudian diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang disingkat PMII.

Sudah enam dasawarsa PMII ada, masih ada saja beberapa kader organisasi mahasiswa sebelah yang saya temukan menyebut PMII dengan nama “pe em sebelas”. Aneh. Ingin rasanya saya juga menyebut nama salah satu organisasi dengan nama “ha em satu”. Tapi gak usah. Itu tidak baik. Penyebutan seperti itu tidak hanya merusak makna tetapi juga bisa memalsukan sejarah. Saya tidak diajarkan untuk seperti itu. Saya tidak ingin menjadi seperti apa yang disebut Mahbub Djunaidi bahwa “setolol-tolol orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah, dan sehina-hina orang ialah mereka yang memalsukan sejarah”. Jadi gak usah balas merusak, tetapi tetap katakan, “saya PMII bukan pe em sebelas” 

Sudah berkhidmat hingga enam dasawarsa, terkadang ada juga yang menyebut PMII tidak mandiri. Terikat oleh NU. Ada di bawah kontrol NU. Underbow NU. Tidak seperti organisasi mahasiswa yang lain yang berdiri sendiri. Tidak usah berkecil hati. Pemikiran itu tidak benar semua. Hanya ada dua alasan mengapa ada orang yang menyebut seperti itu. Pertama, organisasi yang melahirkan organisasi kemahasiswaannya tidak jelas. Kedua, organisasi yang melahirkan organisasi kemahasiswaanya sudah bubar atau dibubarkan karena bermasalah.

PMII jelas dilahirkan dari rahim NU. NU adalah orang tua bagi PMII. Kita mesti bangga dan bersyukur orang tua kita (NU) masih ada hingga saat ini bahkan menjadi organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Banyak waktu dan kesempatan bagi kita kader-kader PMII untuk mengabdi pada orang tua kita NU. Bahkan PMII masih membiarkan kader-kader organisasi kemahasiswaan lain yang sudah tidak memiliki orang tua untuk mengabdi ke NU. Ya, hitung-hitungan PMII dapat saudara angkat. NU tetap menjadi orang tua yang baik, tidak hanya pada anaknya PMII tetapi juga kader-kader organisasi lain yang mau di-NU-kan dan mau mengabdi ke orang tua kita. Jadi gak usah dibalas, apalagi menolak mereka bernaung pada orang tua kita NU. Tetap katakan, “Saya PMII lahir dari rahim NU”.

Sejak dilahirkan hingga di usianya di enam dasawarsa ini, PMII terus tumbuh dan berkembang. Sekalipun bukan merupakan organisasi mahasiswa ekstra kampus tertua di Indonesia, tetapi PMII telah menjadi organisasi mahasiswa terbesar dengan jumlah struktur cabang (kabupaten/ kota) dan koordinator cabang (provinsi) terbanyak yang tersebar di seluruh Indonesia. Tercatat ada 236 pengurus cabang dan 25 pengurus koordinator cabang. Tapi lantas, kita jangan terlalu bangga dengan jumlah yang banyak. Karena sejatinya kuantitas yang banyak akan menjadi bumerang bagi organisasi jika tanpa dibarengi kualitas yang mempuni dan tidak dikelola dengan kepemimpinan organisasi yang kuat. 

Sampai enam dasawarsa, PMII juga telah melahirkan banyak alumni. Mereka telah tersebar di berbagai ruang-ruang aktualisasi dan pengabdian baik itu di politik, pemerintahan, birokrasi maupun ruang-ruang lainnya. Yaa, sekalipun tak sehebat HMI yang kini menguasai ibu kota dimana Gubernur dan wakil Gubernur DKI adalah alumni HMI. Juga ketua MPR RI adalah alumni HMI. Soal ini kita harus angkat topi. Kita masih sangat lemah dalam diaspora dan distribusi alumni, apalagi dalam hal politik. Kita tidak boleh malu belajar pada HMI.

Soal ini saya teringat sebuah cerita lucu alias joke dari Gus Dur. Ia pernah ditanya perbedaan HMI dan PMII. Kata Gus Dur, kalau HMI mampu menghalalkan segala cara, sedangkan PMII tidak tahu caranya. Kira-kira seperti itu. Tapi di kondisi ini tetaplah bangga dan katakan, “saya PMII berkhidmat untuk negeri”

Sekarang, PMII sudah memasuki usia enam dasawarsa. 60 tahun PMII telah berkhidmat untuk negeri. Baik khidmat secara organisasi, atau khidmat kader maupun alumni kepada negeri. Setiap era telah dilalui, dari era Orde Lama, Orde Baru hingga era Reformasi. PMII selalu bergerak sesuai dengan konteks zamannya. Pun kini di era globalisasi. Atau era disrupsi. Anak kekinian juga menyebutnya sebagai era milenial. Tentu tantangan-tantangan zaman selalu berbeda dan berubah-ubah.

Kini tantangan sudah semakin kompleks dengan perubahan-perubahan yang begitu cepat. Kristeva (2016) menyebutnya sebagai Tsunami Globalisasi. Menurutnya transformasi yang berjalan cepat dan kompleks ini akan berubah menjadi bencana jika kita gagal memahami logika dan arahnya, kemudian merancang langkah dan strategi, agar bukan hanya  mampu menghindar gelombang globalisasi, namun juga mampu memanfaatkan potensi globalisasi. Saya meyakini, PMII sebagai organisasi kader sudah cukup dewasa di usianya enam dasawarsa untuk siap dan menyiapkan diri menghadapi berbagai tantangan dan perubahan zaman.

Namun di tengah khidmat kita untuk negeri. Di tengah upaya kita menghadapi tantangan zaman. Kita mesti tetap berpegang teguh pada tujuan PMII yang telah ditetapkan para pendiri PMII di 60 tahun lalu yaitu “terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur ….” (kader atau alumni saya yakin pasti bisa melanjutkannya).

Selamat hari lahir ke-60 untuk PMII. Terus berkhidmat untuk negeriku. Panjang umur pergerakanku. Tetap bangga menjadi anak PMII. Sampai di enam dasawarsa ini, tetap katakan, “Saya PMII”.(*)

  • Bagikan